Guruh Soekarno Putra

Seniman Tari
Guruh Soekarno Putra
 
 
 
Ia mirip benar dengan Bung Karno dalam satu hal, gemar membaca. Seperti keempat anak Soekarno-Fatmawati lainnya, si bungsu di haruskan belajar menari pada masa kecilnya. Ia sendiri pengemar musik. Di SD dan SMP Yayasan Perguruan Cikini (Yapercik), ia membentuk band Bocah dan band Flower Poetman. Bintang Pelajar SD Cikini di kelas VI ini, nilai berhitungnya 9,8 dan bahasa 9,9.  Mulai menunjukan bakat kepemimpinannya di SMA, dengan menjadi ketua bagian kesenian.
 
Tiga tahun ia belajar arkeologi pada Universitas Amsterdam, Belanda. Tetapi, tetapi tidak sampai rampung. Kembali ke Jakarta, ia membentuk band Guruh Gipsy, antara lain dengan mengandalkan keterampilannya bermain piano. Minatnya terhadap musik dan tari tradisional semakin besar. Belajar tari Bali pada Agung Mandra, I Wayan Diya dan I Gusti Kompyang Raka. Di SMA, ia pernah belajar pada Mochtar Embut bersama Ismail Marzuki yang merupakan komponis pujaanya.
 
Dalam masa-masa berikutnya, ia mulai berbicara sebagai penata tari dan pencipta lagu. Pada 1976, lagunya ‘Renjana’ terpilih mewakili Festival Lagu Pop Internasional di Tokyo, Jepang. Popularitasnya yang menaik turut mendukung keberhasilan kelompok Swara Mahardhika (SM), yang dibentuk dua tahun sebelumnya. Dari mulanya belasan anggota, SM kemudian menghimpun ratusan pengikut yang biasanya tampil lewat pemanggungan tari dan musik yang kolosal dan terkesan mewah.
 
Januari 1979, ia tampil menggemparkan lewat pertunjukan yang spektakuler di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Berjudul Pergelaran Karya Cipta Guruh Sukarno Putra (I), sekitar 100 musisi dilibatkannya. Biaya pertunjukan ini mencapai Rp. 53 juta, jumlah yang cukup besar pada waktu itu. September 1980, ia muncul lebih semarak melalui Untukmu Indonesiaku. Akhir Maret s/d awal April 1984, seniman panggung yang juga bisa melukis ini muncul kembali di Balai Sidang, judul pertunjukannya tetap patriotis, Cinta Indonesia. Tetapi, pertunjukannya dinilai banyak oring glamour, untuk itu ia berdalih, “Orang desa yang memakai gigi emas juga glamour, atau kuda lumping yang memakai kaca mata. Lagi pula, Kenapa kalau glamour ? Toh yang saya pakai bukan duit rakyat”, ujarnya.
 
20 September 2002, ia menikah dengan Gusyenova Sabina Padmawati, seorang penari asal Uzbekistan, di masjid Kucha, Tashkent, Uzbekistan. Pada 1 September 2013, bersama Kinarya GSP, ia mempersembahkan pertunjukan Sri Mimpi Indonesia di Plenary Hall Jakarta Convention Centre. 
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

Nama :
Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra
 
Lahir :
Jakarta, 13 Januari 1953
 
Pendidikan :
SD Perguruan Cikini (1965),
SMP Percik (1968),
 SMA Percik Jakarta (1971), Fakultas Arkeologi University Van Amsterdam, Belanda
(tidak selesai, 1974),
FISIP jurusan Administrasi Niaga Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Niaga Mandala Indonesia (2008) 
 
Aktifitas Lain:
Ketua Umum Swara Mahardika (1977),
Komisaris Cipta Indonesia (1983),
Direktur PT. Guruh Sukarno Persada
 
Lagu :
Renjana,
Januari Kelabu,
Kala Cinta Menggoda,
Puspa Indah Taman Hati
 
Filmografi :
Untukmu Indonesiaku,
Sembilan Wali
 
Pencapaian :
Pemenang Pertama untuk komposisi lagu berjudul Renjana dalam Festival Lagu Populer Tingkat Nasional (1976),
Penghargaan Ilustrasi Musik Terbaik dalam Festival Film Indonesia  di Ujung Pandang (1978),
Meraih Kawakami Award dan Audience Selections Award dengan lagu Kembalikan Baliku (1987),
Pemenang Lagu Terpopular dalam Festival Lagu Popular Tingkat Nasional dengan lagu Kembalikan Baliku (1987),
Lifetime Achievement Award pada acara AMI Award (2010) 

You may also like...