Garin Nugroho

Seniman Film
Garin Nugroho
 
 
Ia beruntung memasuki dua organisasi pendidikan, yakni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan Film dan Televisi, sekaligus Fakultas Hukum pada jurusan Sosiologi Hukum Universitas Indonesia, sebuah masa transisi dari sistem kesenian, dimana pola sanggar menuju pendidikan pada sistem SKS (Satuan Kredit Semester). Kemudian ia mengajar di IKJ dari tahun 1986 sampai tahun 2002, suatu fase ketika materi kuliah mengacu pada sistem perguruan tinggi umum, yang sesungguhnya tidak ia setujui.
 
Ia juga beruntung pada periode 1980-2003, ditengah berbagai persoalan-persoalan perubahan di Indonesia, menjalankan berbagai perjalanan. Dari wilayah kangguru di Wasur (Merauke) hingga berburu ikan paus di Lamalera (Nusa Tenggara Timur), dari wilayah Takengon (Aceh) hingga penis dance di Waris (Papua) dari sungai dekat Loksado (Kalimantan Selatan) hingga wilayah Taman Laut Bunaken, dan dari wilayah konflik Aceh dan Ambon hingga Kongres Papua di Jayapura.    
 
Untuk memeriahkan hari kelahiran ke 250 komponis dunia Wolfgang Amadeus Mozart pada November 2006, Garin membuat film yang berjudul Opera Jawa yang diputar Di Wina, Austria. Film in sempat menuai protes keras dari WHYO (World Hindu Youth Organization) yang berhubungan dengan figur yang ada dalam Kitab Suci Ramayana seperti Bima, Rama, Shinta, Laksamana, Rahwana, Hanoman, yang divisualisasikan melenceng dari naskah dan teks Kitab Suci Ramayana’. Kisah Ramayana yang teks aslinya dirangkum oleh Maharesi Valmiki, yang merupakan kejadian nyata dan bukan sebatas legenda atau epos.
 
Lantas apa kata Garin Nugroho, menyikapi protes keras WHYO ? “Saya tidak sedikitpun punya maksud untuk melecehkan agama lain. Karena kami tidak mengangkat kisah Ramayana yang merupakan kisah suci dalam agama Hindu”. Tetapi adalah Opera Jawa’ mengangkat lakon yang diinspirasikan dari kisah Shinta Obong. “Lagi pula, film itu tidak mengisahkan sosok Rama, Rahwana ataupun Hanoman dalam Ramayana versi agama Hindu. Melainkan mengisahkan sosok Siti (Artika Sari Dewi), Setyo (Miroto) dan Ludiro (Eko Supriyantro)’,” jelas Garin.
 
“Ketiga sosok itu”, kata sutradara berbakat, dan peraih berbagai penghargaan internasional untuk karya-karya filmnya itu, “Bukanlah interpretasi dari sosok Rama, Shinta atau pun Rahwana. Namun mereka hanyalah pemain sosok Rama, Shinta dan Rahwana dalam Wayang Orang Jawa,” katanya, Bagi Garin, alih-alih memicu konflik agama, Opera Jawa justru berniat membawa pesan keagamaan. “Kami menghargai perbedaan, karenanya film ini mengusung tema perdamaian dan anti kekerasan,”’ ujarnya.
 
Pesan-pesan dalam Opera Jawa itu juga mengandung kedamaian dan anti ekstrimisme seperti yang saat ini terjadi. Belum lagi para pemainnya yang berasal dari berbagai kalangan penganut agama. Dari berbagai perjalanan hidupnya selama ini, muncul sebuah pertanyaan yang sederhana dalam benaknya : apa yang harus dicatat dari berbagai pengalaman perjalanan tersebut?
 
Menikah dengan Riani Ika, dikaruniai tiga orang anak, Kamila Andinisari, yang mengikuti jejak ayahnya menjadi sutradara film, Gibran Tragari dan Dinda Hanamichi.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Garin Nugroho Riyanto
 
Lahir :
Yogyakarta, 6 Juni 1961
 
Pendidikan :
S-1 Insitut Kesenian Jakarta, jurusan Film dan Televisi (1985),
S-2 Fakultas Hukum, jurusan Sosiologi Hukum Universitas Indonesia (1992)
 
Aktifitas Lain :
Direktur Desain dan Program PT Gemini Film (1986-1989),
Pengajar Fakultas Film dan TV Analisis Film dan TV Institut Kesenin Jakarta
 (1986 s/d 2002),
Asisten Dekan Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta (1992-1994),
Direktur SET Film Workshop (1993 s/d sekarang) 
 
 Filmografi :
Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015),
Seogija (2012),
Laut Bercermin (2011)
Mata Tertutup  (2011),
The Mirror Never Lies (2011),
Generasi Biru (2009),
Under The Three (2008),
Teak Leaves at the Temple (2007),
Opera Jawa (2007),
Serambi (2005),
Rindu Aku Padamu (2004),
Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002),
Rembulan Di Ujung Dahan (2002),
Layar Hidup : Tanjung Priok/Jakarta (2001)
Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002),
Puisi Tak Terkuburkan (2000/2001),
Daun Di Atas Bantal (1998/1999),
My Family, My Films and My Nation (1998),
Bulan Tertusuk Ilalang (1996),
Dongeng Kancil untuk Kemerdekaan (1995),
Surat Untuk Bidadari (1994),
Air dan Romi (1991),
Cinta Dalam Sepotong Roti (1991),
Gerbong Satu, Dua (1984)
 
Pencapaian :
Film Surat Untuk Bidadari meraih Golden Charybdis Award di Taormina International Film Festival (1994),
Film Surat Untuk Bidadari meraih Gold Award di Tokyo International Film Festival (1994),
Film Bulan Tertusuk Ilalang meraih FIPRESCI Prize (1996),
Film Daun Di Atas Bantal meraih Special Jury Price di Tokyo International Film Festival (1998),
Film Daun Di Atas Bantal meraih Lino Brocka Award di Cinemanila International Film Festival (1999),
Film Puisi Tak Terkuburkan meraih Silver Leopard-Video di Locarno International Film Festival (2000),
Film Puisi Tak Terkuburkan meraih FIPRESCI/NETPAC Award Singapore International Film Festival (2001),
Film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja meraih Special Mention-Netpac Award di Berlin International Film Festival (2003),
Film Rindu Aku Padamu meraihgelar Best Film di Asian and Arab Competition Award (2005),
Film Opera Jawa meraih Silver Screen Award dari Singapore International Film Festival (2007),
Film Laut Bercermin meraih Best Children’s Feature di ajang Asia Pacific Screen Award (2012), 
Honorary Golden Wheel di Vesoul Asian Film Festival (2013)
Apresiasi Adi Insani dari Apresiasi Film Indonesia (2013)
 

You may also like...