Henk Ngantung

Nama :
Hendrik Hermanus Joel Ngantung
 
Lahir :
Bogor, Jawa Barat,
1 Maret 1921
 
Wafat :
Jakarta, 12 Desember 1991
 
Pendidikan :
MULO
 
Profesi :
Wakil Sekjen Lekra,
Wakil Gubernur DKI Jakarta (1960-1964),
Gubernur DKI Jakarta
(1964-1965)
 
Karya :
Lukisan Ibu dan Anak,
Sketsa Tugu Selamat Datang,
Sketsa Lambang DKI Jakarta,
Lambang Kostrad
 
Penghargaan :
Lukisannya yang bejudul ‘Digiring Ke Kandang, mendapat Hadiah karya lukisan terbaik dari Keimin Bunka Sidosho (1942)


style=’mso-bidi-font-weight:normal’>Pelukis
Henk Ngantung
 
 
Dikenal sebagai pelukis tanpa pendidikan formal. Bernama asli Hendrik Hermanus Joel Ngantung, lahir di Manado, Sulawesi Utara, 1 Maret 1921. Ayah dan ibunya berasal dari Tomohon/Minahasa. Merupakan putera seorang pegawai pada pemerintah Belanda dan di besarkan dalam tradisi aristrokratis. Mendapatkan pendidikan berbahasa Belanda, serta lulus dari sekolah lanjutan tingkat pertama (MULO). Bakat melukisnya telah tumbuh sejak dibangku Sekolah Dasar atas dorongan kepala sekolahnya, E. Katopo. Mulai melukis pada usia 13 tahun (1934).
 
Tahun 1937 ia menetap di Bandung, Jawa Barat. Pertama kali belajar melukis dengan Bossardt dan pelukis Austria, Rudolf Wengkart, seorang pelukis potret terkenal asal Wina, Austria, di Bandung. Disamping itu, ia mulai berkenalan dengan pelukis-pelukis profesional seperti Luigi Nobili, Dake serta Affandi yang bergabung dalam PERSAGI. Ia juga mengembangkan tekniknya dengan cepat selama pendudukan Jepang bersama pelukis-pelukis lain di Pusat Kebudayaan.
 
Pameran lukisannya di mulai ketika ia berumur 15 tahun (1936), dengan mengadakan pameran tunggal di Manado, Sulawesi Utara. Tahun 1940 ia hijrah ke Jakarta, dan terus melukis kendati Negara dalam keadaan krisis dan perang. Sejak berdirinya Bataviasche van Kunstkringen ia sering mengikuti pameran bersama rekan-rekannya. Selanjutnya, sering mengadakan pameran lukisan baik tunggal maupun bersama di dalam negeri, antara lain: mengadakan pameran tunggal di hotel Des Indes, Jakarta. Lukisannya banyak yang bersifat alam dokumenter. Beberapa lukisannya di jadikan sebagai koleksi Presiden Sukarno dan pada Kementerian Penerangan
 
Pendiri ‘Gelanggang bersama Chairil Anwar dan Asrul sani ini, menikah ditahun 1950-an, tinggal di Jakarta dengan bantuan keluarganya, pernah menjadi pembimbing yang memberi pelajaran seni kepada beberapa mahasiswa yang tidak membayar dan menjadi konsultan di berbagai kegiatan. Pernah berpartisipasi pada pemilihan calon penerima beasiswa pemerintah ke luar negeri, dalam organisasi misi-misi kebudayaan serta pameran-pameran seni lukis. Selain itu, ia pernah menjadi anggota juri pada beberapa lomba.
 

Mengaku pernah menjadi anggota dan wakil sekjen Lekra, sebuah organisasi PKI yang bergerak sdalam bidang seni. Katanya ketika itu ia sulit menolak apalagi menyatakan tidak setuju, “Andai saya ini orang komunis tulen, saya dapat membuat Jakarta lebih merah. Tapi kenyataannya oleh PKI sendiri pun saya tidak laku.”  Lukisannya memang beraliran realisme, tapi sulit dikategorikan sebagai realisme-sosialis. 
 
Hingga tahun 1953, perjuangan di bidang seni lukis nyaris tak terputus, ia termasuk pelukis tiga zaman yang cukup gigih. Mulai tahun 1957 ia duduk dalam berbagai kepanitiaan maupun lembaga negara, sehingga ia berkesempatan melawat ke berbagai negara Eropa, Afrika, Asia, Amerika Selatan dan Amerika Serikat.   

Pada periode 1960-1964, Henk terpilih menjadi Wakil Gubernur mendampingi Soemarno, yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Penunjukan dirinya sebagai wakil gubernur pada waktu itu oleh presiden Soekarno, sempat mendapat protes dari anggota-anggota dewan kota, yang melihat Henk tidak memiliki kualifikasi memegang posisi tersebut. Namun presiden menginginkan seseorang dengan bakat artistik mengambil alih Jakarta.
 
Pada tahun 1964, Henk mengantikan Soemarno sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sukarno menginginkan ngantung membuat Jakarta menjadi kota budaya. Namun ia tidak dapat memberikan hasil banyak pada periode yang singkat selama satu tahun. Justru ia lebih banyak memberikan hasil sewaktu menjabat sebagai wakil gubernur, ketika ia merancang beberapa monumen yang tetap menghiasi kota sampai saat ini, antara lain, sketsa Tugu Selamat Datang, sketsa lambang DKI Jakarta dan lambang Kostrad.
 
Salah satu pengalaman yang menarik baginya ketika ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ialah, tatkala Presiden Soekarno, memanggilnya ke Istana Negara hanya untuk mengatakan bahwa pohon-pohon di tepi jalan yang baru saja dilewati dikurangi. Masalah pengemis yang merusak pemandangan Jakarta tak lepas dari perhatian Henk Ngantung.    
 
Karena faktor kesehatan, ia mengundurkan diri dari jabatan Gubernur DKI Jakarta yang banya dijabatnya selama satu tahun (1964-1965). Setelah pensiun, Henk yang menderita penyakit mata sejak lama ini lebih banyak tinggal dirumahnya yang agak tersembunyi namun berpekarangan luas dan ditanami oleh berbagai tanaman yang dibatasi oleh Sungai Ciliwung, di Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, yang sebelumnya berdomisili di kawasan elite, Jalan Tanah Abang II, Jakarta Pusat. 
 
Menikah dengan Hetty Evelyn Mamesah yang merupakan istri keduanya. Dari pernikahannya tersebut ia dikaruniai 4 orang, Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung dan Karno Ngantung. Henk wafat pada 12 Desember 1991. Ibu dan Anak merupakan hasil karya lukisnya terakhirnya
 
(Dari berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply