Hendrik Pali Hamapaty

Nama :
Hendrik Pali Hamapaty
 
Lahir :
Waingapu,
Nusa Tenggara Timur,
7 Juli 1947
 
Pendidikan :
Diploma Pendidikan Guru Sekolah Dasar Bidang Kesenian
 
Profesi :
Pendiri dan pemilik
 Sanggar Oriangu
 
Pencapaian :
Pelatih koreografi terbaik Sumba (1990),
Tokoh pelestari tarian tradisional Sumba (1992), Konduktor lagu terbaik Sumba (1999),
Bersama anak didiknya menjadi juara I lomba tari tradisional di Batam (2006),
Bentara Budaya Award (2012)
 
 
 

Penggiat Tari
Hendrik Pali Hamapaty
 
 
Sumba, Nusa Tenggara Timur, terkenal dengan budaya dan tradisi lokalnya. Kepercayaan agama asli Marapu memperkaya khazanah budaya dan tradisi itu. Namun, seiring perkembangan zaman dan masuknya agama baru, perlahan-lahan budaya dan tradisi lokal mulai ditinggalkan masyarakatnya. Hal yang konkret adalah punahnya sejumlah tarian daerah, musik, cerita rakyat, ataupun Marapu sebagai kepercayaan asli Sumba.
 
Hal tersebut menjadi perhatiannya. Pria yang di lahirkan di Waingapu, Nusa Tenggara Timur 7 Juli 1947 ini, ia prihatin dengan punahnya sejumlah budaya dan tradisi lokal Sumba tersebut. Dari data yang berasal dari literatur tari tradisional Sumba menyebutkan, ada lebih dari 100 tarian lokal yang menggambarkan kepercayaan kepada Tuhan agama asli Marapu, kehidupan warga, keadilan, kejujuran, pesta panen, dan pesta perkawinan. Namun, sebagian besar tarian itu sudah terlupakan, hanya 22 tarian yang masih bisa ditarikan.
 
Dari 22 tarian tradisional itu pun 18 di antaranya nyaris hilang. Tarian itu, antara lain, Kabokang (tarian untuk menghormati raja agar selalu jujur dan adil memimpin), Mapandamu (tarian mewujudkan rasa syukur atas kelahiran anak), Kandingan (tarian syukur pada pesta panen), Patanjangung (tarian syukur atas panen perdana), dan Panapang banu (tarian melamar gadis). Ada juga tarian Ningguharana yang dibawakan pria dan perempuan untuk menyambut pahlawan yang pulang dari peperangan. Kini, tarian itu dibawakan saat menjemput para peserta pasola yang baru pulang dari pertarungan (permainan melempar tongkat kayu sambil menunggang kuda). Hal Itulah yang kemudian memotivasinya untuk mendirikan Sanggar Oriangu.
 
Ia menilai, budaya dan tradisi Sumba memiliki pesan kuat bagi kehidupan persaudaraan, kebersamaan, kehidupan sosial, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, sepulang dari Yogyakarta ditahun 1980, setelah menekuni seni tari di sanggar milik Bagong Sutrisnadi, ia mulai mensosialisasikan tarian-tarian itu di sekolah-sekolah. Kini, hampir semua sekolah dasar dan menengah di Sumba belajar tarian ini di sanggar miliknya. Para guru pun ikut belajar tarian untuk melatih para siswa.
 
Sanggar Oriangu pun penuh sesak menjelang 17-an, saat dimana para siswa dan guru menyiapkan diri untuk lomba tarian tradisional. Setiap kelompok harus diajari tarian berbeda dengan modifikasi berbeda pula. Ada tarian berisikan kepahlawanan, pendidikan, keadilan, pengorbanan guru, kehidupan petani di sawah, kejujuran, dan kehidupan sosial. Tarian yang terancam punah pun kembali popular. Pemerintah kabupaten setempat juga kerap meminta Hendrik menyajikan sejumlah tarian khas Sumba bersama peserta didiknya untuk menyambut kedatangan tamu atau pelantikan pejabat.
 
Hampir 10 angkatan telah belajar di sanggar ini. Oriangu sudah menjadi pusat pembelajaran siswa sekolah dasar dan menengah. Sejumlah sekolah di pedalaman Sumba pun datang ke Sanggar Oriangu untuk belajar tari tradisional, tercatat sebanyak 50 anak didik angkatan I (1982-1985) sudah menyebar ke sejumlah kecamatan dan desa untuk melatih sekaligus mempelajari dan mengkreasi tarian yang ada.
 
Dinas Tenaga Kerja Sumba Timur pun sering mengirimkan orang untuk mengikuti pelatihan tenun ikat di sanggar ini. Mereka umumnya lulusan sekolah menengah dan sekolah dasar. Oleh karena keterbatasan ruangan, fasilitas pendukung, dan tenaga, Sanggar Oriangu hanya berfokus pada kegiatan tarian, musik lokal, dan sastra lisan yang dipercaya bersifat mistis-magis.
 
Selain tari, ia juga menekuni sejumlah alat musik, yakni gong dan tambur. Keterbatasan tenaga dan dana membuat ia kesulitan mendalami sejumlah alat musik yang telah punah dan kini ia sedang mencari alat musik jungga yang masih tersimpan dipelosok, ia juga butuh orang khusus untuk memainkan alat musik ini. Jika sudah ada yang bisa memainkannya, ia akan mengumpulkan generasi muda di sanggar untuk berlatih dan mementaskannya di hadapan para turis, pejabat daerah, dan masyarakat luas.
 
Menurutnya, awal 1990-an terdapat 57 sanggar. Namun, keterbatasan dana dan tidak adanya dukungan dari masyarakat mengakibatkan sanggar-sanggar itu tutup. Sanggar Oriangu mampu bertahan meskipun dengan kemampuan amat terbatas. Ia ingin Sumba tetap memiliki semangat kebudayaan asli. Jangan sampai budaya lokal Sumba punah dan yang ada hanya budaya impor yang kini mulai terasa. 
 
Mempunyai lima orang anak Bernard, Andreas, Agustina, Stevani, dan Frans dari buah dari perkawinannya dengan Yuli Emu Linggi Jawa. Atas peran aktifnya dalam melestarikan seni budaya tradisional Sumba tersebut, tercatat ia beberapa kali mendapat penghargaan, diantaranya penghargaan sebagai Pelatih koreografi terbaik Sumba (1990), menjadi Tokoh pelestari tarian tradisional Sumba (1992), Konduktor lagu terbaik Sumba (1999), danbersama anak didiknya menjadi juara I lomba tari tradisional di Batam (2006).  
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...