Gerson Poyk

Nama :
Gerson Poyk
 
Lahir :
Namodele,
Pulau Rote (Timur),
 Nusa Tenggara Timur,
16 juni 1931
 
Pendidikan :
SGA Kristen Surabaya,
Jawa Timur (tamat 1956),
 International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA (1970/1971)
 
Karier :
Guru SMP dan SGA di Ternate, Maluku Utara
(1956-1958),
Guru SMP dan SGA di Bima, Sumbawa, NTB (1958),
Wartawan Sinar Harapan
(1962-1970)
 
Karya Novel :
Hari-Hari Pertama (1968),
Sang Guru (1971),
Cumbuan Sabana (1979),
Giring-Giring (1982),
 
Karya Cerpen :
Matias Akankari (1975),
Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk (1975),
Nostalgia Nusa Tenggara (1976)
Jerat (1978),
Di bawah Matahari Bali (1982),
Requim Untuk Seorang Perempuan (1981),
Mutiara di Tengah Sawah
(1984),
Impian Nyoman Sulastri (1988) Hanibal (1988),
Poli Woli (1988),
 
Penghargaan :
Cerpen Mutiara di Tengah Sawah mendapat Hadiah Hiburan Majalah Sastra (1961),
Cerpen Oleng-Kemoleng mendapat pujian dari redaksi majalah Horison untuk dimuat di majalah Horison (1968),
Beasiswa International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA (1970/1971),
Menerima Hadiah Adinegoro
(1985 dan 1986),
Menerima Hadiah Sastra ASEAN/SEA WRITE Award dari kerajaan Thailand (1989),
Penghargaan Pengadian Seumur Hidup dari Kompas (2009) 
Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah RI (2011)
 


Sastrawan
Gerson Poyk
 
 
Dilahirkan di Namodele, Pulau Rote (Timur), Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Pendidikan terakhirnya SGA Kristen Surabaya, tamat 1956. Pernah menjadi guru SMP dan SGA di Ternate (1956-1958) dan Bima, Sumbawa (1958). Terakhir menjadi Wartawan Sinar Harapan (1962-1970). Antara tahun 1970-1971, ia mendapat beasiswa untuk mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa, Amerika Serikat. Sempat mengikuti seminar sastra di India pada tahun 1982.
 
Cerpennya, Mutiara di Tengah Sawah mendapat Hadiah Hiburan Majalah Sastra tahun 1961. Sedangkan cerpennya yang lain, Oleng-Kemoleng, mendapat pujian dari redaksi majalah Horison untuk cerpen yang dimuat di majalah itu tahun 1968. Karyanya yang berupa novel antara lain Hari-Hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-Giring (1982). Karya kumpulan cerpennya adalah Matias Akankari (1975), Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requim untuk seorang perempuan (1981), Mutiara di Tengah Sawah (1984), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988) dan Poli Woli (1988).
 
Angkatan pertama penerima International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, penerima Hadiah Adinegoro (1985 dan 1986) dan pernah menerima Hadiah Sastra ASEAN/SEA WRITE Award dari kerajaan Thailand pada tahun 1989 ini masih suka menulis hingga pukul dua dini hari. Setelah itu, ia kadang bersepeda mengelilingi jalan-jalan di seputar kawasan rumahnya di Depok Timur, Jawa Barat. Bersepeda bisa menjadi merupakan kunci kebugarannya, selain berkebun yang merupakan kunci awet mudanya.  
 
Menikah dengan Atoneta Saba, namun sang istri menghilang karena penyakit dementia senilis (hilang ingatan) sekitar tahun 2007. Dikaruniai lima orang anak, Fanny, Frederik, Martin, Ester, dan Agnes. Berdomisili di jalan Raden Saleh, Gang H. Miun 21A Depok Timur, Jawa Barat. Salah satu obsesinya adalah ingin orang Indonesia itu sadar bahawa negerinya itu kaya akan kebudayaan. Sejak dulu ia ingin ada desa-desa budaya di seluruh tana air. Menurutnya masa depan Indonesia itu ada di desa, ia yakin kalau desa itu ‘hidup’, separuh dari penduduk Jakarta akan pulang kampung.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...