I Ketut Budiana


Seniman Senirupa
I Ketut Budiana
 
 
 
 
Lahir di Padangtegal, Ubud, Bali, tahun 1950. Berasal dari keluarga pengrajin tradisional yang sangat terampil membuat patung, gambar candi, topeng suci, dan artefak kremasi. Sejak kecil ia sudah menjadi asisten kakeknya, I Made Kari, yang berprofesi sebagai undagi (arsitek tradisional). Kehidupan masyarakat di Banjar Padangtegal, Desa Ubud, Gianyar, yang sebagian besar menekuni seni rupa ikut mendorongnya untuk menekuni dunia kesenian.
 
Setelah menyelesaikan studi di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia), ia memutuskan melanjutkan sekolah di Sekolah Guru Menengah Jurusan Seni Lukis di Singaraja. Selain pendidikan formal, ia juga belajar melukis kepada pelukis asal Belanda yang tinggal di Ubud, Rudolf Bonnet. Ia juga mendatangi pelukis-pelukis angkatan Pita Maha, seperti Ida Bagus Made, Kobot, Sobrat, dan Turas. Perjalanannya mengunjungi para pelukis terkemuka itu membawanya pada kesimpulan untuk memadukan teknik melukis akademis (barat) dengan teknik tradisional Bali.
 
Tahun 1973 ia diangkat sebagai guru honorer di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Denpasar, sekarang jadi SMK Sukawati. Sejak itu, ia memutuskan hidup sebagai guru, selain terus melukis dan mengabdi sebagai sangging,  seseorang yang memiliki kemampuan menciptakan artefak ritual-ritual Bali, seperti barong, rangda atau bade (menara usungan jenazah). Tak mudah bagi seseorang untuk memutuskan menjadi sangging. Rentetan ritual harus di jalani hingga benar-benar dianggap seni secara skala dan niskala (fisik dan spirit). Bahkan ketika membuat barong, misalnya, ia harus melakukan puasa dan tirtayatra (melakukan persembayangan ke pura-pura tertentu). ” Bahkan, pada saat tidak membuat barong pun, Budiana senantiasa menjalani laku tirta yatra sampai India dan Jepang, serta Jawa dan Lombok. Tahun 1997 ia membuat sebuah pura di daerah Kutorejo, dekat dengan Alas Purwo, Jawa Timur.
 


Dances of Witches, akrilik diatas kanvas,
56 cm x 84 cm (1989)

Dalam proses melukis, ayah dari empat putra dan putri hasil pernikahannya dengan Ni Made Erni ini, juga selalu mengawalinya dengan semacam ritual yakni pemusatan pikiran, dilanjutkan dengan proses tangannya menari lincah di atas kanvas. Media yang digunakan juga unik dan langka yakni berupa kertas dari serat pelepah pisang buatannya. Bekalangan ia juga menambahkan bahan yang digunakannya untuk melukis yakni pelapah pisang dengan kertas yang secara khusus didatangkan dari Jepang (wasi) dan Eropa.

 
Banyak orang menilai lukisannya sulit dimengerti. Wujud-wujud visual pada kanvas ibarat sebuah eksploitasi terhadap rasa takut. Ia melukis mahluk-mahluk aneh berleher panjang, mata melotot dengan aksen-aksen warna merah atau monster berbulu yang memiliki banyak kepala. Itulah sesungguhnya narasi-narasi senirupa karyanya, yang berupa teks yang harus dibaca, bukan sesuatu yang harus ditelan mentah-mentah secara visual semata-mata.Ia memahami bahwa kedua kekuatan, yakni kebaikan dan keburukan, sebagai rwa binneda, dua yang selalu berpasangan.
 
Kelebihan inilah yang mungkin membuat seorang kurator asal Jepang tertarik untuk memamerkan karya-karyanya di Tokyo Station Gallery, Jepang, pada tahun 2003. Ia menjadi orang Indonesia kedua, setelah Made Wianta, yang berpameran di galeri yang sangat bergensi di Jepang. Pameran lain yang pernah ia ikuti adalah, Balinese Art Festival (Tokyo, Jepang, 1985), Festival of Indonesia (Amerika Serikat, 1990-1992), World Presidents Organization (Washington, D.C, Amerika Serikat, 1992), Singapore Art Museum (Singapura, 1994), Museum Nasional (Jakarta, Indonesia, 1995), dan Indonesia-Japan Friendship Festival (Morioka, Tokyo, Jepang, 1997). Lukisannya banyak di koleksi oleh beberapa museum yang ada di luar negeri dan dalam negeri antara lain, Tropen museum (Amsterdam, Belanda), Museum of Ethnology (Berlin, Jerman), Fukuoka Art Museum (Jepang), Museum Puri Lukisan (Ubud, Bali), Museum Neka (Ubud, Bali), Rudana Museum (Ubud, Bali), dan lain-lain.
 
Ia pernah memimpin Yayasan Ratna Wartha, yang juga telah menerbitkan buku otobiografi dalam tiga bahasa, Jepang, Inggris dan Indonesia. Beberapa kali mendapatkan penghargaan nasional dan internasional.
 
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
I Ketut Budiana
 
Lahir :
Padangtegal, Ubud, Bali, tahun 1950
 
Pendidikan :
SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia)
Sekolah Guru Menengah Jurusan Seni Lukis di Singaraja
 
Aktifitas lain :
Pengajar SMSR Denpasar/SMK Sukawati
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply