Gus tf Sakai

Nama :
Gustrafizal Busra
 
Lahir :
Payakumbuh,
Sumatera Barat,
13 Agustus 1965
 
Pendidikan :
Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat (1994)
 
Penghargaan :
Hadiah I Sayembara Mengarang Cerpen dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Payakumbuh untuk cerpen Usaha Kesehatan di Sekolahku(1979),
Hadiah II Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Anita untuk cerpen Kisah Pinokio dan Cinderella (1985),
Hadiah I Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet Ngidam (1986),
Hadiah III Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Kartini untuk cerpen Nenek (1986),
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Tiara untuk cerpen Tiga Pucuk Surat Buat Muhammad (1987),
Hadiah III Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Estafet untuk cerpen Gun (1988),
Hadiah II Sayembara Mengarang novel dari majalah Kartini untuk novel Buram Berlatar Suram (1988),
Hadiah II Sayembara Mengarang Novelet Remaja dari majalah Anita untuk novelet Dutch Doll (1989),
Hadiah I Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi Didaktisisme Catur Lima Episode (1989),
Hadiah Harapan I Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi Menunggu (1989),
Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi Tentang Tuan Rumah
dan Tamu yang Dibunuhnya (1990),
Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Iqranidya Club Cilacap untuk puisi Bola Salju (1990),
Hadiah nomine Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Suara Merdeka untuk cerpen Urban(1991),
Hadiah I Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Gadis untuk
novelet Ben(1991),
Hadiah Harapan I Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Bali Post untuk cerpen Sebuah Lembah Setelah Lebah Pindah (1991),
Hadiah III Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet Lembah Berkabut (1991),
Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi Aforisme Anggur (1992),
Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi Perkawinan Mawar (1992),
Hadiah III Sayembara Penulisan Budaya dari Panitia Pekan Budaya Minangkabau untuk esai Asketik, Holistik, Pradigma Modernity (1993),
Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi Tak Pernah Kubutuh Sebuah Telepon (1993),
Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Buletin Sastra Budaya Kreatif Batu untuk puisi Daun yang Baik (1994),
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Yayasan Taraju Sumatra Barat untuk puisi Seseorang dalam Lorong Bernama Zaman (1994),
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Matra untuk cerpen Tak Ada Topeng dalam Diary (1996),
Hadiah II Sayembara Penulisan Esai dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk esai Bentuk Budaya dalam Masyarakat Multietnik (1996),
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerber dari majalah Femina untuk novel Jilid Laki-laki untuk Ibu (1998)
Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen Lukisan Tua, Kota Lama, Lirih Tangis Setiap Senja (1999),
Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen Sungguh Hidup Begitu Indah (1999),
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen Ulat dalam Sepatu (1999),
Sembilan Terbaik Sayembara Penulisan Puisi Perdamaian dari Panitia Lomba Cipta Puisi Perdamaian Art and Peace untuk puisi Peristiwa Menanam (1999),
Hadiah II Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen Kupu-Kupu (1999),
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen Laba-Laba (2000),
Sepuluh Unggulan Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen Karena Kita tak Bersuku (2000),
Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001),
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen Upit (2001),
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Novel Remaja dari Penerbit Mizan untuk novel Garis Lurus, Putus (2002),
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen Gambar Bertulisan Kereta Lebaran (2002),
Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002),
Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2002),
Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi  Susi 2000 M (2002),
Hadiah Harapan I Sayembara Mengarang Novel dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novel Ular Keempat (2003),
SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004),
Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (2004),
Hadiah cerpen pilihan Kompas untuk cerpen yang berjudul Belatung (2005),
Sastrawan Berdedikasi dari Harian Kompas (2010)

Karya-Karya:
Segi Empat Patah Sisi
(Novel, 1990),
Segitiga Lepas Kaki
 (Novel, 1991),
Ben (Novel, 1992),
Istana Ketirisan
(Cerpen, 1996),
Sangkar Daging
(Kumpulan Puisi, 1997),
Tambo (Novel, 2000),
Kemilau Cahaya (1999),
Perempuan Buta
(Cerpen, 1999),
Kemilau Cahaya (2001),
Perempuan Buta (2002),
Ibu (2002),
Tiga Cinta
(Novel, 2002),
 Laba-Laba (Cerpen, 2003),
Ular Keempat (2003),
Daging Akar     
  (Kumpulan Puisi, 2005),
Jejak Yang Kekal
 (Cerpen, 2005),
Sumur (Cerpen, 2006),
Perantau (2007)


Gus TF Sakai
 
 
 
Nama yang sering digunakannya dalam berkaraya adalah Gus tf atau Gus TF Sakai. Bernama lengkap Gustafrizal Busra, dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 13 Agustus 1965. Sejak masih kanak-kanak bersama sembilan saudaranya ia dibesarkan oleh ibunya, yang hidup sebagai pedagang kecil dengan berjualan makanan tradisional dikarenakan ayahnya, Bustaman, yang berprofesi sebagai petani meninggal.
 
SD, SMP, dan SMA ia tamatkan di Payakumbuh, kemudian melanjutkan ke Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang, dan lulus pada tahun 1994. Sedari kecil ia sudah gemar menulis. Publikasi pertamanya, cerita pendek, memenangkan hadiah I disebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD, tahun 1979. Sejak saat itu, Ia tidak pernah berhenti menulis dan mengikuti sayembara menulis puisi, cerpen, novel dan esai. Sampai dengan tahun 2003 sudah mengikuti sayembara menulis sebanyak 36 buah. 
 
Selepas SMA, setelah mempublikasikan karya-karyanya dengan berbagai nama samaran, pada tahun 1985, ia pindah menetap ke Payakumbuh, Padang, Sumatera Barat Bersama Istrinya, Zurniati dan ketiga anaknya Abyad Barokah Bodi, Khanza Jamalina Bodi dan Kuntum Faiha Bodi. Sejak saat itulah ia mulai menggunakan dua nama, Gus tf dan Gus tf Sakai. Meskipun menetap di kota kecil, Payakumbuh, dari kampungnya ia terus menulis yang kemudian diterbitkan oleh penerbit dan mass media Jakarta.  Bersama dengan Sapardi Djoko Damono, sejak tahun 2002, ia menulis jurnal tiga bulanan yang memuat segala hal tentang puisi.
 
Ketika ditanyakan oleh sebuah mass media mengapa ia memakai dua nama, Gus tf untuk puisi dan Gustf Sakai untuk prosa, penulis yang karyanya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation pada tahun 2002 dengan judul The Barber ini mengatakan, “Untuk sugesti, biar keduanya serius pada bidangnya.” Walaupun ia hidup tidak berkecukupan, ia sangat menikmati profesinya. Ia pun menjadi sastrawan yang menonjol di generasinya.  
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply