I Nyoman Sura

 

Nama :
I Nyoman Sura 
 
Lahir :
Kesiman, Denpasar, Bali,
10 April 1976
 
Wafat :
Bali, 9 Agustus 2013
 
Pendidikan :
SD No. 8 Kesiman Denpasar (1985),
SMP Dwijendra 2 Denpasar (1988),
SMEAN Denpasar (1991),
Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar (1996).
 
Profesi :
Pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar
 
Karya :
Bulan Mati,
Seribu Wajah,
Dua – 1,
Lanying,
Waktu Itu ,
Mawar Jepang
Manusia dan Koper,  Sembah Sang Dewi, Swandewi,
Lakuku (1999),
Lenda-Lendi,
Kuak,
Cak Sunda Upasuda,
Ritus Legong (2001),
Tajen,
Daku,
 Bulan Mati (2004)
 
Pencapaian :
The Best Choreography dalam Lomba Karya Cipta Gerak (LCKG) Se Jawa-Bali,
10 Penari Terbaik di Gedung Kesenian Jakarta (1999)
 
 

 
Koreografer
I Nyoman Sura
 
 
Meraih kesuksesan bisa jadi berawal dari mimpi. Seperti apa yang pernah dilakukannya ketika menjalani masa kuliahnya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia) Denpasar. Ia berkhayal menjadi pusat perhatian orang di atas panggung dengan berjuta orang bertepuk tangan dan memandangnya dengan rasa bangga. Sesungguhnya, menjadi penari bukanlah cita-citanya sejak awal.
 
Di bangku sekolah menengah, laki-laki kelahiran 10 April 1976 ini, justru memilih sekolah khusus ilmu ekonomi atau SMEA. Mantap dengan keinginannya, ia kemudian bermaksud melanjutkan ke bidang yang digemarinya, akuntansi. Apa mau dikata, ia tidak lolos ke perguruan tinggi yang diidamkannya. Berkat ngobrol dengan seorang kawan, akhirnya mencoba masuk ke STSI dan ternyata diterima. Karena ia telah memiliki ketrampilan menari sejak kecil, ia tidak sungkan lagi memilih jurusan tari. Sejak saat itu, ia mengasah bakat menarinya. Adalah Wayan Dibia dan Swasti Bandem, dua nama yang diakui sangat berperan dalam kariernya. “Dari Bapak Wayan Dibia saya bisa belajar tentang kebebasan dalam mengolah gerak di tari kontemporer dan dari Ibu Swasti Bandem saya belajar bagaimana telaten dalam memilih penari”, ungkapnya memberi alasan.
 
Karya pertamanya ‘Manusia dan Koper’ hingga kini tetap menjadi kenangan pahitnya. Menurutnya, karya itu mengangkat kisah nyata yang teramat pahit bagi dirinya. Ya, kala itu ia dijanjikan akan dibawa ke luar negeri untuk menari, tapi janji itu tidak pernah ditepati. Dengan kesedihan dan kekesalannya, ia kemudian melancarkan protes terhadap pimpinan yang ingkar janji tersebut dengan sebuah karya yang diberinya judul ‘Manusia dan Koper’. Tari ini sekaligus membawanya mendapatkan gelar sarjana. Selepas itu, ia mendaftar menjadi anggota Kabaret Show yang kemudian mengajaknya pentas dari hotel ke hotel. Ia tidak ingin berhenti pada titian ini saja. Ia masih juga mengikuti lomba-lomba tari. Tercatat sepanjang tahun 1995-2000, ia memenangkan The Best Choreography dalam Lomba Karya Cipta Gerak (LCKG) Se Jawa-Bali. Ajang Indonesian Dance Festival (IDF) 2004 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, menjadi gerbang yang membukakan mata publik untuk melirik penari berkulit hitam satu ini.
 

Koreografinya ‘Lakuku’ (1999) dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, disaat yang sama ia dianugerahkan sebagai salah satu sepuluh penari terbaik, Sejak itu ia telah  menciptakan lebih dari 10 karya tari solo dan grup yang ditampilkan di festival-festival di Indonesia dan di luar negeri. Dalam IDF yang diikuti penata tari ternama dari Taiwan, Jepang, Belanda, Australia dan Indonesia, Sura kembali menampilkan ‘Bulan Mati’. Dalam ‘Bulan Mati’, ia telah menjadi pengajar ISI Denpasar, menggunakan kain sepanjang 8 meter dan lebar 3 meter dengan tongkat di kanan kiri pinggang untuk memudahkannya menggerakkan kain yang demikian besarnya. Sura menggunakan kain putih tersebut untuk menyimbolkan sinar bulan yang lembut. Sebelumnya, ‘Bulan Mati’ ini ditampilkan pertama kali di Solo Dance Festival 2003.
 


Bulan Mati (2004)

 
Pada Gedung Teater Besar STSI Surakarta, Sura yang menyiasati luasnya ruangan dengan gerak efektif kain itu mampu menyedot perhatian penuh penonton. Dengan demikian, ia tidak ragu lagi untuk mengikuti seleksi IDF yang kedua kali, setelah gagal di tahun 1999.
 
