Gigih Wiyono

Nama :
KRT. Gigih Wiyono Hadinagoro, S.Sn,M.Sn
 
Lahir :
Sukohardjo, Jawa Tengah,
30 Agustus 1967
 
Pendidikan :
SMA (1998),
STSI Surakarta/Solo jurusan Seni Kriya Kayu (1991 – 1995),
S-1 STSI Surakarta/Solo (2003),
 S-2 Institut Senirupa Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis
 
Penghargaan :
The Best Ten Ecological Studies Program, Indonesia (1992)
Finalist of The Winsors & Newton World-Wide Millenium Painting Competition Indonesia (2000)
 
 
 
 
 
 
 

Pelukis
Gigih Wiyono
 
 
 
Lahir di Sukohardjo, Jawa Tengah, 30 Agustus 1967. Dibesarkan dari keluarga Jawa yang masih akrab dengan anasir-anasir tradisional. Kedua orang tuanya hidup dari membatik yang juga mencintai seni. Sejak kecil ia sudah terasuh oleh dunia seni, terutama kesenian tradisional Jawa, seperti wayang kulit, wayang orang, ketoprak, reog maupun membatik.
 
Namun, ia tidak hanya terasuh oleh dunia kesenirupaan batik semata, tapi juga terasuh dalam memperdagangkan hasilnya. Setelah lulus SMA ia pergi ke Pekan Baru, Riau, untuk berdagang batik. Usahanya cukup berhasil dalam meningkatkan omset. Namun, darah seni yang mengalir ditubuhnya senantiasa mendorongnya untuk berkunjung ke tempat-tempat kesenian. Setiap minggu ia selalu mengunjungi Balai Dang Merdu, semacam pusat kesenian dan berkenalan dengan seniman-seniman Riau. Meskipun ia harus berdagang, ia tetap melukis setiap malam.
 
Dorongan menjadi seniman semakin kuat ketika suatu malam ia bermimpi ketemu dengan Affandi. Meskipun hanya mimpi, ia sangat percaya akan ‘pesan-pesan’ mimpi tersebut, sehingga ketika ia menamatkan sekolahnya. Tahun 1991 ia memutuskan untuk belajar seni rupa di STSI Surakarta/Solo, Jawa Tengah, jurusan Seni Kriya sampai lulus tahun 1995. Melanjutkan ke program S-1 STSI Surakarta/Solo, Jawa Tengah. Kemudian melanjutkan studinya di program S-2 Institut Senirupa Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis dan lulus dengan predikat cum laude.
 

Sejak mulai berpameran pada tahun 1989 yang di awalinya dengan berpameran di Pekan Baru, Riau, ia telah cukup banyak menghasilkan lukisan dan melakukan berbagai eksplorasi, baik secara teknis maupun secara tematik dan gaya. Ada masanya ia membuat lukisan dengan tema ‘Kunci’, ada pula masanya ia membuat lukisan dengan tema ‘Binatang’.
 
Lukisan-lukisannya pada umumnya memperlihatkan semangat naifis dan beberapa terlihat kecenderungan ke arah primitifisme, yang bermain dalam dunia simbol secara naif. Akan tetapi, terlihat pula beberapa lukisannya yang memperlihatkan abstraksi dari simbol-simbol tertentu, sehingga menyebabkan pencitraan yang sukar untuk dicerna. Beberapa dari simbol-simbol yang tertera di kanvasnya berhubungan dengan pengalaman yang sangat personal.


Kepala Orang Cerdik,
 85 x 103 cm, mixed media (2000)

 
Ia akan mengawali karyanya jika terlebih dahulu tersentuh akan suatu kejadian. Kemudian, ia mencoba mendekati kejadian itu dengan cara membaca koran, melihat Televisi, atau datang langsung. Tetapi lebih sering ia membaca buku terlebih dahulu. Katanya, buku itu semata-mata sebagai filter agar karya yang keluar bukanlah perasaan emosional, tetapi sebuah karya yang mempunyai nilai. Karyanya banyak menggunakan medium instalasi atau performance untuk mempermudah penyampaian gagasannya. Sebab instalasi sebagai medium memiliki kemungkinan lebih besar untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu yang ‘dipikirkan’, tapi memiliki keterbatasan untuk mengabstraksikan sesuatu yang ‘dirasakan’.
 
Tercatat pameran tunggal yang pernah diadakannya antara lain : ‘Thole Merdhe’, Taman Budaya, Surakarta, Jawa Tengah (1996). ‘Pacul’, Gallery Nomad, Jakarta (1999). ’Kepala Berisi’, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2000). ‘The Strong Women’, Gallery Mon De Cor, Jakarta (2000). ‘The Arts in Symbolism’, Punta Art Gallery, Jakarta (2001), ‘The Small Size’, Twilite Gallery, Jakarta (2001), ‘The Strong Womans’, Maxima Gallery, Pondok Indah, Jakarta (2003). ‘Restrospection of Arts Gigih’, Gallery Linuwuh, Sukoharjo, Jawa Tengah (2006), ‘Kidung Dewi Sri’, Koi Gallery, di Kemang, Jakarta (2006). ‘Dewi Sri In The Green Area’, Galeri Soedjatmoko, Gramedia, Solo, Jawa Tengah (2006). ‘Diva Sri Migration’, Galeri Nasional, Jakarta (2008) dan ‘Rumah Cinta’, Bentara Budaya, Jakarta (2010). 
 
Selain sebagai pelukis peraih penghargaan The Best Ten Ecological Studies Program, Indonesia (1992) dan Finalist of The Winsors & Newton World-Wide Millenium Painting Competition Indonesia (2000) yang bermukim di Desa. Jabungan, RT 01/V, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini juga dikenal sebagai pematung. Memiliki sebuah galeri yang memajang karyanya di Taman Wisma Asri Bekasi, Jawa Barat. 
 
Menikah dengan Sri Kusrini Nawastiti, dikaruniai dua orang anak, Diah Ayu Syukma Pratiwi dan Larasati Nafas Budaya
 
 (Dari Berbagai Sumber)   

You may also like...