Frank Rorimpandey


Sutradara Film
Frank Rorimpandey
 
 
 
 
Termasuk perokok berat, Frank Rorimpandey sehari bisa menghabiskan 5 bungkus rokok kretek. Tak cuma itu, Pemenang Piala Citra Festival Film Indonesia tahun 1980 untuk penyutradaraannya dalam film Perawan Desa itu bahkan pernah pantang makan nasi selama 4 tahun. Untuk apa, tak dijelaskannya. Yang pasti, baru mulai Desember 1980 ia makan nasi lagi. Karir film lelaki kelahiran Surabaya itu dimulai dengan menjadi pemain. Sebab, sejak di SLA ia sudah giat bermain sandiwara.
 
Tak heran jika kemudian, awal 60-an, ia hijrah ke Jakarta dan masuk Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Sutradara D. Djajakusumalah yang pertama kali memberikan kesempatan main padanya, dalam Masa Topan dan Badai tahun 1963. Tiga tahun kemudian, ia menerima peran pembantu untuk Fadjar Di Tengah Kabut. Dan ia terpilih sebagai pendatang baru terbaik. Tapi itu tak membuatnya kebanjiran peran. Malah sesudah itu ia menjadi wartawan mingguan film Purnama. Untunglah, ditahun 1970 Usmar Ismail mengajaknya main film lagi dalam Ananda. Sementara itu, ia aktif pula dalam Sanggar Teater Populer pimpinan Teguh Karya yang pernah jadi dosennya di ATNI. Minatnya kepada dunia film menjadi serius. Di tandai dengan bekerja sebagai staf produksi pada PT. Tuti Mutia Film, pada tahun 1971.
 
Dua tahun kemudian, ia menjadi pembantu sutradara Nico Pelamonia dalam film Yang JatuhDi Kaki Lelaki. Di tahun yang sama, ia ikut bermain dalam film Laki-laki Pilihan. Dua tahun kemudian,ia bermain dalam film Semalam Di Malaysia. Sebelum itu, di tahun 1974, ia sudah dipercaya untuk menjadi sutradara penuh dalam Ita Si Anak Pungut. Lalu, berturut-turut ia menggarap Mutiara (1977), Sum Kuning judul ini kemudian diganti Perawan Desa (1978), Bayang-bayang Kelabu (1979), Selamat Tinggal Masa Remaja (1980).
 
Akan teapi karir sutradara yang bernama kecil Toto ini tidak mulus. Filmnya Perawan Desa yang dalam FFI’ 1980 mendapatkan pula Piala Citra untuk skenario (Putu Wijaya), editing (Cassim Abbas) dan film terbaik itu, berkali-kali mendapat hambatan. Sejak awal pembuatannya, film yang berangkat dari kisah nyata perkosaan terhadap gadis penjual telur di Yogya, Sum Kuning, di tahun 1970, itu sudah mengalami banyak hambatan. Pemerintah Daerah Yogyakarta, khususnya aparat kepolisian, tak menyetujui pembuatan film itu. Sesudah film itu bisa diselesaikan juga, dengan perubahan di sana-sini, namin Badan Sensor Film tak segera meloloskannya. Film itu ditahan selama 2 tahun, sehingga gagal diikutsertakan pada FFI 1979. Baru setelah 16 kali disensor dan produser bersedia mengubah beberapa adegannya, akhirnya diloloskan. Meskipun begitu meski sudah memperoleh banyak Piala Citra dan dinyatakan sebagai film terbaik Pemerintah Daerah Yogyakarta tetap tak mengizinkannya beredar di wilayahnya. Entah karena kapok menggarap tema semacam itu,
 
Belakangan Frank memilih menggarap film-film bertema remaja. “Kalau saya ngotot pada satu tema tertentu, bisa-bisa nggak ada produser yang mau kerja sama,” katanya.
(Apa&Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982)

Nama :
Frank Rorimpandey
 
Lahir :
Surabaya, Jawa Timur
9 Desember 1945
 
Pendidikan :
ATNI
 
Profesi :
Wartawan mingguan Film Purnama,
Staff Produksi PT. Tuti Mutia Film,
Sutradara Film
 
Filmografi :
Masa Topan dan Badai (1963),
Fadjar Di Tengah Kabut (1966),
2 X 24 Djam (1967),
Ananda (1970),
Laki-Laki Pilihan (1973),
Yang Jatuh Di Kaki Langit (1973)
Ita Si Anak Pungut (1974),
Semalam Di Malaysia (1975),
Lonceng Maut (1976),
Mutiara (1977),
Perawan Desa (1978),
Bayang – baying Kelabu (1979),
Selamat Tinggal Masa Remaja (1980),
Kabut Sutra Ungu (1981),
Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1982),
Arie Hanggara (1985),
Akibat Kanker Payudara (1987),
Mutiara di Khatulistiwa (1990)
 
Sinetron :
Cinta Tebak Manggis (1991),
Jinak-Jinak Merpati (1992),
APSARI (1993),
Seri Opera Sabun Colek (1994),
Kabut Asmara di Pondok Songka (1995),
Saskia (1996),
Kawinnya Juminten dan Martubi (1997)
 
Penghargaan :
Aktor Pendatang Baru Terbaik FFI 1966.
Pemenang Piala Citra Festival Film Indonesia 1980,
 

You may also like...