I Ketut Rina

Penari
I Ketut Rina
 
 
 
Lahir dari keluarga petani di daerah Teges Kanginan, Bali. Belajar menari pada Sardono W. Kusumo. Pendidikan formalnya ia jalani di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bali.
 
Di usia 11, mendapat kesempatan tampil sebagai penari, dalam pertunjukan Dongeng dari Dirah yang dijadwalkan tampil di Taman Ismail Marzuki, pada awal tahun 1970-an. Namun terjadi kontroversi, pelarangan keberangkatan rombongan kesenian masyarakat Banjar Teges Kangingan ke Jakarta oleh Gubernur Bali, perihal tulisan Sardono W. Kusumo di surat kabar Bali Post yang bejudul ’Eksperimen Kecak Telanjang’, yang memberi kesan puluhan orang dengan telanjang menari Cak, ”Kami marah, sedih, sakit hati. Semua nangis. Desa menjadi sepi sekali. Beberapa hari tak ada yang keluar rumah”,”kenang Ketut Rina.
 
Namun hal tersebut hanya salah satu episode sosial yang dialami olehnya, dalam proses penjadiannya sebagai seorang penari. Tahun 1974 Dongeng dari Dirah benar-benar berangkat meninggalkan Teges, namun tidak ke Jakarta, melainkan melakukan lawatan ke Eropa, yakni ke Perancis, Swiss, Inggris, Italia dan Jerman.

Dua tahun setelah lawatannya ke sejumlah negara di Eropa, tahun 1976, Tari Kecak Teges, terpilih untuk tampil membuka Festival Shiraz di Iran. Selanjutnya tampil dalam berbagai pertunjukan tari di dalam dan luar negeri antara lain, dalam 1986 Expo di Vancouver, Kanada, beberapa pertunjukan ekshibisi di Jepang (1987, 1988, 1989, 1990, 1991, 1992, 1996, 1997, 1998, 1999, 2000, 2001) dan Festival Seni Singapura (1988).

 
Ikut ambil bagian dalam The Ensemble Temps Fort Theater, yang mengadakan rangkaian pertunjukan di Asia, Perancis, Amerika Serikat dan Brazil. Pernah terlibat dalam pertunjukan teater epik Bugis, karya Robert Wilson I La Galigo, dimana ia berperan sebagai Batara Guru. Tahun 2005, diundang untuk menari kecak dalam acara Megalitikum Kuantum, dimana ia memimpin sekitar 300 penari.
 
Satu hal membedakan kelompoknya adalah anggotanya yang melibatkan hampir seluruh warga desa atau di Bali di sebut Banjar, dengan kelompok kecak lain yang banyak terdapat di Bali yaitu kelompokmya terlihat sangat cepat iramanya serta formasi para penari yang bisa berjumlah sampai ratusan. Formasi kecak di Bali umumnya melingkar, dengan para pemain duduk. Sedangkan formasi kelompoknya bisa membentuk garis-garis dan para pemain berdiri, bergerak membentuk formasi-formasi khusus. Gerak mereka kadang sangat cepat bahkan tak jarang terkesan liar. Keliaran menjadi-jadi ketika mereka memainkan api dari sabut-sabut kelapa, yang dilempar kesana-kemari, sehingga menimbulkan kehebohan diantara para penari kecak.
 
Menikah dengan Ni Made Puji, seorang penari Legong. Dari pernikahannya di karuniai dua orang anak, Antari dan Antara.
               
(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
I Ketut Rina
 
Lahir :
Teges Kanginan, Bali
 
Pendidikan :
Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bali
 

You may also like...