HB.Jassin


H.B Jassin
 
 
 
Nama H.B Jassin selalu dihubungkan dengan dokumentasi sastra Indonesia dan H.B Jassin adalah orang yang secara penuh mencurahkan perhatiannya kepasda kerja dokumentasi. Itulah sebabnya, orang yang bermaksud mencari informasi tentang sastra Indonesia tidak dapat melepaskan dirinya dengan hasil pengumpulan bahan dokumentasi yang disusun oleh H.B Jassin. Kerja dokumentasi bagi H.B Jassin adalah kerja yang sudah dimulainya sejak mudanya dengan penuh kecintaan.
 
Ia berasal dari keluarga Islam yang taat. Ayahnya Bague Mantu Jassin, pegawai BPM (Bataafsche Petroleum Maat-schappij), pernah bertugas di Balikpapan, sehingga kota itu meninggalkan kenang-kenang yang manis baginya. Ibunya Habiba Jau, sangat mencintainya. Dikota Medan ia banyak berkenalan dengan seniman dan para calon seniman, diantaranya Chairil Anwar. Dalam perjalanannya pulang ke Gorontalo tahun 1939, ia mampir untuk bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana di Jakarta. Takdir sengat terkesan dengan Jassin dan mengirim surat ke Gorontalo, menyatakan ada lowongan di Balai Pustaka. Rupanya surat itu berlayar bersama-sama dengan Jassin ke Gorontalo. Untuk menyenangkan orang tuanya, ia bekerja di kantor Asisten Rsiden Gorontalo antara bulan Agustus sampai Desember 1939, sebagai tenaga magang.
 
Pada bulan Januari 1940, Jassin mendapat izin dari orang tuanya untuk memenuhi permintaan Sutan Takdir Alisjahbana. Pada bulan Februari 1940, H.B Jassin mulai bekerja di Balai Pustaka. Ia mula-mula duduk dalam sidang pengarang redaksi buku di bawah bimbingan Armijn Pane pada tahun 1940-1942 dan kemudian menjadi redaktur majalah Panji Pustaka tahun 1942-1945. Setelah Panji Pustaka diganti menjadi Panca Raya, ia menjabat wakil pemimpin redaksi di tahun 1943 sampai dengan 21 Juli 1947. Tanggal 21 Juli 1947 itulah akhir kariernya di Balai Pustaka.
 
Setelah keluar dari Balai Pustaka, H.B Jassin secara terus-menerus bekerja dalam lingkungan majalah sastra- budaya. Ia menjadi redaktur majalah Mimbar Indonesia ditahun 1947-1966, majalah Zenith ditahun 1951-1954, majalah Bahasa dan Budaya ditahun 1952-1963, majalah Kisah tahun 1953-1956, majalah Seni tahun 1955 dan majalah Sastra ditahun 1961-1964 dan tahun 1967-1969.
 
Ia juga pernah menjadi anggota dewan pertimbangan pembukuan Perum Balai Pustaka (1987-1994), anggota Panitia Pertimbangan Pemberian Anugerah Seni Bidang Sastra, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1975), anggota juri Sayembara Kincir Emas oleh radio Wereld Omroep Nederland (1975), anggota Panitia Pelaksana Ujian Calon Penerjemah yang disumpah (1979-1980), Extrernal assessor Pengajian Melayu, Universiti Malaya (1980-1992), anggota Komisi Ujian Tok-Vertlader, Leiden tahun 1972, peserta 29 tahun International Congress of Orientalist, Paris dari tanggal 16-22 Juli 1973, penasehat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditahun 1973-1982, anggota dewan juri Sayembara Mengarang Novel Kompas-Gramedia tahun 1978, ketua dewan juri Sayembara Novel Sarinah di tahun 1983, anggota dewan juri Pegasus Oil Indonesia pada tahun 1984 dan ketua dewan juri Sayembara Cerpen Suara Pembaruan ditahun 1991. 
      
Pada tahun 1964, ia dipecat dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia karena keterlibatannya dalam Manifes Kebudayaan. Pemecatan itu berlangsung ejak dilarangnya Manifes Kebudayaan oleh Presiden Soekarno 8 Mei 1964 sampai meletusnya G30S/PKI tahun 1965. Dalam dua periode memimpin majalah Sastra, H.B Jassin mengalami masing-masing satu musibah, cerpen Langit Makin Mendung yang kemudian menyeret H.B Jassin kedepan pengadilan. Pada tanggal 28 Oktober 1970 ia dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.   
 
Sejak tahun 1940, H.B Jassin telah mulai membina sebuah perpustakaan pribadi. Pengalaman admisitrasinya selama ia magang di kantor Asisten Residen di Gorontalo sangat berguna bagi pendokumentasian buku. Pada 30 Mei 1970, lahirlah Yayasan Dokumentasi Sastra H.B Jassin yang menggantikan Dokumenrasi Sastra, Sejak akhir September 1982 s/d sekarang bangunan itu berdiri dan menempati areal seluas 90 meter persegi dalam komplek Taman Ismail Marzuki, jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Hans Bague Jassin
 
Lahir :
Gorontalo, 31 Juli 1917
 
Wafat :
11 Maret 2000
 
 
Pendidikan :
SD, Gorontalo (1932),
HBS Medan (1939),
Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1957),
pernah kuliah di Universitas Yale, Amerika Serikat (1959),
Doctor Honoris Causa dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1975),
menguasai bahasa Inggris, Belanda, perancis dan Jerman
 
Profesi :
Sekretaris redaksi Pujanggan Baru (1940-1942).
Penasehat Balai Pustaka     (1940-1952), Gapura (1949-1951), Gunung Agung (1953-1970), Nusantara (1963-1967), Pustaka Jaya (1971-1972), dan Yayasan Idayu (1974-1992).
Redaksi penyusun Daftar Pustaka Bahasa dan Kesusastran Indonesia
 (1969-1972).
Redaksi penyusun buku dr. Irene Hilgers-Hesse (editor), Perlenim Reisfeld (1972).
Redaksi penyusun Almanak sastra Indonesia I Daftar Pustaka (1972).
Penasehat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1973-1982).
 
Prestasi :
Tokoh Pembukuan Nasional
 (2 Mei 1996)
Penghargaan dari pengurus pusat IKAPI atas jasa-jasanya kepada perbukuan di Indonesia (17 Oktober 2000)
 
Karya Tulis :
Tifa Penyair dan Daerahnya (1952),
Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik dan Esei I-IV (1954),
Heboh Sastra 1968 (1970),
Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia (1983),
Pengarang Indonesia dan Dunianya (1983),
Surat-Surat 1943-1983 (1984),
Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa (1993),
Koran dan Sastra Indonesia (1994),
Darah Laut : Kumpulan Cerpen dan Puisi (1997),
Omong-Omong HB. Jassin (1997)
 

You may also like...