Gito Rollies

Nama :
Bangun Sugito Toekiman
 
Lahir :
Biak, Papua,
1 November 1947
 
Wafat :
Jakarta, 28 Februari 2008
 
Pendidikan :
Institut Teknologi Bandung jurusan seni rupa
(tidak selesai)
 
Profesi :
Penyanyi,
Penceramah Agama,
Aktor Film
 
Album Solo :
Tuan Musik
(Sokha Records, 1986),
Permata Hitam/Sesuap Nasi (Sokha Records, 1987),
Aku Tetap Aku
(Sokha Records, 1987),
Air Api
(Sokha Records, 1987),
Tragedi Buah Apel
(Sokha Records, 1987),
Goyah
(Sokha Records, 1987),
Nona/Esmiran
(Sokha Records, 1989),
Hari Dansa
(Bursa Musik, 1990),
Kembali Pada-Nya
(Sony BMG Indonesia, 2007)
 
Filmografi :
Perempuan Tanpa Dosa (1978),
Diujung Malam (1979),
Sepasang Merpati (1979),
Permainan Bulan Desember (1980),
Halimun (1982)
Kereta Api Terakhir (1982),
Kembang Kertas (1984),
Puteri Duyung (1985),
Ada Apa Dengan Cinta (2002),
Janji Joni (2004)
 
Sinetron :
Di Balik Matahari Bali (1993),
Wanita-Wanita (1995),
Ketulusan Kartika (1996),
Matahari Di Balik Awan (1996),
Buku Catatanku (1997)
 
Penghargaan :
Meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005
 


Penyanyi
Gito Rollies
 
 
 
Bangun Sugito atau populer dengan nama Gito Rollies, lahir di Biak, Papua, 1 November 1947. Dikenal sebagai rocker, aktor dan juga penceramah agama. Sementara nama Rollies yang dipakainya diambil dari grup bandnya asal Bandung yang pernah terkenal pada masa 1960-an sampai dengan 1980-an.
 
Perjalanan musik dan hidup Gito Rollies memang penuh warna. Berawal dari pentas pertunjukan musik rock yang hedonistik hingga ke dunia religius. Meskipun pad akhirnya Gito lebih menekuni kehidupan Islami sebagai seorang Dai, namun, Gito yang pertamakali bergabung di kelompok Bandung The Rollies di akhir dasawarsa 60-an itu, masih belum meninggalkan dunia musik. Pernah mengenyam pendidikan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), namun tidak selesai.
 
Gito memang telah banyak melahap asam garam dunia pentas pertunjukan dan rekaman. Sosoknya mulai dikenal khalayak ketika bergabung dengan The Rollies di tahun 1968. Dengan rambut bergaya afro-look, Gito dengan suaranya yang serak memang terlihat bagaikan James Brown, superstar musik soul dan funk kulit hitam.
 
Selain terampil bernyanyi, Gito pun memiliki aksi pentas yang memikat. Apalagi, ia ternyata menguasai instrumen trompet, hingga biola. Tak pelak, namanya pun dielu-elukan penggemar fanatiknya. Rekan segrupnya antara lain, Deddy Stanzah.
 
Tak lama berselang, karena berjanji akan berdisiplin dalam bermain musik, Gito pun kembali bergabung dengan The Rollies. Di sela-sela waktu luang, terkadang Gito ikut mendukung konser Superkid, kelompok trio yang dibentuk sahabat dekatnya, Deddy Stanzah, Deddy Dorres, dan Jelly Tobing. Di tahun 1976, berduet dengan Deddy Stanzah dalam album berbahasa Inggris dengan tajuk Higher and Higher yang keseluruhan lagunya ditulis oleh Denny Sabri. Salah satu yang menarik dalam album ini terdapat lagu yang diciptakan khusus oleh Denny Sabri setelah terinspirasi mengamati gerakan gerakan tubuh Gito bila sedang manggung, berjudul Do The Gito Dance. Lagu ini pun dikemas dalam aransemen musik soul dan funk, seperti penyanyi yang ditiru Gito, James Brown.
 
Pada paruh dasawarsa 80-an, Gito Rollies mulai menjajaki karier musik sebagai penyanyi solo dengan merilis album Tuan Musik. Karier solo Gito Rollies bisa dianggap berhasil. Dan, pihak Sokha Records tetap merilis album-album solonya, termasuk berduet dengan Farid Hardja maupun dengan Deddy Stanzah. Harpa Record dan Atlantic Record bahkan menggandeng Gito untuk berduet dengan Achmad Albar untuk menyanyikan lagu-lagu, seperti Kartika dan Donna Donna yang menjadi hit di dasawarsa 90-an.
 
Selain menuai sukses cemerlang di ranah musik, Gito pun ternyata memiliki bakat dalam seni peran. Di tahun 1978, ia sempat tampil dalam film layar lebar bertajuk Perempuan tanpa Dosa bersama Yenny Rachman. film Kereta Api Terakhir, film Ada Apa dengan Cinta yang disutradarai Rudy Sudjarwo. Film Janji Joni yang dibesut Joko Anwar. Di film ini pula, Gito berhasil meraih Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005.
 
 
Penyanyi bersuara serak basah dengan gaya panggung atraktif itu, sejak 2005 mulai ‘melawan’ kanker kelenjar getah bening yang dideritanya. Manakala kesehatanya turun Gito harus terbang ke Singapura untuk melakukan terapi. Bahkan beberapa kali mengalami koma.
 
Pelantun lagu Kemarau, Astuti dan Burung Pipit dan suami dari dari Michelle, seorang perempuan asal Belanda itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan pada 28 Februari 2008, setelah menerima perawatan akibat kanker getah bening yang dideritanya.
 
(Berbagai Sumber)

You may also like...