Gesang


Maestro Keroncong
Gesang
 
 
 
Tak banyak penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa menjadi legenda di masyarakat. Satu dari yang sedikit itu ialah maestro keroncong asal Solo, Jawa Tengah., Gesang Martohartono, pencipta lagu Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong yang mampu menyeberangi lautan. Lagu yang sangat digemari di Jepang. Lagu merupakan bahasa  umum yang melintasi dunia. Lagu yang telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia. Dan, tak banyak pula dari penyanyi atau pemusik Indonesia yang bisa bertahan hingga usia lebih dari 85 tahun. Gesang bahkan telah membuktikan bahwa dalam usianya yang ke-85 tahun, ia masih mampu merekam suaranya. Rekaman bertajuk Keroncong Asli Gesang itu diproduksi oleh PT. Gema Nada Pertiwi (GMP) di Jakarta pada September 2002.  
 
Sudah empat kali PT GMP memproduksi album khusus Gesang, yaitu pada tahun 1982, 1988, 1999, dan tahun 2002. Dari 14 lagu dalam rekaman compact disk (CD), enam di antaranya merupakan lagu yang belum pernah direkam. Yaitu Seto Ohashi tahun 1988, Tembok Besar tahun 1963, Borobudur tahun 1965, Urung tahun 1970, Pandanwangi tahun 1949, dan Swasana Desa tahun 1939. Selebihnya lagu-lagu lama karya Gesang, seperti Sebelum Aku Mati, Pamitan dan tentu saja Bengawan Solo.
 
Yayasan Peduli Gesang (YGP) wadah sejumlah warga Jepang yang memiliki penghormatan khusus pada Gesang, dan mereka menghimpun dana untuk membantu kehidupan Gesang. Sebagian dari mereka adalah orang Jepang yang berusia di atas 80 tahun, karena pada masa perang dahulu sudah mengagumi lagu Bengawan Solo. Mereka berasal dari Pulau Shikoku, Yokohama yg diketuai oleh Ny. Yokoyama Kazue (55 tahun).
 
Ny. Yokoyama mengaku, sebenarnya ia hanya melanjutkan usaha mendiang Hirano Widodo, salah seorang warga Jepang yang tinggal di Klaten sebagai pengagum Gesang. “Saya sudah telanjur berjanji pada Pak Hirano tatkala beliau dirawat di rumah sakit”, tutur Ny Yokoyama. Ia bahkan mengaku, sebelumnya tidak mengenal Gesang.
 
Menyebut kekaguman terhadap Gesang sebagai sebuah legenda, rasanya tidak adil tanpa menyebut peran PT Gema Nada Pertiwi yang dipimpin Hendarmin Susilo 57 tahun. “Saya termasuk warga keturunan, tetapi saya cinta negeri ini, dan menyukai lagu-lagu daerah di sini seperti gending, degung, lagu-lagu Tapanuli, terutama keroncong”, ungkapnya. Hendarmin mengaku, kecintaannya pada musik keroncong seperti sudah mendarah-daging, dan karena itu ia siap berkorban. Ia juga menghormati Gesang, bahkan telah menganggapnya sebagai orangtua nya. Kalau bukan berdasar rasa kagum dan penghargaan yang mirip mitos, rasanya memang tak masuk akal sebuah perusahaan rekaman memproduksi album rekaman musik keroncong. “Apalagi di masa sulit sekarang ini”, kata Hendarmin. “Memang banyak teman Asiri yang menyebut saya gila”.
 
Hendarmin juga menyebutkan, sebenarnya bukan hanya kalangan masyarakat Jepang yang mengagumi Gesang. Nama Gesang dengan ‘Bengawan Solo’ nya juga cukup dikenal pula di daratan Tiongkok. Dalam kaitan itu ia menyebut jasa Bung Karno yang pada masa lalu sering membawa misi kesenian ke RRC dan negara Asia Tenggara yang lain.
 
Bengawan Solo masuk ke Jepang untuk pertama kali sekitar setengah abad yang lalu di kala masa perang. Pada waktu tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, lagu itulah yang dari radio terdengar secara luas di kalangan serdadu Jepang serta orang-orang Jepang yang berada di sini.
 
Gesang datang pada festival salju Sapporo atas undangan himpunan persahabatan Sapporo dengan Indonesia pada tahun 1980, untuk pertama kali. Setelah itu telah berkali-kali datang ke Jepang atas undangan himpunan persahabatan Jepang. Demikianlah pagelaran keroncong berlangsung di Jepang untuk pertama kali dengan membawakan lagu Bengawan Solo. Melalui Gesang dan musik keroncong, orang menjadi sadar bahwa musik adalah sesuatu yang mutlak perlu bagi persahabatan dan perdamaian dunia. Lebih-lebih lagi, berkat kerendahan hati Pak Gesang, kepribadiannya telah membawa keakraban dan kehangatan bagi orang Jepang. Berkat kunjungannya ke Jepang, keroncong telah mengalami boom secara diam-diam. Lagu merupakan bahasa umum yang melintasi dunia. Bengawan Solo yang melintasi batas negara, dengan memperkayakan hati manusia telah menjembatani pertukaran kebudayaan pada akar rumput antara Jepang dan Indonesia.
 
Pada pukul 18.10 wib, 20 Mei 2010, diruang ICU PKU RS Muhammadiyah, Maestro Keroncong ini wafat karena infeksi paru-paru yang telah lama dideritanya. Sebagai penghormatan atas jasa–jasanya, Gesang dimakamkan secara militer dikompleks pemakaman Pracimaloyo, Solo, Jawa Tengah. Ia berpesan agar melestarikan musik keroncong.   
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Gesang Martohartono

Lahir :
Solo, Jawa Tengah,
1 Oktober 1917
 
Wafat :
Solo, Jawa Tengah,
 20 Mei 2010
 
Pendidikan :
Sekolah Muhammadiyah Solo (1929)

Rekaman CD :
Seto Ohashi (1988),
 Tembok Besar (1963),
 Borobudur (1965),
Urung (1970),
Pandanwangi (1949),
Swasana Desa (1939)Album Emas :
Bengawan Solo,
Jembatan Merah,
Saputangan,
Si Piatu,
Roda Dunia,
Dunia Berdamai,
Tirtonadi,
Pemuda Dewasa,
Luntur,
Bumi Emas Tanah Airku,
Dongengan,
Sebelum Aku Mati
 
Penghargaan :
Piagam dari Komando Wilayah Pertahanan II (1976),
 Piagam Hadiah Seni  dari Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI  (1977 ),
 Penghargaan TVRI stasiun Yogyakarta (1978),
 Piagam Penghargaan dari OISCA International Indonesia
 (1978),
 Hadiah rumah Perumnas Palur dari Gubernur Jawa Tengah
(1979),
Pendirian Taman Gesang didekat sungai Bengawan Solo oleh sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang (1983),
Penghargaan PWI HUT XXXIX dan HUT VI Museum Pers Nasional (1985),
Penghargaan Walikota Surakarta, Dalam rangka Fespic Games IV (1986),
Bintang penghargaan dari Kaisar Akihito, Jepang (1992),
Piagam Tanda Penghargaan Budaya Bhakti Upapradana (1990),
Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI (1992),
Piagam Penghargan Membina melestarikan dan Mengembangkan Seni Musik Keroncong Sebagai Penyanyi dan Pencipta Lagu dari Menteri Pariwisata Seni dan Budaya Republik Indonesia (1999),
Mendapat Hadiah seni dari Dewan Kesenian Jawa Tengah (2000)

You may also like...