Hariadi Sabar

Nama :
Hariadi Sabar
 
Lahir
Mojokerto, Jawa Timur,
1 Mei 1957
 
 
Pendidikan :
SDN Trowulan (Mojokerto),
STN Trowulan (Mojokerto),
STM Brawijaya (Mojokerto)
 
Penghargaan :
Juara 1 Lomba Karya Patung katagori Seni Patung Instalasi CIPUTRA Jakarta, dengan judul SEPEDAKU,
Penghargaan Anugerah Kebudayaankategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya (2009),
Juara harapan 4 Lomba karya Seni Patung CIPUTRA Jakarta
 
Karya Patung :
Patung Monumen AIRLANGGA di Museum Selomangleng (Kediri),
Patung Monumen GARUDA 45 BANGLI Denpasar (Bali),
Patung SALIB di Singapura,
Patung AIRLANGGA di Melbourne (Australia)
Monumen ADIPURA di Perempatan Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto,
Patung IKAN PESUT di Samarinda
(Kalimantan Timur)
Patung LIDAH API di Jayapura (Papua)
Logo beberapa daerah kabupaten/kota di Indonesia


Pematung
Hariadi Sabar
 
 
 
Pematung cor dan kuningan asal Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur ini, dilahirkan di Mojokerto, 1 Mei 1957. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara. Belajar membuat patung dari ayahnya yang menjadi juru kunci Museum Trowulan (1949-1965) sejak tahun 1970-an. Awalnya ia belajar teknik dasar mengukir bentuk-bentuk sederhana dengan bahan parafin, yang selanjutnya akan di bungkus adonan tanah liat, guna menghasilkan cetakan cor logam.
 
Patung-patung yang tidak memerlukan detail tinggi seperti bentuk-bentuk hewan, mengawali kepakaran Haryadi. Pada masa itu, ia bahkan sudah dapat memenuhi biaya sekolah dan jajannya dari hasil ketrampilannya membuat patung sampai dengan tahun 1981. Setelah itu ia baru belajar membuat patung-patung yang sesuai dengan peninggalan di museum dengan mengambil model-model patung dari relief peninggalan Kerajaan Majapahit.
 
Pada tahun 1987, akhirnya ia mengambil keputusan untuk mandiri dan serius menggeluti pekerjaannya sebagai pematung cor logam, setelah sebelumnya sempat menjadi guru SD di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, namun akhirnya berhenti setelah di rasakannya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan panggilan hatinya.
 
Keputusan Hariadi untuk tekun pada pembuatan patung cor logam juga dipengaruhi oleh pameran tunggalnya yang diadakan pada tahun 1984 di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran itu membuat namanya menjadi semakin dikenal dan sekaligus mengukuhkannya sebagai maestro pembuatan patung cor logam.
 
Pasalnya, pada era sebelum itu banyak ditemukan patung-patung cor logam baru yang diklaim sebagai benda cagar budaya. Karena keahliannya tersebut ia kerap diminta membantu para kolektor untuk mengenali apakah sebuah patung tersebut memang asli patung kuno atau patung cor logam buatan masa kini yang dikesankan sebagai benda-benda kuno.
 
Menurutnya, membedakan patung-patung kuno dengan yang baru sesungguhnya mudah saja. Untuk bagian yang paling mudah diamati adalah pada bagian tangan dan bibir dari sebuah patung. Selain bagian punggung tangan yang simetris dan halus, telapak tangan biasanya dikerjakan dengan sangat detail hingga menampilkan pola guratan garis-garis tangan.  Haryadi mengakui, hingga saat ini ia sendiri belum bisa menemukan rahasia teknis di balik detail mengagumkan patung-patung cor logam dari zaman Kerajaan Majapahit itu.
Kerap pula diundang untuk memberikan kursus pengajaran pada mahasiswa sejumlah perguruan tinggi seperti memberikan Kursus Pengajaran pada Mahasiswa Magang /Pusat Magang bagi Mahasiswa IKJ, Jurusan Seni Grafis dan Seni Patung sejak tahun 1986 hingga sekarang. Ia juga memberikan pengajaran dan pengarahan Kajian Tehnik pembuatan patung logam pada tahun 1995.
Peraih Penghargaan Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya yang berikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Juni 2009 ini, Menikah dengan Lisfiroh. Dikaruniai empat orang anak, Ervina Perwati, Elvira Agustina, Vedanata, dan Nara. Kini Haryadi Sabar dan keluarga menetap di Candi Brahu Gg.I/18 Trowulan-Mojokerto, Jawa Timur.
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 
 

You may also like...