Goenawan Mohammad

Nama :
Goenawan Susatyo Mohammad
 
Lahir :
Karangasem, Batang,
Jawa Tengah,
29 Juli 1941
 
Pendidikan :
Fakultas Psikologi UI
(tidak tamat)
College of Europe (Belgia),
Harvard University
 
Aktifitas Lain :
Pendiri dan editor majalah TEMPO (1971-2004),
Kolumnis majalah TEMPO (1971 s/d sekarang)
 
Karya-karya :
Parikesit (1971),
Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang  (1972),
Interlude (1973),
Seks, Sastra dan Kita (1980),
Catatan Pinggir (1984),
Asmaradana (1992),
Kesusastraan dan Kekuasaan (1993),
Catatan Pinggir 2 (1994), Languages and Literature (bersama John McGlyn 1996),
Misalkan Kita di Sarajevo (1998),
Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001),
Kata Waktu (2001),
Sajak-Sajak Goenawan Muhamad :1961-2001 (2001),
Eksotopi : Tentang Kekuasaan, Tubuh dan Identitas (2002),
Conversations With Difference (2002),
Catatan Pinggir 3 (2005),
Goenawan Muhamad : Selected Poems (2006)
 
Karya Naskah Teater :
Panji Sepuh (1993),
Naskah untuk wayang kulit Jawa Wisanggeni (1995),
Alap-Alap Surtikanti (2002),
Tan Malaka
dan Dua Lakon Lain (2008)
 
Libretto :
 Kali (2000),
The King’s Witch (2001),
Opera 3 Babak Tan Malaka (2011)
 
Sutradara Tari Klasik :
Panji Sepuh (2007)
Dirademata (2009)
 
Penghargaan :
Mendapat beasiswa untuk belajar di Harvard University dari Nieman Fellow,
International Press Freedom Award (1998),
International Editor of the Year Award (1999),
Penghargaan Achmad Bakrie Untuk bidang Kesusastraan (2004),
Dan David Prize (2006),
Penghargaan Kebudayaan Kategori Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma (2015)

Sastrawan
Goenawan Mohammad
 
 
 
Goenawan Muhamad datang dari sebuah dusun nelayan di daerah kebudayaan Jawa, Karangasem, Batang, Jawa Tengah. GM begitu ia biasa disapa. Sudah menulis sejak berusia 17 tahun. Pendidikan formal ia lalui di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, walaupun tidak selesai. Sang penyair muda ini adalah sosok intelektual muda yang selalu gelisah menjelang keruntuhan orde lama. Ia pun turut dalam perumusan Manifes Kebudayaan, yang pada jaman kekuasan Soekarno sering diejek sebagai Manikebu.
 
Setelah orde lama tumbang ia menuntut ilmu di College of Europe, Belgia. Sepulang dari sana menjadi redaktur harian Kammi (1969-1970), dan kemudian Tempo (1971-1994). Di majalah ini setiap minggunya, ia menulis rubrik Catatan Pinggir. Rubrik ini bisa dikatakan sebagai komentar, gumaman, atau semacam marginalia. Ia juga dikenal sebagai penulis puisi. Karyanya antara lain Parikesit, tahun 1969 dan Interlude tahun 1971.
 
Lirik-lirik puisinya membuat kita seperti menghadapi alam yang terus menerus melepaskan isyarat, religius, halus dan terselubung. Sosok yang low profile ini akhirnya tersengat juga ketika Tempo bersama Detik dan Editor diberangus oleh SK Menteri Penerangan No. 123 tanggal 21 Juni 1994. Ia turun ke jalan, memprotes pembreidelan itu. Sejak saat itu, GM mengubah haluannya. Kendati majalah yang dipimpinnya sejak tahun 1971 lahir kembali pada tahun 1998, GM memutuskan Lengser dari kursi pemimpin redaksi.
 
Ia memilih berkutat dalam komunitas budaya di Teater Utan Kayu. Selain itu, ia juga sibuk dengan lahan barunya, Radio Berita 68 H yang dioperasikan oleh ISAI (Institut Studi Arus Informasi). Mungkin seperti Catatan Pinggir yang ditulisnya di Tempo, hidupnya memang tidak pernah mau menunjukkan sikap yang jelas. Mengapa ? “Memang, banyak hal yang saya sendiri tak tahu jawabnya. Dunia ini sebetulnya sudah penuh jawaban” katanya yang juga seorang sutradara ‘Panji Sepuh’ versi tebaru yang dipanggungkan di Museum Nasional Singapura (2007).
 
Selain menulis esai dan puisi, ia juga menulis untuk teater. Karya lakonnya antara lain, drama tari Panji Sepuh (1993), naskah untuk wayang kulit Jawa Wisanggeni (1995), Alap-Alap Surtikanti (2002), Tan Malaka dan Dua Lakon Lain (2008). Disamping itu, dua libretto dalam bahasa Inggris untuk opera kontemporer Kali (dipentaskan di Seattle, USA, tahun 2000), dan The King’s Witch (dengan Tony Prabowo, dipetaskan sebagai konser di Lincoln Center, New York, USA tahun 2001)
 
Pada 6 Juni 2010 lalu, Goenawan Mohammad mengembalikan penghargan Achmad Bakrie yang diterimanya pada tahun 2004 kepada Freedom Institute, lembaga yang memberikan penghargan tersebut. Pengembaliannya itu didasari atas kekecewaannya terhadap sikap Aburizal Bakrie yng dinilainya bertentangan dengan cita-cita mulia yang didukungnya dengan pemberian penghargaan itu. Selain piala, ia juga mengembalikan uang hadiah senilai 100 juta dan bunganya sebesar 54 juta yang dihitung berdasarkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia sejak 2004. 
 
Pada 23-24 April 2011 lalu, bersama Tony Prabowo, ia mementaskan Opera 3 Babak Tan Malaka di Graha Bhakti Budaya, TIM. Opera ini adalah karya operanya yang pertama dalam bahasa Indonesia. Pada pementasan ini, ia bertindak sebagai sutradara. Sebelumnya, ia menyutradarai tari klasik Dirademata dari Keraton Mangkunegaraan, Solo, yang dipanggungkan di Teater Salihara (2009).  
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...