Hanny R. saputra

Nama :
Hanny R Saputra
 
Lahir :
Salatiga, Jawa Tengah,
11 Mei 1965
 
Pendidikan :
SMA Kristen I Salatiga,
 Jawa Tengah
Institut Kesenian Jakarta/IKJ
 jurusan Penyutradaraan (1985)
 
Filmografi :
Lelaki Tua (1991),
HB Jassin yang Duduk di Kursi Imajinasi
(film Dokumenter),
Sepanjang Jalan
Kenangan (1997),
Nyanyian Burung (1999),
Lo Fen Koei (2001),
Virgin (2004),
Mirror (2005),
Heart (2006),
Love is Cinta (2006),
SSSTTT … Jadikan Aku Simpanan (2009),
Sweetheart (2010),
Milli & Nathan (2011),
Dibawah Lindungan Ka’Bah (2011),
Love Is U (2012),
12 Menit Kemenangan Untuk Selamanya (2014),
Strawberry Surprise (2014), Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (2015)
 
Pencapaian :
Film Sepanjang Jalan Kenangan meraih predikat Film Terbaik pada Festival Sinetron Indonesia (1997),
Film Nyanyian Burung memperoleh Golden Award di Cairo International Film Festival for Children (2000),
The Best Cinematographi, Editor & Nominator Best Director Asian Television Technical & Creative Award (2001)

Sutradara Film
Hanny R. Saputra
 
 
 
Mulai menyukai dunia seni sejak Sekolah Dasar. Ia merasa agak depresi menghadapi pelajaran-pelajaran di sekolah kecuali pelajaran seni. Nilai-nilainya yang paling menonjol di bidang kesenian dan olahraga. Ketika duduk di bangku SMA Kristen I Salatiga, Jawa Tengah,  ia aktif di teater sekolah. Karena itulah, ia memutuskan untuk masuk IKJ/Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1985 dan mengambil jurusan penyutradaraan.
 
Mungkin karena sudah ada bakat, ia melalui pendidikan di IKJ dengan cukup mudah. Tantangan justru datang setelah ia selesai kuliah. Saat itu industri film sedang mati suri. Sementara, stasiun televisi swasta yang muncul baru RCTI. Seolah media untuk berekspresi begitu terbatas. Untungnya, saat itu pengaruh Garin Nugroho dengan film-film dokumenternya cukup kuat. Ia pun ikutan mencoba membuat film dokumenter bersama teman-temannya di IKJ. Sebelum benar-benar membuat film, ia memang lebih banyak terlibat dalam pembuatan film dokumenter dan film iklan.
 
Perlahan-lahan ia mulai mencoba membuat film lepas untuk stasiun televisi. Sekitar tahun 1997, ia mencoba membuat film berjudul Sepanjang Jalan Kenangan yang dibintangi Sandy Nayoan. Yang menjadi kebanggaan, film tersebut berhasil meraih penghargaan sebagai Film Terbaik FSI (Festival Sinetron Indonesia) dan meraih 8 Piala Vidia. Semangatnya tak surut untuk membuat film-film berikutnya. Ia tetap membuat film, namun juga tidak mau sembarangan.
 
Tinggal bersama ibunya, Andriyani, yang telah memberikan doa dan dukungan yang luar biasa. Ibunya berpesan, bila ia ingin mengikuti jiwa idealisme, lebih baik jangan berkeluarga dulu. Menurutnya, bila sudah berkeluarga akan sulit menjalaninya. Sebab, ada tanggung jawab dan tuntutan ekonomi.
 
Ada sebuah filmnya yang terpaksa masuk peti es dan tidak pernah ditayangkan disini. Sementara, film itu justru mendapat apresiasi yang lebih baik saat diputar di Australia. Hal itu merupakan titik balik dalam hidupnya. Ada tingkat kelelahan yang luar biasa dalam diri ketika bekerja dengan sebuah idealisme akhirnya menjadi sebuah dunia yang penuh kesepian.
 
Mulai beralih ke film-film komersial. ketika ia bertemu dengan Parwez Servia produser Starvision. Meski demikian, ia berusaha membuat sebuah film ringan dan enak ditonton namun tetap bergizi. Artinya, film tersebut harus membawa sebuah visi idealisme dengan nilai komersial. Hal itu melebur saat ia menggarap film Virgin yang akhirnya laris dipasaran. Bahkan, para pemainnya menjadi ikon bagi kaum remaja. Lewat film Virgin-lah semua pintu gerbang mulai terbuka. Ia jadi lebih mudah mendapatkan bargaining dengan produser. 
 
Beruntung ia bertemu dengan beberapa produser yang bisa memahaminya. Salah satunya adalah Leo Sutanto. Dia termasuk orang yang masih bisa menerima sisi idealismenya. Salah satu kerjasamanya dengan Leo Sutanto adalah film Lo Fen Koei yang dibintangi oleh Ferry Salim dan Olga Lydia. Film itu sempat ditayangkan disalah satu televisi swasta dan mendapat sambutan bagus. Film Lo Fen Koei juga berhasil meraih Best Cinematography, Editor & Nominator Best Director Asian Television Technical & Creative Award 2001.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...