Satu karyanya yang menuai kontroversi selama catatan sejarah dalam berkaryanya yaitu ‘Waktu Itu’. ‘Waktu Itu’ berbicara tentang liku-liku kehidupan hingga akhirnya berada di puncak waktu hidup yang tidak lain kematian. Ia membawakan ‘Waktu Itu’ dengan selembar kain penutup kemaluannya, sebuah kipas dan selembar kain mori yang dibentangkan. Awalnya biasa saja, hanya olah gerak yang memanfaatkan tipas dengan memadukan gerak tari Bali. Hanya saja pada klimaksnya, ia melepas satu-satunya penutup tubuh dan menggulungkan diri pada kain putih yang telah disiapkan.
 
Penampilannya di Medan Annual Choreographer Showcase di Taman Budaya Sumatra Utara 2004 itu akhirnya menuai kritik dari salah satu partai yang berlatar belakang agama. Dalam berkarya, ia terinspirasi dari banyak hal seperti lukisan, film, sastra, fashion, kehidupan dan musik. Untuk itu ia juga tidak menolak apabila suatu ketika digandeng oleh orang-orang di luar disiplin bidangnya seperti Mardiana Ika, seorang designer yang meminta Sura tampil dalam Hongkong Fashion Week bersama guitaris Tropical Transit, Ketut Riwinaya.
 
Selain itu ia juga pernah membawakan tari untuk pembukaan pameran Matahari di Nepal yang memamerkan lukisan Wayan Sujana Suklu, atau juga Oka Rusmini yang memintanya menari dengan iringan puisi Oka Rusmini pada Pesta Sastra Internasional. Dengan ketrampilannya mengolah gerak pula yang mengundang Garin Nugroho, sutradara film, untuk menyertakannya bersanding dengan Miroto, Retno Maruti dalam film Opera Jawa. Keikutsertaannya dalam berbagai acara di luar panggung tari bukannya tidak beralasan. Menurut Miroto, ia termasuk generasi muda di dunia tari yng berani mengekspresikan dirinya. Dia koreografer muda berani mengekspresikan tubuhnya sesuai dengan keinginannya dan tidak takut dengan kemungkinan negatif yang akan dihadapi. Keberanian ini menjadi penting.
 
Ia bukan hanya koreografer yang bagus, tapi juga berbakat dalam hal mengatur keuangan. Sebagai seniman, Sura tidak hanya pandai mengolah gerak membuat karya tari, tapi juga menjual. Sejumlah penari pernah berkolaborasi dengannya. Antara lain Marcia Hydee, penari balet asal Jerman dalam Rama-Sinta (2000), Gary Molking dari California dalam Guest Global Healing Conference, Japanese Dancer dalam International Umbul-umbul Festival, berpartisipasi di Singapore Art Festival bersama Arti Foundation mempersembahkan Ritus Legong yang dikoreografi sendiri olehnya (2001), tampil pada acara Indonesian Dance Festival (2004).
 
Sering tampil pada acara-acara internasional, seperti  di Washington, New York dan California, Amerika Serikatuntuk adaptasi film Opera Jawa karya sutradara Garin Nugroho. Berkolaborasi dengan Robert Brown, maestro biola dari Jerman, tampil di Adelaide, Australia. Tahun 2011, tampil di Solo International Performing Art (SIPA) dan Jogja International Performing Art (JIPA). Pada pertengahan Mei 2013 lalu, ia sempat menghadiri festival kesenian di Belanda.
 
Hingga kini, Sura telah menelorkan lebih dari sepuluh karya. Beberapa karya itu ‘Manusia dan Koper’, ‘Bulan Mati’, ‘Waktu Itu’, ‘Sembah Sang Dewi’, ‘Swandewi’, ‘Lakuku’, ‘Lenda-Lendi’, ‘Kuak’, ‘Cak Sunda Upasuda’ (bersama Wayan Dibia), ‘Ritus Legong’, ‘Tajen’, ‘Dua-1’, ‘Daku’, dll. Kini mimpinya terwujud sudah. Meski gagal dibawa ke luar negeri oleh pemimpinnya, ia tetap bangkit dan bertekad mewujudkan impiannya yang pernah kandas. Kini ia tidak hanya tampil di dunia tari dalam negeri, ia bahkan telah menari di Jepang, Swiss, Singapura dan beberapa negara Asia lainnya dan bertahan dengan ciri khas roh Bali dalam tariannya.
 
Pada hari Jumat, 9 Agustus 2013 siang, koreografer muda berbakat ini wafat di Denpasar, Bali, karena tumor pankreas dan komplikasi infeksi paru-paru yang dideritanya, setalah sebelumnya sempat dirawat selama Sembilan hari di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali. Jenazah akan diupacarai secara adat di rumah keluarganya di Denpasar pada hari Kamis, 15 Agustus 2013 dan dilanjutkan dengan pengabenan pada hari Jumat, 16 Agustus 2013. 
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply