Fitri Setyaningsih

Penari dan Koreografer
Fitri Setyaningsih
 
 
 
Mulai menari sejak usia 6 tahun. Kerap mengikuti workshop dan kolaborasi dengan berbagai seniman lintas bidang. Workshop dan pertunjukan tari di London (Inggris), tari tradisi Jepang, di Dubai dan Abu Dhabi (Qatar), workshop dan pertunjukan tari bersama Pappa Tarahumara dari Jepang, workshop dan pertunjukan tari Buttoh bersama Yujio Waguri dan Toni Yap. Ikut terlibat dalam pertunjukkan ‘Sutasoma’ karya Fajar Satriadi & Jane Chen, ‘Asmaradana’ Garuda karya Fajar Satriadi, ‘Ayam Telah Berwarna Hijau’ oleh Teater Kita Makassar, ‘Leng’ oleh Teater Gapit, ‘Kidung Dumadi’ karya Suprapto Suryodarmo.
 
Ia melihat dalam dunia Jawa tradisional sesungguhnya terdapat sebuah idealisasi tertentu akan tubuh perempuan. Itu tampak pada kriteria untuk memilih seorang penari bedoyo dan aturan-aturan yang harus ditaati oleh para penari bedoyo. Dahulu untuk menjadi sorang penari bedoyo, seseorang perempuan harus memiliki kulit kuning langsat.  Ia melakukan riset tersebut di Keraton.
 
Secara konseptual untuk materi karyanya ia memiliki landasan yang kokoh. Meskipun ia bertolak dari dunia tari tradisi. Hampir semua ungkapan penarinya  terlihat tidak didominasi oleh vokabuler gerak gerik klasik. Benda dan cahaya dipertimbangkan menjadi unsur utama lainnya.  Di Indonesia, dunia tari masih sepi dari eksprimen-eksprimen. Belum begitu banyak koreografer yang secara intens melakukan pertanyaan dasar pada tubuh, gerak, langkah, gesture dan skenografi yang umumnya mendominasi panggung tari Indonesia sehingga melahirkan koreografi dengan berperspektf lain.
 


Bedaya Silikon (2005)

Karya koreografi yang lahir dari lulusan STSI Solo dan ISI Yogyakarta meskipun berbeda variasi rata-rata selalu menyodorkan aura yang sama. Yang biasa diolah adalah tema dan sisi kedalaman gerak yang bergerak tak jauh dari wawasan maestro sebelumnya.
 
Mereka bervariasi dalam menampilkan koreografinya. Tapi efek yang sampai kepada penonton seolah memburu sebuah jenis sublimitas dan keheningan yang sama.  Karyanya, sepertinya memang agak keluar dari aura itu. Suasana hening yang diciptakannya dari gerak-gerik keseharian penarinya bukan jenis hening yang mistis tapi hening lain yang mirip kekosongan diri di ruang urban.
 

Salah satu adegan utama dalam ‘Bedoyo Silikon’ misalnya adalah munculnya enam penari berpakaian sangat feminin gaun malam putih tapi dengan kepala dibungkus oleh kotak bujur sangkar. Mereka mengenakan sarung tangan karet yang dipakai dokter-dokter saat operasi. Penari-penari itu lalu merangkak-rangkak, bergulingan, merayapi tirai. Pada titik ini adegan mampu memunculkan atmosfer kehampaan diri manusia modern. Ia adalah penari yang ingin mengeksplorasi sesuatu yang lain dalam dunia tari.
 
Workshop Pappa Tahumara dan Yukio Waguri dari Jepang membekas ke dalam dirinya. Yang jelas ia lebih intens dan konsisten menggeluti jalurnya karena dalam hal ini jurusan yang dia pilih tidak terlalu banyak memiliki pendahulunya. 
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Fitri Setyaningsih
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah,
26 Agustus 1978
 
Pendidikan :
SMKI/Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Surakarta jurusan Tari (2003)
 
Karya :
Dilema (2000),
Mimpi Seorang Manggali (2000),
Samsara (2001),
Roh (2002),
Kali (2000-2003),
Ibu itu Bernama Calon Arang (2003,
Hujan Merah (2003),
Jahitan Merah (2004),
Hot Plate (20040,
The Dead of Dance (2004),
Langit Putih (2005),
Bedoyo Silikon (2005),
Sukesi ke Ruang Privat (2005),
Dinner With Cakil (2005)

You may also like...