Fifi Young


Aktris Film
Fifi Young
 
 
Aktris film tiga zaman ini lahir di Sungai Liput, Aceh, 12 Januari 1912, dengan nama lengkap Tan Kiem Nio. Ayahnya seorang berkebangsaan Perancis yang meninggal dunia saat Fifi masih bayi, sementara ibunya seorang peranakan Tionghoa. Menempuh pendidikan di HCS Gunung Sahari, Jakarta (SD Belanda untuk orang Cina) namun hanya samapai kelas IV.
Menikah dengan Nyoo Cheong Seng di usia 14 tahun, seorang sutradara dan pengarang Indonesia yang dijumpainya ketika sama-sama bergabung dengan kelompok sandiwara Miss Riboet’s Orion di Batavia. Nyoo inilah yang membimbing dan mengajarinya menjadi pemain teater yang tidak ada tandingannya saat itu. dan mengubah namanya menjadi Fifi Young. Nama keluarga Nyoo dalam dialek Hokkian diucapkan Young dalam bahasa Mandarin, karena itulah maka ia menggunakan nama belakang ini. Sementara itu, nama Fifi diambilnya dari nama bintang film Perancis terkenal pada masa itu, Fifi d’Orsay.
Sebagai seorang sutradara teater dan juga sutradara film, Nyoo Cheong Seng, suami Fifi Young, banyak mengadakan pentas dengan rombongan, Miss Riboet’s Orion, ke berbagai tempat di Indonesia, bahkan sampai ke Malaya (Malaysia), Singapura, dan India. Karena itulah, pada akhir tahun 1920-an Fifi pun ikut berkeliling untuk berpentas.
Fifi terkenal karena kecantikannya, ia pun pandai dalam seni peran dan menari. Ketika mereka bermain di Kuala Lumpur, Gubernur Malaya sering datang menonton, dan dialah yang selalu memimpin seruan, “One, two, three, we want Fifi!”. Di tahun 1930-an, Nyoo Cheong Seng bergabung dengan kelompok sandiwara keliling Dardanella, sebuah kelompok sandiwara keliling terkenal Indonesia saat itu. Fifi pun menjadi salah satu bintang panggung kelompok itu.
Di masa pendudukan Jepang, Nyoo dan Fifi mendirikan kelompok sandiwara Bintang Soerabaia, bersama Dahlia, bintang film terkenal sebelum Perang Dunia II. Dari panggung sandiwara, Fifi kemudian melebarkan sayapnya ke panggung layar perak. Pada tahun 1940, ia mendapat peran utama dalam film Kris Mataram dan Zubaida. Di tahun berikutnya ia berperan sebagai seorang ibu dalam film Air Mata Iboe yang ceritanya dikarang oleh suaminya. Kemampuan mainnya menjadi bahan pembicaraan pers dan penonton.
Pada masa revolusi, Fifi memimpin sandiwara Pantjawarna. Kembali kedunia film dan bermain dalam film Tarmina (1954), berperan sebagai seorang ibu dan mengantarkannya terpilih sebagai Pemain Utama terbaik dalam FFI 1955. Pada FFI 1973, kembali terpilih sebagai Pemain Utama Wanita Terbaik Kedua lewat permainannya dalam film Wajah Seorang Pembunuh (1972).
Selama karirnya Fifi Young telah main dalam 87 film. Filmnya yang terakhir adalah Ranjang Pengantin yang disutradarai oleh Teguh Karya. Pada saat film porno sedang marak, di awal tahun 1970-an, Fifi termasuk orang yang anti jenis film tersebut.
Di karuniai lima orang anak, dua orang laki-laki, dan tiga orang perempuan dari hasil pernikahannya dengan Nyoo Cheong Seng yang akhirnya bercerai. Sally Young, anaknya, mengikuti jejak ibunya menjadi bintang film. Meninggal dunia pada 5 Maret 1975, pada usia 61 tahun karena sakit. Jenazahnya kemudian dikremasikan di Muara Karang, Jakarta Utara pada 9 Maret 1975.
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Tan Kiem Nio (Nonie Tan)
 
Lahir :
Sungai Liput, Aceh,
12 Januari 1912
 
Wafat :
Jakarta, 5 Maret 1975
 
Pendidikan :
HCS Gunung Sahari, Jakarta  (tidak tamat)
 
Penghargaan :
Pemain Utama terbaik pada FFI 1955, dalam film Tarmina (1954),
Pemain Utama Wanita Terbaik Kedua lewat film Wajah Seorang Pembunuh (1972)
 
Filmografi :
Keris Mataram (1940),
Zoebaida (1940),
Pantjawarna (1941),
 Air Mata Iboe (1941),
 Irawaty (1950),
 Bintang Surabaja 1951 (1950),
Meratap Hati (1950),
 Harumanis (1950),
 Ratapan Ibu (1950),
Halilintar (1954),
Sedarah Sedaging (1954),
Tarmina (1954),
Siapa Ajahku (1954),
Djakarta Diwaktu Malam (1954),
 Berdjumpa Kembali (1955),
Gadis Sesat (1955),
 Rumah Gila (1955),
 Kekasih Ajah (1955),
 Pemetjahan Poligami (1956),
Tiga Dara  (1956),
 Terang Bulan Terang di Kali (1956),
Tandjung Katung (1957),
Konsepsi Ajah (1957),
 Air Mata Ibu (1957),
Asrama Dara (1958),
Serba Salah (1959),
 Tiga Mawar (1959),
 Momon (1959),
Bertamasja (1959),
Mendung Sendja Hari (1960),
Gadis Manis dipinggir Djalan (1960),
Darah Tinggi (1960),
 Desa yang Dilupakan (1960),
Gaja Remadja (1960),
 Notaris Sulami (1961),
 Limapuluh Megaton (1961),
Sajem (1961),
Pesan Ibu (1961),
 Asmara dan Wanita (1961)
Si Kembar (1961),
Holiday in Bali (1962),
 Violetta (1962),
Dkn 901 (1962),
Bintang Ketjil (1963),
 Daerah Perbatasan (1964),
Pilihan Hati (1964),
 Manusia dan Peristiwa (1968),
Si Bego Menumpas Kutjing Hitam (1970),
Awan Djingga (1970),
Bali – Incontro D’amore (1970),
Si Pitung (1970),
 Hidup, Tjinta dan Air Mata (1970),
Samiun dan Dasima (1970),
Dibalik Pintu Dosa (1970),
Pengantin Remaja (1971),
Djembatan Emas (1971),
Ilusia (1971),
Biarkan Musim Berganti (1971),
Rina (1971),
Insan Kesepian (1971),
Tjinta di Batas Peron (1971),
Malin Kundang (1971),
 Salah Asuhan (1972),
Tjintaku Djauh Dipulau (1972),
Titienku Sayang (1972),
Aku Tak Berdosa (1972),
Mawar Rimba (1972),
 Wajah Seorang Pembunuh (1972),
 Jembatan Merah (1973),
Si Doel Anak Betawi (1973),
Ambisi (1973),
 Kutukan Ibu (1973),
 Ketemu Jodoh (1973),
 Hamidah (1974),
 Gaun Pengantin (1974),
Tetesan Air Mata Ibu (1974),
Si Bagong Mujur (1974),
Cinta Remaja (1974),
 Mei Lan, Aku Cinta Padamu
(1974),
Ratapan dan Rintihan (1974),
Sayangilah Daku (1974),
Bobby (1974),
 Ranjang Pengantin (1975)
 
Sinetron :
Sundel Bolong,
Dua Cinta,
Hantu Tinta,
Pelangi Di Hatiku,
Janjiku,
Bidadari yang Terluka

You may also like...