I Nyoman Sukari

Nama :
I Nyoman Sukari
 
Lahir :
Ngis, Karangasem, Bali,
6 Juli 1968
 
Wafat :
Denpasar, Bali, 12 Mei 2010
 
Pendidikan :
Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta (1990)
 
Penghargaan :
Sketsa Terbaik, SMSR Denpasar (1989),
sketsa dan lukis terbaik ISI Yogyakarta (1990),
Sketsa, Lukis Cat Air, Cat Minyak Terbaik, ISI Yogyakarta (1992),
 Penghargaan dari MENPORA (1992),
Karya Lukis Terbaik Dies Natalis ISI Yogyakarta (1993),
Karya Terbaik Pratisara Affandi Adhi Karya (1994),
Penghargaan Sanggar Dewata Indonesia Lempad Prize (2000)
 
 
 
 
 
 
 


Pelukis
I Nyoman Sukari
 
 
 
Seniman penggali alam mistik Bali ke dalam wajah seni lukis kontemporer Indonesia ini lahir di Ngis, Karangasem, Bali, 6 Juli 1968. Sempat menjalani pekerjaan kasar, seperti bekerja sebagai kenek truk pengangkut bahan-bahan pokok dari Jawa-Bali, sebelum akhirnya memutuskan masuk kuliah di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR-ISI) Yogyakarta pada tahun 1990.
 
Karya-karyanya yang beringas dengan sapuan warna, citra totem-totem purba yang seram, bahkan menjadi semacam genre baru rupa seni lukis Yogyakarta medio 1990-an. Artistik-Mistik yang ekspresif itu perlahan menggeser pesona seni lukis surealis Yogya yang di era 1980-an menjadi primadona. Semangat berkemerdekaan dalam membadankan citra-citra ikonik tradisi Bali itu menjadikannya sebagai tokoh sentral kebangkitanaliran abstrak-ekspresionisme.
 
Ia sering menjadi pengobar semangat sekaligus sumber inspirasi bagi teman-teman seangkatannya, baik di Kelompok Sebelas Sanggar Dewata Indonesia (SDI) maupun Spirit 90 (angkatan 1990 ISI Yogyakarta). Ia menjadi pembaharu di SDI pada tahun 1990-an. Di Sanggar yang di dirikan oleh Nyoman Gunarsa dan Made Wianta pada era tahun 1970-an itu, bersama rekan-rekannya mencoba menghidupkan kembali SDI melalui gaya baru, abstrak-ekspresionisme, yang mengandalkan simbol Bali dengan goresan cepat yang terkesan patah. Ia juga dikenal sebagai inspirator bagi pelukis generasi muda yang tergabung dalam Komunitas Perupa Lempuyang, Karangasem, Bali.  
 


Menyusun Strategi, 145 cm x 200 cm, cat minyak (2008)

Tercatat telah mengikuti lebih dari 100 pameran bersama dan baru satu kali menggelar pameran tunggal, yaitu ‘Truth & Tradition’ di Gajah Gallery, Singapura (2002). Beberapa pameran bersama yang di ikutinya bahkan berbuah sukses, terutama  era tahun 1990-an, di mana ia dan seniman yang tergabung dalam kelompok di ISI Yogyakarta, seperti Made Sumadiyasa, Putu Sutawijaya, Made Wiradana dan I Ketut Tenang, menciptakan ‘bom seni rupa’ dengan rentan harga yang cukup tinggi.
 
Ketika mengikuti pameran ‘Festival Mahasiswa Seni Se-Indonesia’ di Purna Budaya, Yogyakarta (1992), semua karyanya yang berjumlah 50 lukisan terjual habis. Yang membedakan karya Sukari dengan seniman lain adalah prinsip hidup pribadinya mewarnai lukisan. Kegemarannya pada dunia supranatural, misalnya, membawa lukisannya lebih mengarah pada karya-karya mitologis
 

 
Sejak tahun 1990, ia terus meraih beragam penghargaan, mulai dari penghargaan Sketsa Terbaik, SMSR Denpasar (1989), sketsa dan lukis terbaik ISI (1990), Sketsa, Lukis Cat Air, Cat Minyak Terbaik, ISI Yogyakarta, Penghargaan dari MENPORA Akbar Tanjung (1992), Karya Lukis Terbaik Dies Natalis ISI Yogyakarta (1993), Karya Terbaik Pratisara Affandi Adhi Karya (1994), sampai finalis Indonesian Art Awards (1995), serta meraih penghargaan Sanggar Dewata Indonesia Lempad Prize (2000).
 
Belakangan, karya-karya Sukari justru bertolak dari peristiwa sehari-hari dalam citraan yang berbeda. Ia mengamati kehidupan ‘sial’ kaum urban perkotaan yang muram. Lukisan-lukisannya dipenuhi wajah-wajah murung dengan sapuan-sapuan yang tebal. Ini bukan suatu lompatan, tetapi semacam pengalihan sudut pandang dalam melihat realitas di sekitar hidupnya. Dengan cara itu, ia pernah mengatakan, seni bukan sesuatu yang berjarak, melainkan penghayatan atas kehidupan ini.  
 
Kerap menggunakan cat minyak sebagai bahan untuk membuat lukisan yang di buatnya di bengkel kerjanya di Jalan Menjangan Nomor 28, Kuncen, Wiro Brajan, Yogyakarta. Menikah dengan Nyoman Aryaningsih, dari pernikahannya tersebut, ia di karuniai dua orang anak laki-laki yakni I Made Sri Yoga Bhuwana dan I Wayan Pande Narawara. Di luar kegiatannya sebagai pelukis, ia aktif terlibat dalam seni karawitan, pertunjukan teater, hingga seni tari. Saking banyaknya keterampilan seni yang di kuasainya, semua orang berpendapat bahwa setiap pertunjukan akan beres jika ada Sukari. Pelukis berambut panjang yang menetap di Perum Tata Bumi Permai, Gamping, Sleman tersebut wafat di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali pada 12 Mei 2010 karena sakit komplikasi liver dan paru-paru.

(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply