Harris Effendi Thahar


Penulis
Harris Effendi Thahar
 
 
 
Lahir di Tembilahan, Riau, 4 Januari 1950. Putera pasangan Thahar Umar dan Nurijah Rasyad yang merupakan pecinta bahan bacaan. Ketertarikannya terhadap dunia sastra di mulai ketika ia duduk di bangku SMP.  Ketika itu ia mempunyai seorang guru bernama Bustamil Arifin, Gurunya yang pernah menghukumnya dengan ganjaran harus menghabiskan sejumlah buku dalam waktu satu minggu.  Sejak itulah keinginan untuk menjadi penulis menjadi jadi.
 
Setelah menamatkan pendidikan di IKIP Padang dan memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1976 dari jurusan pendidikan Teknik Arsitektur, ia kembali melanjutkan pendidikan S-I di Universitas Negeri Padang. Kesempatan untuk jadi penulis justru datang ketika ia sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil di lingkungan IKIP Padang.
 
Di tengah statusnya sebagai PNS itulah, ia kemudian bekerja sambilan sebagai wartawan di surat kabar terbitan Padang. Bersamaan dengan itu, Harris juga aktif dalam kelompok diskusi Kerikil Tajam bersama para penulis Padang lainnya sepeti Hamid Jabar (alm) dan Darman Moenir. Ia kerap menulis sajak dan cerpen. Lewat cerpen, ia merasa menemukan medium yang tepat untuk mengungkapkan kegelisahan-kegelisahannya. Juga ‘kemarahan’ dalam bentuk yang lebih sublim.
 
Cerpen-cerpennya banyak menyoroti latar budaya Minang. Cerpen-cerpen karyanya tersebut antara lain ‘Si Padang’ yang menggambarkan prilaku para tokoh panutan di tanah rantau yang justru kadang amat ‘selebor’ alias tidak pantas di teladani. Cerpen yang dimuat di harian Kompas edisi 14 September 1986 itu, sempat membuat heboh orang-orang Minang perantauan. Karyanya tersebut kemudian diprotes sejumlah ‘orang awak’ lantaran kritik tajam terhadap mereka yang ‘mencari nama’ di rantau untuk ‘dijual’ di kampung halaman,  tanah Minang.
 
Cerpennya yang lain ‘Arwana’ yang di muat di Kompas, 26 Februari 2006, juga menyodorkan sisi lain ‘kenyataan’ keseharian pejabat lokal Minang berlatar militer lewat prilaku ajudannya yang gesit tapi bodoh. Sajak dan cerpen karyanya tersebut kemudian di terbitkan dalam bentuk buku kumpulan sajak ‘Lagu Sederhana Merdeka’ (1979) dan dua buku kumpulan cerpen ‘Si Padang’ (2003) serta ‘Anjing Bagus’ (2005). Karyanya yang lain yang pernah dibuatnya yakni ‘Kiat Menulis Cerpen’ (1999).
 
Lewat proses kreatif tersebut, di tambah kesenangannya menulis esai di surat kabar lokal terbitan Padang, penulis yang karya cerpennya sering terpilih dalam seleksi cerpen terbaik Kompas itu, kemudian ditawari menjadi guru di IKIP Padang. Setahun kemudian, tepatnya 1 Februari 1995, ia resmi diangkat sebagai dosen tetap pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Padang.
 
Setelah sempat menjadi dosen tamu pada jurusan Humanities, Universitas Tasmania, Selandia Baru, ia kemudian memutuskan melanjutkan pendidikan S-2 di Universitas Negeri Padang (2000). Selanjutnya ia kembali melanjutkan pendidikan S-3 di Universitas Negeri Jakarta yang mengantarkannya meraih gelar doktor (2006) dengan  disertasi juga tentang cerpen, yakni berjudul ‘Kekerasan dalam Cerpen-cerpen Pilihan Kompas 1992-1999; Suatu Tinjauan Struktural Genetik’. “Kalau kita percaya bahwa sastra, termasuk cerpen, adalah refleksi dari kondisi sosial masyarakat, maka kekerasan di negeri ini memang banyak terjadi. Beragam bentuk dan motifnya, namun yang paling dominan justru kekerasan negara terhadap masyarakatnya,” ujar Harris tentang hasil temuannya tersebut.
 
Kini, ayah dari tiga anak, Mohammad Isa Gautama, Siti Inne Kemala dan Bayu Ning Larasati dari hasil perkawinannya dengan Mitra Azis ini, menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat dan Guru Besar Tetap dalam bidang Pendidikan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang. 
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Harris Effendi Thahar
 
Lahir :
Tembilahan, Riau,
4 Januari 1950
 
Pendidikan :
Sarjana muda jurusan pendidikan Teknik Arsitektur IKIP Padang (1976),
S-I Universitas Negeri Padang
S-2 di Universitas Negeri Padang (2000),
S-3 Universitas Negeri Jakarta (meraih gelar doktor pada tahun 2006)
 
Karya :
Si Padang (cerpen, 1986),
Arwana (cerpen, 2006),
Lagu Sederhana Merdeka (kumpulan sajak, 1979),
Kiat Menulis Cerpen (1999),
Si Padang
(kumpulan cerpen, 2003),
Anjing Bagus
(kumpulan cerpen, 2005)
 

You may also like...