Hildawati Soemantri

Nama :
Hildawati Soemantri
 
Lahir :
Jakarta, 26 November 1945
 
Wafat :
17 Januari 2003
 
Pendidikan :
SD, Den Haag, Belanda (1957),
SMP Sumbangsih, Jakarta (1961),
SMA I, Jakarta (1964),
Seni Rupa ITB, Bandung (1971),
Pratt Institute, Brooklyn,
 New York, Amerika Serikat (1976),
Studi keramik di Jepang (1978)
 
Karir :
Ketua Jurusan IKJ Departemen Seni Rupa (1984 -2003)
 
Penghargaan :
Penghargaan Kebudayaan Kategori Tanda Kehormatan Satyalencana Kebudayaan (2015)

Perupa
Hildawati Soemantri
 
 
 
Dikenal sebagai pelopor seni keramik modern Indonesia. Lahir di Jakarta, 26 November 1945. mulai menyenangi keramik ketika duduk di sekolah dasar di Den Haag, Belanda. Saat almarhum ayahnya, R. Soemantri, bekerja pada Kedutaan Besar RI disana.
 
Setelah tamat dari SMA I, Jakarta (1964), anak kelima dari sembilan bersaudara ini ia melanjutkan Belajar di Departemen Seni Rupa ITB (1964-1969). Belajar senirupa kala itu masih merupakan sesuatu yang tidak lazim bagi perempuan, apalagi belajar seni keramik. Namun ia tidak ambil pusing. Karena ia begitu terpesona dengan karakter tanah liat yang lentur dan mudah mengikuti kehendak yang memegangnya sekaligus sangat peka terhadap sentuhan tangan. Baginya, tanah liat menjadi media berkesenian utama yang juga menjadi media ungkap dirinya.
 
Setelah menikah dengan Arsitek N. Siddhartha, ia kemudian memutuskan hijrah ke Jakarta mengikuti suami. Sejak saat itu ia mulai secara serius mempelajari tekstur dan segala seluk beluk tanah liat. Ia kemudian meneruskan studi di Pratt Institute, Brooklyn, New York, Amerika Serikat, dimana ia meraih gelar doktor(1976) dan Studi keramik di Jepang (1978).
 


Gunungan V, Mix Media Keramik,
55 x 60 cm

Gebrakannya dimulai pada tahun 1976, saat ia menggelar pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki Kurator Perempuan pertama ini membuat rangkaian karya yang kini dalam dunia seni dikenal dengan istilah instalasi. Karyanya merupakan rangkaian serpihan lempeng keramik yang tersebar dan terserak, tetapi kemudian ditata kembali menjadi suatu karya baru yang melambangkan pemikiran yang dalam, yakni bahwa pengalaman, baik atau buruk, merupakan bagian dari jalan hidup yang seyogyanya mengarah ke pusat segala kehidupan. Ia menjadikan keramik yang semula barang pecah belah dan bejana menjadi suatu medium untuk berekspresi yang memiliki bahasa visual.

 
Ia menolak sebuah anggapan, yang menyebutkan dirinya pengikut aliran ‘keramik lukisan’. Hilda mengaku sebagai penganut ’keramik aliran bebas’, yang tidak bergantung pada fungsi pakainya. Untuk mengetahui perkembangan keramik di dunia, ia kerap meninjau langsung ke beberapa sentra pembuat keramik di beberapa negara, diantaranya Filipina, India, AS, Jepang, Eropa Barat, dan Australia 
 
Selain di kenal sebagai pendobrak perupa seni keramik dan sebagai perempuan perupa kontemporer pertama yang menggelar pameran tunggal, Hildawati Soemantri juga menjadi art historian perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar PhD di luar negeri. Ia adalah ilmuwan perempuan Indonesia pertama yang mengajar di University of Victoria. Dia juga yang pertama yang meraih Ph.D dengan disertasi berlandaskan arkeologi, yaitu ‘Majapahit, Teracotta Art’.
 
Selain sebagai seorang seniman keramik, ia juga menjadi pengajar sekaligus Kepala Departemen Seni Rupa (sejak tahun 1984) di Institut Kesenian Jakarta. Dalam mengajar, ia juga memberi pelajaran ‘Keramik Fungsional’  kepada para mahasiswanya, yang hasilnya bisa diperjualbelikan.
 
Pendiri Studio Keramik IKJ, Hildawati Soemantri meninggal dunia pada 17 Januari 2003.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply