Frans Nadjira

Nama :
Frans Nadjira
 
Lahir :
Makassar, Sulawesi Selatan,
3 September 1942
 
Pendidikan :
Akademi Seni Lukis Indonesia (ASLI) Makassar,
Sulawesi Selatan (1960),
International Writing Program, University of Iowa, Iowa, USA (1979)  
 
Penghargaan :
Mendapat grant dari Pemerintah Amerika Serikat untuk mengikuti program penulisan kreatif International Writing Program di University of Iowa, Iowa, USA (1979)
 
Buku :
Jendela (1980)
Bercakap-Cakap Di Bawah Guguran Daun-Daun (1981),
Springs Of Fire Springs Of Tears (1998),
Curriculum Vitae (2007)
 
 


Seniman Lukis
Frans Nadjira
 
Dilahirkan di Makassar, Sulawesi Selatan, 3 September 1942. Dimasa kecil, secara diam-diam, ia mengambil kartu pos bergambar Rembrant dan Vincent van Gogh dari kotak surat seorang Belanda, ia juga menemukan reproduksi lukisan Wassily Kandinsky di tong sampah. Karya-karya maestro dunia itu, secara tanpa sadar telah membawa Frans mencintai seni lukis dan mendorongnya bersekolah di Akademi Seni Lukis Indonesia (ASLI) Makassar selama setahun. Kemudian ia merantau ke Kalimantan Utara, Filipina sebagai buruh dan pelaut, serta mendalami seni lukis dan sastra.
 


Psychography, 90 x 130 cm (1989)

I Pada dasawarsa enam puluhan Frans bergiat pada kalangan sastra dan seni di Jakarta. Tahun 1970.  Pada tahun 1974 ia pindah ke Denpasar, Bali sebagai pelukis dan memilih metoda seni lukis otomatis (psikografi) yang ditekuni hingga sekarang sekaligus melakukan berbagai kegiatan pengembangan sastra di Bali.
 
Irama, gerak, komposisi, dan warna menjadi roh dalam karya-karyanya. Ia merumuskan laku berkeseniannya dengan “otomatisme” yang dipengaruhi oleh Kadinsky. Bedanya, ia percaya dengan otomatisme pada tangan, yang menyapukan kuas, digerakan oleh kekuatan kosmik, “Lukisan lahir dari kekuatan kosmik lewat tangan pelukis”, ujarnya. Pandangan itu membuat lukisannya seperti bergerak, saling membelit, menciptakan asosiasi-asosiasi berbagai bentuk yang tercipta dari naluri purba yang berasal dari kedalaman jiwa.

 
 Ia juga dikenal antigaleri, ia menjelaskan sikapnya itu hanya menolak galeri yang mengeduk habis-habisan seorang pelukis semata-mata denim tujuan komersil, dan setelah pelukis itu tidak berkarya dicampakkan begitu saja. “Itulah yang saya lawan, galeri sebagaimana bentuk awal lahirnya tidak semata-mata meladeni jual-menjual lukisan. Harus ada sisi idealisnya”, katanya. Pemikiran ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia anti galeri, tambahnya.        
 
Selain dikenal sebagai seniman lukis, ia juga dikenal sebagai seorang sastrawan, pada tahun 1979, ia mendapat grant dari Pemerintah Amerika Serikat untuk mengikuti program penulisan kreatif International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.
 
Tulisan-tulisan Frans Nadjira pernah dimuat di berbagai media luar maupun didalam negeri. Selain itu, sejumlah karya puisi dan cerpen Frans Nadjira juga telah dimuat dalam buku antologi bersama seperti: Terminal, Laut Biru Langit Biru, Puisi Asean, The Spirit That Moves US (USA), Tonggak, On Foreign Shores, Ketika Kata Ketika Warna, Teh Ginseng, A Bonsai’s Morning, Horizon Sastra Indonesia dan beberapa buku apresiasi Sastra Indonesia.
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...