Gayus Siagian

Nama :
Gayus Siagian
 
Lahir :
Balige, Tapanuli Utara, Sumatera Utara,
10 Februari 1981
 
Wafat :
Jakarta, 10 Februari 1981
 
Pendidikan :
Hollands Inlandse School (MULO),
AMS Westers Klassieke & Oosters-Literaire Afdeling
 
Karier :
Pemimpin Redaksi Harian Patriot dan Redaktur majalah Arena di Yogya (1948),
Kepala Bagian Skenario dan Publicity NV Perfini (1956),
Dosen Gamaliel University (1957),
Pemimpin Redaksi harian Warta Indonesia, Republik, Lembaran Minggu dan Aneka (sampai 1960),
Koresponden Far East Film News di Tokyo dan anggota DPR-GR/MPRS ( sampai 1964),
Anggota Badan Sensor Film (1970-1972),
Dosen Akademi Sinematografi LPKJ,
Anggota Pengurus Yayasan Idayu, Jakarta,
Penulis cerita pendek dan skenario film
 
Filmografi :
Enam Jam di Yogya (1950) skenario,
Embun (1951) skenario,
Krisis (1953) skenario
 
Buku :
Perpisahan (kumpulan cerpen)
Wasiat Bung Karno
 

Sineman Film
Gayus Siagian
 
 
Pernah dia menimbang-nimbang antara doa dan dosa. Ketika itu, ditahun 1971, ia duduk sebagai salah seorang dewan juri Festival Film Asia di Taipei, Taiwan. Pada pengumuman suara pertama. “Seakan-akan jantung saya berhenti berdetak”, katanya. Pada pemungutan suara kedua, timbul harapan Indonesia untuk menang. Juri tinggal menjatuhkan pilihan antara dua film, Pengantin Remaja (The Tragedy, dalam bahasa Inggris) dan War and Human Being dari Korea Selatan.
 
Pada saat itulah, “Saya lupa minum, sekalipun kerongkongan saya terasa kering. Timbul keinginan untuk untuk berdoa, tapi saya ragu-ragu. Soalnya orang-orang Korea juga berdoa”, Dan mengapa harus doa Gayus yang didengarkan yang belum pasti lebih baik dari orang-orang Korea ? Gayus pun menimbang-nimbang. “Dosa yang saya lakukan di Taipei ini saja sudah bertimbun seperti gunung, apalagi yang sebelumnya”. Entah dosa apa yang dilakukan disana. Yang jelas, ia lantas menutupkan mata. Bukan untuk berdoa, melainkan membayangkan muka anggota-anggota juri netral. Dan film Pengantin Remaja menang.
 
Anak ke-5 dari 12 bersaudara ini lahir dari keluarga cukup terpandang di Balige, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Ayahnya, Oberlin Siagian, adalah seorang Kepala Negeri yang disegani di tanah Batak sana. Tahun 1953 Gayus tunggal di Eropa untuk mempelajari kebudayaan dan film. Memang pengalaman hidupnya selalu bergayut di dua dunia tulis-menulis, sebagai sastrawan dan wartawan.
 
Bekas tokoh Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan bekas anggota pengurus Badan Musyarah Kebudayaan Nasional (BMKN) itu aktif sebagai Wakil Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia. Ia menerjemahkan, menulis, cerita pendek, kritik dan esei film, memeriksa naskah-naskah, termasuk skenario film. Ia sendiri banyak menulis skenario, antara lain untuk film Enam Jam di Yogya tahun 1950, film Embun tahun 1951 dan film Krisis tahun 1953. selain itu, ia juga ditunjuk sebagai juri Festival Film Indonesia tahun 1973, 1978 dan 1979. Beberapa bukunya telah diterbitkan antara lain, Perpisahan (kumpulan cerpen) dan Wasiat Bung Karno. Ia juga menulis guide book dan menterjemahkan buku asing.
 
Menikah dengan Walbyah Bea, dikaruniai seorang anak. Melampaui usia 60 tahun, ia digerogoti penyakit ginjal dan komplikasi jantung. Dirawat sebulan di RS PGI Cikini, Jakarta. Gayus meninggal 10 Februari 1981, jenazahnya dimakamkan di TPU Menteng Pulo, Jakarta.
 
(Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982)
 

You may also like...

Leave a Reply