Farida Oetoyo

Nama :
Farida Oetoyo
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah,
7 Juli 1939
 
Wafat :
Jakarta, 18 Mei 2014
 
Pendidikan :
Fine Art of Movement, (Singapura),
Akademi Balet Bolshoi
(Rusia, 1961-1965),
Royal Academy of Dance  Canberra (Australia)
 
Pencapaian:
Gelar Artist of Ballerina dari Akademi Balet Bolshoi, Rusia,
Beasiswa dari Fulbright untuk memperdalam ilmu tari di
 New York, Amerika Serikat
 (1973-1974),
Karyanya ‘Tok’ mendapatkan Special Mention Prize di International Academy di Cologne, Jerman (1986)
Anugerah Indonesian Dance Festival (2012),
Anugerah Tanda Kehormatan Kelas Satyalancana Kebudayaan dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata (2014) (2014
 
Karier :
Penari di Amsterdan based Ballet der Lage Landen
(1956-1958),
Penari di Akademi Balet Bolshoi, Rusia,
Pendiri Sekolah Tari Nritya Sundara (1957),
Pendiri Sekolah Ballet Sumber Cipta (1976),
Pengarah Artistik di Kreativitat Dance Indonesia,
General Manager Gedung Kesenian Jakarta (1987-2001)
 
Karya :
Angels in Colour (1959),
Loro Jonggrang,
Rama & Shinta,
Gunung Agung Meletus,
Balet Carmina Burana,
Putih-Putih,
Putih Lagi,
Putih Kembali,
Daun Pulus,
Maniera,
Pilihan Sinta,
Perjalanan 20 Detik,
Koreografi untuk film Liku-Liku Panasnya Cinta (1976),
TOK (1986),
Burung-Burung (2001)
 
Filmografi :
Laruik Sandjo (1960),
Apa yang Kau Cari Palupi (1969),
Perawan Dari Sektor Selatan (1971),
Bumi Makin Panas

Maestro Ballet
Farida Oetoyo
 
Dialiri darah leluhurnya yang seniman musik dan film terkenal. Ayahnya, R. Oetoyo Ramelan, pegawai tinggi Departemen Luar Negeri. Kariernya meningkat menjadi Duta Besar RI untuk beberapa negara Asia dan Eropa. Ibunya Maria Johanna Margaretha Te Nuyl. seorang wanita berdarah Belanda. Mempunyai dua adik laki-laki, Fajar Alam dan Satria Sejati. Tetapi sejak lama kedua adiknya hingga sekarang menetap dan menjadi warga negara Kanada. Sejak kecil ia tinggal di luar negeri bersama orang tuanya yang Duta Besar RI di Singapura, kemudian berpindah-pindah ke berbagai negara di di Asia dan Eropa. Ketika masa kanak-kanak ia menyukai ballet, mula-mula belajar pada Fine Arts of Movement, pimpinan Willy Blok Hansen, di Singapura, ketika berusia 9 tahun. Kemudian pindah ke Royal Academy of Dance di Canberra, Australia, pimpinan Barbara Todd.
Pernah tampil di Albert Hall, Canberra, Australia pada tahun 1953. Selama periode tahun 1956-1958, ia tampil secara sebagai penari professional bersama Amsterdam Based Ballet der Lage Landen, menarikan karya tari Swan Lake, Nutcracker, Les Sylphides, Coppelia dan beberapa tari kontemporer.  
Saat menginjak usia remaja (14 tahun), mendadak ayahnya wafat akibat serangan jantung. Keadaan itu merubah nasib keluarga yang ditinggalkan. Ia harus mampu hidup mandiri, Menerima realitas hidup yang serba sulit.  Karena ia tak lagi sebagai anak Duta Besar yang menikmati fasilitas tetapi sebagai anak yatim. Keinginanya menjadi ballerina profesional terus menggebu.  Beruntung ia mendapat tawaran beasiswa dari pemerintah Rusia, yang disambutnya dengan kegembiraan. Betapa tidak, Akademi Balet Bolshoi Moskow, Rusia merupakan surga klasik dunia. Ini harus diterima.


Tok (2012)

Selama empat tahun belajar di Akademi Balet Bolshoi, hampir setiap hari  mulai pukul 9 pagi sampai 9 malam, ia  digembleng dan dilatih dengan penuh disiplin oleh gurunya Alla Mikhailovna Lenina, wanita paruh baya yang menurunkan ilmu balet klasik dengan penuh disiplin. Selain itu ia mendapat beberapa mata kuliah lainnya seperti sejarah kesenian, karakteristik, manjemen kesenian, drama pentas dan lain-lain (Vaganova Course).
Dinyatakan lulus Cum Laude setelah menempuh ujian di depan 50 pakar ballet dunia yang mengujinya dengan pandangan dingin dan berwibawa. Sekaligus ia menyandang gelar ‘Artist of Ballerina’. Selain menguasai ballet klasik, ia juga memperdalam balet modern di Amerika Serikat atas beasiswa dari Fulbright (1973-1974). Berguru pada tokoh ballet modern, Martha Graham dan pernah berguru pula pada Alvin Nicolais, penganut ballet modern di Amerika Serikat. 

Suksesnya dapat dipahami mengingat koreografer yang juga dijuluki balerina dunia ini telah meraup segudang pengalaman pentas di dalam maupun mancanegara. Upaya pembinaan terus dilakukan dengan membuka sekolah ballet Nritya Sundara bersama Yulianti Parani di Jakarta tahun 1957. Usaha ini memicu perkembangan ballet di tanah air. Di samping meningkatkan frekuensi pementasan ballet memungkinkan blantika ballet di tanah air semakin kondusif.
Sebagai koreografer, ia telah membuat lebih dari 100 koreografi tari. ‘Angels in Colour’ adalah karya tari pertamanya yang ia tampilkan di Gedung Kesenian Jakarta (1959). Setelah itu, dua nomor ballet berlabel ‘Rama & Shinta’ dan ‘Gunung Agung Meletus’ merupakan karya masterpiece-nya. Di samping kedua karya besar ini, masih ada karya lainnya yang bisa di catat sebagai karya handal monumental. Di antaranya ballet ‘Carmina Burana’, ‘Putih-Putih’ dan ‘Daun Pulus’. ‘Gunung Agung Meletus’ dan ‘Rama & Shinta’, mendapat sambutan hangat saat dipentaskan di Teater Terbuka dan Teater Arena Taman Ismail Marzuki tahun 70-an. Tak heran bila angin segar menerpa penggemar ballet di Indonesia. Publik sangat antusias menonton sajian berkualitas. 5 ribu tempat duduk yang tersedia di Teater Terbuka padat penonton. Bahkan kalangan pers juga mempunyai andil besar. Menyambut dengan menurunkan berita dan artikel-artikel menarik dimedia cetak mereka. 
 
Tidaklah berlebihan bila ia, yang pernah menjadi primadona di panggung balet dunia disebut sebagai ‘Maestro Ballet’ Indonesia. Mengingat ia pernah bergabung dengan ‘Teater Bolshoi’ di Rusia dan berpentas di sejumlah negara Eropa serta Amerika. Bahkan hingga sekarang masih aktif mengajar balet di sekolah balet Sumber Cipta miliknya. Selain ballet, pernah juga merambah  blantika film nasional. Ia membintangi beberapa film layar lebar antara lain film ‘Apa yang Kau Cari Palupi’ (1969), ‘Perawan Dari Sektor Selatan’ (1971).Mampir di dunia film atas ajakan suaminya, sineas Sjumandjaja (alm), yang menikahinya pada tahun 1962 di Moskow, Rusia. Dua sejoli ini bertemu ketika keduanya sedang belajar di negeri Beruang Merah Rusia. Ia di Akademi Balet Bolshoi dan Sjumandjaja, belajar pada Akademi Sinematografi Gittes, di Moskow, Rusia. Tetapi bahtera perkawinan yang baru berjalan sepuluh tahun kandas menabrak badai perceraian tahun 1972. Pasangan seniman kreatif ini dikaruniai dua orang anak laki-laki, Yudhistira Sjuman dan Sri Akhsan Sjuman.
 
Pada hari Minggu, 18 Mei 2014,  pukul 03.50 wib, maestro ballet Indonesia, Farida Oetoyo, wafat di RS Premier Bintaro, Jakarta Selatan dalam usia 74 tahun karena penyakit jantung, setelah seminggu di rawat di rumah sakit tersebut. Jenazah dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.   
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...