Harvey Malaiholo

Nama :
Harvey Benjamin Malaiholo
 
Pendidikan :
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia
 
Lahir :
Jakarta, 3 Mei 1962
 
Karya / Album :
Sentuhan Kasih (1999),
Begitulah Cinta (2001),
Selamat Datang Cinta (2000),
Reflection of Harvey Malaiholo Greatests Hits 1987-2007 (2007)
 
Lagu Populer, antara lain :
Bisikan Mesra (duet dengan Rafika Duri),
Seandainya Selalu Satu,
Indonesia Jaya,
Kusadari,
Katakan Saja,
Tetaplah Bersamaku,
Dara,
Dia,
Jerat
 
Penghargaan :
Juara Pertama Bintang Radio dan Televisi Remaja tingkat DKI Jakarta (1975),
Juara Pertama Bintang Radio dan Televisi Remaja tingkat nasional (1976),  
Kawakami Special Award dari World Popular Song Festival, Tokyo, Jepang (1982),
Penyanyi terbaik di Golden Kite World Song Festival, Kuala Lumpur, Malaysia (1984),
Penyanyi terbaik Festival Lagu
Populer tingkat Jakarta (1986),
Penyanyi terbaik pada World Populer Song Festival, Tokyo, Jepang (1986),
Peringkat Kedua Golden Kite World Song Festival, Kuala Lumpur, Malaysia (1986),
Penyanyi terbaik Festival Lagu Populer tingkat nasional (1987),
Penyanyi terbaik Festival Lagu Populer tingkat nasional (1988),
Penyanyi Terbaik pada ASEAN Popular Song Festival, Singapura (1988),
Penyanyi Terbaik bersama Elfa’s Singer di ASEAN Populer Song Festival, Manila, Filipina(1989),
Silver Award bersama Topeng ‘n Mask Band, Band Explotion, Tokyo, Jepang (1989)
Penyanyi terbaik Festival Lagu Populer tingkat nasional (1991),
Mewakili Indoneisa di acara Pembukaan dan penutupan  Sea Games ke-17, Singapura (1993)


Penyanyi
Harvey Malaiholo
 
 
 
 
Menilik perjalanan karirnya hingga saat ini cukup menarik. Harvey termasuk orang yang cinta keluarga. Macan festival ini semakin hari mendapati makna berkeluarga. Ia merasakan ketenangan. Istri pun menjadi partner yang baik di rumah dan dalam pekerjaan. Ia tengah mengenang satu masa, ketika bersama kedua orangtua dan kedua adiknya menaiki vespa. Mereka berlima membelah Jakarta. Tujuannya, mengantarnya bernyanyi dari satu tempat ke tempat lainnya. Kisah itu menjadi lembaran dari buku kehidupan penyanyi berdarah Maluku ini Istilah buah tak jatuh jauh dari pohonnya, sangat pas dengan prosesnya berkarier.
 
Almarhum kakeknya, Bram ‘Aceh’ Titaley, yang tersohor dengan julukan buaya keroncong mengendus talentanya. Sang kakek pun kemudian mengasah bakat si cucu sehingga mengkilat di blantika musik Indonesia, bahkan mancanegara. Alumnus FISIP UI ini memulai rekaman album perdana pada usia 11 tahun. Sejak kecil, sulung dari tiga bersaudara ini sudah diajari bertanggung jawab menjaga keluarganya. Memang, sejak kecil ia digembleng dengan urusan tanggung jawab dan terbuka dalam komunikasi oleh orangtuanya (Alm.) D.B. Malaiholo dan M. Malaiholo. “Kami terbiasa untuk saling bercerita dan fokus pada kewajiban yang harus kami kerjakan, khususnya soal pendidikan,””ujar penyanyi yang pernah digelari macan festival ini.
 
Ia mengisahkan, di keluarganya terdapat anggapan yang kuat adanya korelasi antara pendidikan formal dan seni tarik suara. Terlepas dari itu, ketika muda, ia menghabiskan waktunya dengan keceriaan yang berselimut cinta bersama orangtua dan kedua adiknya. Hal itu sangat membekas dalam dirinya. “Itu menjadi salah satu cermin saya untuk menjunjung tinggi arti cinta dalam sebuah keluarga,””kata pria yang bermoto ora et labora ini. Kini, hidup Harvey telah lengkap. Pernikahannya dengan Lolita Malaiholo yang juga merangkap sebagai manajernya telah dikarunia dua putera, Joshua Benjamin Malaiholo dan Benjamin Joshua Malaiholo. “Mereka adalah karunia Tuhan yang harus saya jaga dan berikan yang terbaik,” ujar biduan yang pernah tergabung dalam Elfa’s Singer ini.
 
Sebagai kepala keluarga, ia menanamkan keterbukaan dalam komunikasi. Metode ini pula yang menjadi landasannya mendidik Joshua dan Beni. “Saya sering meluangkan waktu ngobrol bersama mereka,” ujarnya. Ia menambahkan, betapa pentingnya pendidikan formal untuk anak-anaknya. Namun, sebagai seorang pekerja seni, ia merasa wajib mengenalkan nilai-nilai seni kepada dua buah hatinya itu. “Walaupun mereka tidak ingin menjadi pekerja seni, setidaknya mereka mencintai seni,” katanya. Menurutnya, kecintaan terhadap seni mampu mengasah kepekaan naluri seseorang. Mengenai posisi sang istri yang menjadi partner di rumah maupun di pekerjaan, ia mengaku menemui kendala pada awalnya. Semula, sempat terbersit keraguannya menjadikan istrinya sebagai manajer. Seiring berjalannya waktu, hal itu tidak lagi menjadi masalah besar.
 
Bahkan, menurutnya, komunikasi menjadi jauh lebih terbuka. “Saya merasakan ada chemistry dengan istri saya dalam pekerjaan,” kata penggemar buku-buku biografi ini. Pertimbangan lain, menurutnya, istrinya memiliki kompetensi pada posisi tersebut. “Semua tertata lebih rapi, kalau begini, secara profesional kan oke banget,” katanya. Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, baginya, kedudukan sang istri sebagai manajer memberi masukan positif bagi kehidupan rumah tangga mereka. Ia merasa hangat di tengah keluarga, saat waktu luangnya diisi dengan berkumpul di rumah, menonton televisi, atau sekadar berbincang-bincang. Penyuka warna hitam ini menikmati dan mendapatkan ketenangan ketika bersama istri dan kedua anaknya.
 
Pernah tampil  di North Sea Jazz Festival, di Den Haag, Belanda pada tahun 1991 bersama Bhaskara Band, dan di Cerbul Cerbul de Aur Song Festival, Bosof, Rumania pada tahun  (1993)
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...