Hamsad Rangkuti

Nama :
Hasyim RangkutiLahir :
Titikuning, Medan,
Sumatera Utara,
7 Mei 1943Pendidikan :
SLTA (tidak tamat)Karier :
Penulis cerita pendek sejak 1962,
Pemimpin Redaksi Majalah HorisonPencapaian :
Hadiah Harapan Sayembara menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (1981), 
Penghargaan Insan Seni Indonesia Mal Taman Anggrek & Musicafe (1999),
Penghargaan Sastra Pemerintah DKI (2000)
Penghargaan Khusus Kompas atas kesetiaan dalam penulisan cerpen,
Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2001),
Penghargaan Khusus KOMPAS (2001),
Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 tahun Balai Pustaka (2001),
SEA Write Award (2008),
Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata (2014)
 
Karya Tulis :
Sebuah Nyanyian di Rambung Tua (1959),
Ketika Lampu Berwarna Merah (1981),
Lukisan Perkawinan (1982),
Cemara (1982),
Sampah Bulan Desember,
Sukri Membawa Pisau Belati,
Umur Panjang Untuk Tuan Joyokoroyo (2001),
Senyum Seorang Jenderal (2001),
Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu

Sastrawan
Hamsad Rangkuti
 
 
 
Telah lama malang-melintang dalam dunia sastra. Dengan cerpen-cerpennya, ia turut mewarnai kesusastraan Indonesia. “Seorang sastrawan harus total di dalam karyanya, sehingga bisa menghasilkan karya yang baik,” kata penerima Penghargaan Khusus Kompas 2001 ini. Ia dinilai setia pada profesinya sebagai penulis cerita pendek. Orang yang berpenampilan sangat sederhana ini lahir di Titikuning, Medan, Sumatera Utara. Bersaudara enam orang saudaranya, masa kecil ia lewatkan di Kisaran, Asahan, Sumatera Utara. Ia suka menemani bapaknya, yang bekerja sebagai penjaga malam yang merangkap sebagai guru mengaji di pasar kota perkebunan itu.
 
Kehidupan yang kurang beruntung, mengharuskan Hamsad membantu ibunya ikut mencari makan dengan menjadi penjual buah di pasar. Selain, bekerja sebagai buruh lepas di perkebunan tembakau. “Dulu belum ada semprotan hama, jadi dikerahkan orang untuk merawatnya. Tiap hari saya ikut ibu membalik-balik daun tembakau, bila ada ulatnya kita ambil,” paparnya. Setelah terkumpul, ulat-ulat itu mereka masukkan ke dalam tabung, yang kemudian dihitung jumlahnya oleh mandor perkebunan,” katanya. Menghadapi kepedihan karena belitan kesulitan hidup, Hamsad pun sering menghabiskan hari-harinya dengan melamun dan berimajinasi bagaimana memiliki dan menjadi sesuatu. Berkembanglah berbagai pikiran liar, yang antaranya ia tuangkan dalam cerita pendek. Kebetulan juga ayahnya suka mendongeng. “Saya merasa bakat mendongeng itu saya peroleh dari ayah saya. Cuma dia secara lisan, saya dengan tulisan,” katanya.
Tak mampu berlangganan koran dan membeli buku, Hamsad terpaksa membaca koran tempel di kantor wedana setempat. Di sanalah ia berkenalan dengan karya-karya para pengarang terkenal seperti Anton Chekov, Ernest Hemingway, Maxim Gorki, O. Henry, dan Pramoedya Ananta Toer. Dari sini pula kepengarangannya tumbuh dan berkembang. Masih di SMP di Tanjungbalai, Asahan, ditahun 1959, ia menghasilkan cerpennya yang pertama, ‘Sebuah Nyanyian di Rambung Tua’, yang dimuat di sebuah koran di Medan. Pendidikan SMA nya hanya sampai kelas 2 tahun 1961, karena ia tak mampu lagi membayar uang sekolah. 
Hamsad lalu bekerja sebagai pegawai sipil Kantor Kehakiman Komando Daerah Militer II Bukit Barisan di Medan. Tapi hasrat menjadi pengarang lebih besar daripada bertahan sebagai pegawai. Saat itu kebetulan akan berlangsung Konferensi Karyawan Pengarang seluruh Indonesia (KKPI) di Jakarta, dan ia termasuk dalam delegasi pengarang Sumatera Utara di tahun 1964. “Setelah pulang konferensi itulah saya memutuskan tinggal di Jakarta,” papar penandatangan Manifes Kebudayaan ini. Ia tinggal di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat. “Saya tidur di ubin beralaskan koran. Karena ubinnya lebih rendah dari jalan, lantainya sering kebanjiran kalau hujan,” kata Hamsad mengungkapkan tahun-tahun awal penderitaannya di Jakarta. Namun di sini ia bisa menguping obrolan para seniman senior, yang sedang mengadakan acara kesenian atau sekadar berkumpul-kumpul di sana.
 
Kini Hamsad telah mencapai cita-citanya menjadi penulis cerpen yang berhasil. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti ‘Sampah Bulan Desember’ yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dan ‘Sukri Membawa Pisau Belati’ yang diterjemahkan kedalam bahasa Jerman. Dua cerpen dari pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka tahun 2001 ini, ‘Umur Panjang Untuk Tuan Joyokoroyo’ dan ‘Senyum Seorang Jenderal’ pada 17 Agustus dimuat dalam Beyond the Horizon, Short Stories from Contemporary Indonesia yang diterbitkan oleh Monash Asia Institute. Tiga kumpulan cerpennya ‘Lukisan Perkawinan’ dan ‘Cemara’ di tahun 1982 serta ‘Sampah Bulan Desember’ di tahun 2000, masing-masing diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, Grafiti Pers, dan Kompas.
 
Novel pertamanya, ‘Ketika Lampu Berwarna Merah’ memenangkan sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta, yang kemudian diterbitkan oleh Kompas pada 1981. Bagi Hamsad, proses kreatif lahir dari daya imajinasi dan kreativitas. Sehingga ia pernah bilang pada suatu seminar di Makassar, Sulawesi Selatan, bahwa para seniman rata-rata pembohong. Tapi bagaimana ia sendiri terilhami? Hamsad lalu menunjuk proses penciptaaan cerpennya ‘Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu’.
 (Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...