G. Sidharta

Pematung
G. Sidharta
 
 
G. Sidharta anak ketiga dari sebelas bersaudara dari ayah-ibu yang juga seniman. Ayahnya, Bernardius Soegijo (meninggal tahun 1950), dan ibunya, Claudia Soemirah (meninggal tahun 1985), menghidupkan kepekaan estetik anak-anaknya dengan lingkungan keluarga yang menggemari musik klasik Barat maupun Jawa dan berbagai kegiatan kesenian lain. Paling tidak, dari anak-anak keluarga itu dikenal nama seperti Ignatius Gardono, yang dikenal sebagai pengecor patung Tugu Selamat Datang, karya Eddy Sunarso di Bunderan HI Jakarta. Lalu ada Paul Gutama, yang kini menetap di Berlin.
Belajar melukis kepada Hendra Gunawan dan Trubus di Sanggar Pelukis Rakyat pada sekitar tahun 1950, sebelum kemudian dia masuk ASRI. Sidharta dianggap kebarat-baratan, yang dalam konstelasi politik waktu itu bisa punya implikasi serius. Tahun 1953, dia dikirim oleh misi gereja Katholik untuk belajar di Belanda. Pulang kembali ke Yogyakarta setelah belajar di Jan van Eijk Academie voor Beeldende Kunst di Maastricht selama tiga tahun, kecenderungan seni rupa Sidharta yang seolah hanya mementingkan bentuk itu semakin kuat.
Pada tahun 1965, Sidharta ditarik ke Bandung oleh pelukis dan pematung, But Muchtar, untuk mengajar di Jurusan Seni Rupa ITB. Keberadaan Sidharta di Bandung seolah juga makin memperjelas perbedaan Yogyakarta dan Bandung, yang sampai kini kadang masih sering diributkan oleh kalangan seni rupa. Sidharta kembali ke Yogyakarta setelah pensiun dari ITB. Keberadaan Sidharta di Yogyakarta, lagi-lagi menggairahkan kegiatan mematung di situ. Tahun 2000, di Yogyakarta, Sidharta mendirikan Asosiasi Pematung Indonesia (API) yang berbagai kegiatannya sering diramaikan oleh kritik. Dalam berbagai pamerannya, API tak ragu menyandingkan karya-karya para perupa senior dengan karya-karya perupa muda.


Lingkaran Kedamaian, 45 x 45 x 16 cm

Sidharta menjelajahi semua media seni rupa, seperti patung, seni lukis, cetak saring, keramik, kerajinan tangan, dan lain-lain, ia juga memiliki peran menonjol dalam menghadirkan karya-karya seni rupa di tengah publik. Sebut saja, monumen Tonggak Samudra di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Tumbuh dan Berkembang di sebuah taman di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Garuda Pancasila di atas podium Gedung MPR/DPR, sampai Piala Citra, yang diberikan kepada yang terbaik di dunia film pada acara tahunan Festival Film Indonesia.
“Saya ingin mengaitkan diri kembali dengan jalur kehidupan tradisi, di samping sekaligus tetap berdiri di alam kehidupan masa kini, yang berarti satu keinginan untuk menghilangkan jarak antara kehidupan tradisional dan masa kini”, Itulah petikan ungkapan Sidharta sekitar 30 tahun lampau, yang dikutip dalam buku G Sidharta di Tengah Seni Rupa Indonesia (PT Gramedia, 1982) karya Jim Supangkat dan Sanento Yuliman.

Dalam perspektif Sidharta, tradisi dan masa kini itu baginya sudah merupakan suatu keserentakan sesuatu yang sekarang barangkali lebih mudah dipahami orang sebagai gejala seni kontemporer. Dalam artikelnya di tahun 1996, pemusik Suka Hardjana mengutip pernyataan Sidharta di tahun 1973 saat Sidharta membuat kesaksian bahwa dirinya sebagai seniman kontemporer asal dunia berkembang.
 “Saya berkarya mengikuti nafas, dari hari ke hari, dari pagi hingga malam. Ke depan saya berjalan ke belakang saya menengok agar perjalanan tak pernah putus. Dahulu adalah leluhurku, kini saya berada dan esok adalah keturunanku. Satu rangkaian yang bersambung tak terputus menyongsong masa depan yang abadi”. katanya ketika ditanya tentang konsepnya dalam berkarya.  
Ketua Asosiasi Pematung Indonesia (API)  selama 2 periode ini, wafat pada Rabu, 30 Oktober 2006, pukul 07.00 wib di Rumah Sakit Dr.Oen, Solo, Jawa Tengah, diusia 74 tahun. Almarhum mengidap kanker paru-paru, selain pernah pula menjalani operasi kanker tulang punggung di Singapura tahun 2004. Sidharta meninggalkan satu istri, empat anak dan delapan cucu.
 (Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Gregorius Sidharta Soegijo
 
Lahir :
Yogyakarta,
30 November 1932
 
Wafat :
Solo, Jawa Tengah
 30 Oktober 2006
 
Pendidikan :
ASRI, Yogyakarta
(1950-1953),
Jan Van Eijk Academie voor Beeldende Kunst, Maastricht, Belanda (1953-1957),
Jurusan Seni Patung ITB (1965),
 
Profesi :
Pematung, 
Pengajar FSRD ITB
(pensiun 1997),
Pendiri dan Ketua API
(2000-2006) 
 
Karya-karya :
Tonggak Samudera,
Tumbuh dan Berkembang, Garuda Pancasila,
Piala Citra,
Berita Duka,
Lingkaran Kedamaian
 
Penghargaan :
Hadiah dari Akademi Jakarta untuk Prestasi dalam karya Seni Rupa (2003),
Penghargaan Widayat Award untuk dedikasi dalam seni (2004),
Penghargaan dari Pemerintah Daerah DI Yogyakarta untuk seniman dan budayawan (2004) 
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply