Faiza Mardzoeki

Nama :
Faiza Hidayati Mardzoeki
 
Lahir :
7 Februari 1972
 
Pendidikan :
English Literature and Film History, University of Sydney Center for Continuing Education, Australia (2005)
 
Aktifitas Lain :
Pendiri dan Penggagas
 Insitut Ungu,
Direktur Program
Aktivis LSM,
Produser dan Penulis Naskah Pertunjukan Teater,
Anggota Dewan Kesenian Jakarta (2013-2015)
 
Pertunjukan Teater yang di Produseri :
Perempuan di Titik Nol (2003),
Nyai Ontosoroh (2007),
Perempuan Menuntut Malam (2008)
 
 
 
 
 
 
 


Penggiat Teater
Faiza Mardzoeki
 
 
 
Dilahirkan 7 Februari 1972. Menyelesaikan studi di English Literature and Film History University of Sydney Center for Continuing Education di tahun 2005. Dikenal sebagai aktivis perempuan sejak tahun 1994. Pernah bekerja di LSM Solidaritas Perempuan selama 6 tahun, menangani masalah buruh migran. Mulai aktif menulis artikel tentang perempuan, film dan teater serta menekuni dunia penulisan drama dan skenario film sejak tahun 2002. Menjadi penggagas dan produser pertunjukan teater Perempuan di Titik Nol yang merupakan adaptasi dari novel karya feminis Mesir Nawal El Saadawi di tahun 2002. Pementasan ini mendapat liputan media yang sangat luas dan ditonton tidak kurang dari 2000 orang.
 
Tahun 2003, menjadi Direktur Program Pusat Seni Budaya Perempuan (Institut Ungu) yang dididrikannya bersama beberapa kawan aktivis. Dibulan April, ditahun yang sama, melalui Institut Ungu, ia menjadi inisiator sekaligus koordinator program sebuah festival perempuan yang meliputi festival sastra, senirupa dan diskusi publik yang diselenggarakan di TIM selama 3 minggu berturut-turut. Memproduksi dan menulis naskah pertunjukan teater Nyai Ontosoroh, yang di adaptasi dari novel Bumi Manusia karya sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Pementasan ini juga sukses di tonton ribuan orang dan mendapat liputan media yang sangat luas pada 2007 lalu.
 
Bersama Rieke Diah Pitaloka, tahun 2008, ia menulis dan memproduksi monolog Perempuan Menuntut Malam, yang menampilkan Niniek L. Karim, Rieke Diah Pitaloka dan Ria Irawan. Monolog ini menceritakan kegelisahan tiga perempuan Indonesia tentang, cinta, rumah, seks, politik dan kekuasaan. Selain ditampilkan di TIM, pementasan monolog ini juga dipentaskan di Bandung dan Banda Aceh
 
Di kancah internasional, ia juga sering mengikuti berbagai seminar dan event film dan teater. Antara lain di Afrika Selatan, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Phillipina. Tahun 2004, aktif di Amnesty Internasional, Perth, Australia dan pada tahun 2005, ia menyelenggarakan festival kecil Film Indonesia di Perth dan Sydney, Australia. Tahun 2006, menjadi koordinator juri kompetisi penulisan skenario teater yang diselenggarakan oleh Justice for The Poor.
 
Tulisan-tulisan esainya tentang buruh migran, isu perempuan, teater dan film banyak dimuat oleh The Jakarta Post dan Sinar Harapan  
 (Dari Berbagai Sumber) 

You may also like...