Halim HD

Nama :
Halim Hardja /
Liem Goan Lay
 
Lahir :
Solo, Jawa Tengah, 1951
 
Pendidikan :
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (tidak selesai ,1972)
 
 


Penulis
Halim H.D
 
 
 
Bernama asli Liem Goan Lay, lahir di Solo, Jawa Tengah, tahun 1951. Putera pasangan Kun Oo Nie dan Lim Cing Siang yang seorang pedagang sekaligus petani ini sudah mencintai seni sejak kecil. Meski sudah dipercayai oleh ayahnya untuk mengelola sebuah gudang ketika masih duduk di sekolah rakyat, namun Halim yang mempunyai sembilan saudara ini kerap terlibat pada pementasan drama sejak duduk di kelas empat sekolah rakyat. Nama Halim Hardja atau biasa di singkat Halim H.D, di dapatnya ketika ia masih di SMP, tak lama setelah Presiden Soeharto mencanangkan program pembauran yang memaksa nama-nama asli Cina dihilangkan.
 
Saat menjadi aktor di panggung, ia pernah lupa naskah yang mesti dihafalnya karena gugup. Sejak saat itu, ia memilih menjadi koordinator. Kegiatan ini dia lakukan pula di rumah. Ia mengatur latihan dan pementasan Gelora Cening, nama kelompok gambang kromong milik kakaknya. Kegiatan semacam ini berlanjut hingga sekarang.
 
Banyaknya bacaan di perpustakaan pribadi milik keluarga Lim Cing Siang membuatnya menjadi gemar membaca sejak kecil. Bahkan karena terinspirasi oleh novel Agatha Christie dan buku-buku filsafat, ia sempat tertarik menjadi detektif atau filsuf. Sampai akhirnya ia melanjutkan belajar di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 1972, namun kemudian ia keluar pada tahun 1977.
 
Latar belakang pendidikannya tersebut, membuat Halim kian berbeda dari orang Cina umumnya, yang cenderung menggeluti dunia bisnis. Ia bahkan kurang setuju terhadap cara mengekspresikan budaya Cina hanya dengan menonjolkan barongsai dan liong. Di mata Halim, ini sekadar ‘Mandarinisasi’. Yang lebih penting, bagaimana orang Cina berperan tak cuma di dunia ekonomi, tapi juga di bidang sosial dan budaya.
 
Meskipun kehidupannya di dunia seni bukanlah tujuannya sejak awal. Namun ia mantap menjalaninya. Dorongan inilah yang memberinya kekuatan mengayuh sepeda sepanjang 30-an kilometer dari Yogya ke Parangtritis demi melihat acara Kaum Urakan untuk melihat aksi W.S. Rendra dan Arief Budiman, yang dikenalnya lewat majalah Horison. Saat ia masih bersekolah di SMA di Yogyakarta. Bahkan pada 1980-an, ia kerap mondar-mandir ke Salatiga untuk berkumpul dengan Ariel Heryanto dan Arief Budiman, pendiri Yayasan Geni, untuk berbagi pengalaman. Sebab Halim ketika itu aktif mengorganisasikan sebuah koperasi untuk buruh.
 
Kedekatannya dengan Arief Budiman dan Ariel Heryanto sempat mendatangkan masalah saat ia mengadakan sarasehan kesenian bertajuk ‘Sastra Kontekstual’ di Solo pada Oktober 1984. Pihak Akademi Seni Karawitan Indonesia sebagai penyelenggara hampir membatalkan acara tersebut. Mereka khawatir kehadiran Arief dan Ariel akan mengundang petaka karena keduanya tengah diincar pemerintah Orde Baru pada saat itu. Akhirnya Murtidjono, pemimpin Taman Budaya Surakarta, mengusulkan untuk memakai Monumen Pers.
 
Ia juga sering menjadi incaran aparat. Banyak surat untuk dirinya yang tidak sampai ke rumahnya atau mampir dulu di kantor sejumlah instansi. ia sering dipanggil dan diinterogasi. Namun, Rintangan dari aparat tidak mengendurkan aktivitasnya di dunia seni. Ia terus mengembara. Tak hanya sekadar menonton pertunjukan, ia kerap pula ikut memprovokasi kawan-kawannya agar bersemangat melakukan kegiatan seni.
 
Pria berkacamata minus ini bersama Linus Suryadi AG (alm) dan Slamet Riyadhi, menjadi editor ‘Antologi Bulaksumur-Malioboro’ (1975). Bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan Philippines Educational Theater Association (PETA), ia juga pernah mengorganisasikan workshop teater dan sastra untuk masyarakat pedesaan di berbagai kota di Jawa pada 1983-1988. Pada 1989-1992, giliran ia menularkan pengetahuannya dengan menjadi dosen tamu, mengajarkan budaya di Universitas Michigan, Amerika Serikat.
 
Ia juga sempat menjadi asisten riset Benedict Anderson, Indonesianis dari Cornell University. Bahkan, pada 1998, ia menjadi pembicara dalam acara Konferensi Studi Indonesia-Asia di Melbourne, Australia. Ia tercatat pula pernah mementaskan Takeya Contemporary Dance Company (TCDC-Tokyo) di Solo pada 1995, serta ikut memprakarsai terselenggaranya Makassar Arts Forum. Karya esainya pernah di muat di harian Surabaya Post, Memorandum dan Jurnal Kalam.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...