Gusmiati Suid


Nama :
Gusmiati Suid
 
Lahir :
Batu Sangkar,
Sumatra Barat,
16 Agustus 1942
 
Wafat :
Jakarta, 28 September 2001
 
Aktifitas lain :
Pendiri Gumarang Sakti (1982)
 
Pencapaian :
Bessies Award dari New York Dance and Performance (1991)
 
Karya :
Kabar Burung
Api Dalam Sekam
Rantak (1976)

Seniman Tari
Gusmiati Suid
 
 
 
Ia adalah seorang seniman Indonesia, yang telah memberikan kontribusi kreatif terhadap perkembangan kesenian, terutama seni tari dan musik yang berangkat dari tradisi budaya Minangkabau. Melalui Gumarang Sakti yang didirikan tahun 1982, ia telah mengukirkan kreatifitasnya melalui karya-karya pertunjukkan tari dan musik, dan mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang seniman Indonesia terkemuka yang mendapat penghargaan luas baik didalam maupun luar negeri.
 
Sebagaimana gadis desa di Minang umumnya, sejak kecil ia rajin pergi ke surau untuk belajar mengaji, bersembahyang, memperdalam pengetahuan dan pemahamannya akan hukum dan ajaran Islam. Mamaknya mengajarkan sari ajaran ‘alam terkambang jadi guru’, mengenali lingkungan dengan teliti, bekerja keras, dan membentuk disiplin diri. Baginya tak pernah ada jalan pintas. Tak ada anugerah yang jatuh dari langit. Setiap prestasi dan keberhasilan hanya bisa diperoleh melalui kerja keras, perjuangan tak henti, dan disiplin diri yang tinggi.
 
Ketika tumbuh menjadi remaja, ia mulai belajar tari Melayu dan menjadi guru. Tetapi komitmennya kepada pencak silat, tari Minang, dan nilai-nilai tradisi tak pernah pudar. Ia mencintai tradisi tetapi tidak melihatnya sebagai barang mati. Tradisi itu baginya tumbuh dan berkembang sesuai dengan tempat dan masanya, sesuai dengan petuah Minang, Alam Takambang Jadi Guru, Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung, atau Sakali Aia Gadang, Tapian Baralih.
 

Melalui perjuangan keras dan keyakinan diri, puteri Asiah dan Said Gassim Shahab itu berhasil membentuk diri menjadi penari-penata tari yang handal dan memiliki harga diri dengan rasa cinta yang mendalam kepada bangsa, negeri, dan kemanusiaan, bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga dalam pergaulan antar bangsa.

Dalam perjalanan karier untuk memenuhi ambisi dan aspirasi tarinya, seniman tari penuh daya innovasi ini terpaksa harus meninggalkan kampung halaman dan hijrah bersama keluarganya ke Jakarta di mana ia tinggal sampai akhir hayatnya. Dalam karya-karyanya yang lugas, indah, dan menyentuh haru dua hal hampir selalu kita temui : adat dan syarak. Kemasaan boleh baru, koreografi dapat dari barat, tetapi gerak, musik, dan vokal selalu didominasi oleh nuansa Minang, sementara isi dan pesan tari tetap setia kepada nilai-nilai kemanusiaan.
Ia juga sangat memikirkan (prihatin mengamati) suasana masyarakat yang ia rasakan semakin kehilangan arah seperti ia ungkapkan di dalam seruan. Melalui karya tarinya, karya lain yang penuh daya spiritual antara lain ‘Kabar Burung’, ia mengingatkan kepada anggota masyarakat yang lupa akan ajaran-ajaran Islam untuk berdoa dan menyerukan ashma Allah. “Kita harus memohon bantuan dan petunjuk dari Allah agar terhindar dari dosa, salah langkah, dan tindak korup”. katanya. Di dalam garapan tari ‘Api Dalam Sekam’, ia menuangkan keprihatinannya yang mendalam akan situasi kritis berbangsa dan bernegara kita yang bak menyimpan bara di dalam sekam. Yang setiap saat dapat menyala memusnahkan nilai-nilai keselarasaan berbangsa dan bernegara. Ia mengambil inspirasi tradisi tupai janjang, salah satu bentuk bakaba Minang, di mana di satu pihak ia mengambil tokoh-tokoh dari legenda, di pihak lain secara kreatif memberikan interpretasi baru yang relevan dengan masanya.
‘Kabar Burung’ berkisah tentang seorang tokoh yang kebingungan mencari nuraninya yang hilang. Setelah bersusah payah mencarinya, ternyata ia temukan di museum. ‘Kabar Burung’ adalah sebuah peringatan yang lembut dan indah  tentang situasi negara dan bangsa yang tak menentu, terutama akan semakin banyaknya orang-orang penting yang kehilangan hati nurani.
Ia dianggap berhasil menciptakan sesuatu yang baru dan meraih penghargaan di Pekan Tari Rakyat Indonesia pada tahun 1978. Ia juga telah beberapa kali mementaskan karyanya di luar negeri, diantaranya di Laussane, Swiss, pada tahun 1980, dan di Asia Festival of Theatre, Dance and Martial Art di Calcutta, India, pada tahun 1987. Pada tahun 1991 ia menerima penghargaan Bessies Award dari New York Dance and Performance. Sanggar tari Gumarang Sakti yang didirikannya pada tahun 1982 menjadi satu-satunya wakil Asia di dalam acara tari Internationalis Tanz Festival ke-6 di Jerman pada bulan Juni tahun 1994. Festival ini diselenggarakan untuk memperingati 100 tahun lahirnya tari modern.
Ia pantas mendapat penghargaan karena komitmennya yang tak pernah kendor terhadap tiga hal : adat, syariat, dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia telah pergi, tetapi sosok, sikap, keteguhan hati, pengorbanan, dan pengabdiannya kepada tari, seni, negara dan bangsa Indonesia takkan pernah hilang.
 (Dari Berbagai Sumber)

You may also like...