I Nyoman Windha


Nama :
I Nyoman Windha
 
Lahir :
Gianyar, Bali, 13 juli 1956
 
Pendidikan :
STSI Denpasar
 
Karier :
Direktur tamu musik Gamelan Sekar Jaya, turut serta dalam APPEX (American-Pasific Performing Arts Exchange) dan pergelaran Bali di Australia.
Menjadi guru,
Komposer dan pemain di grup gamelan Anggur Jaya Jerman.
 
Karya :
Sinom Lawe (1983),
Sangkep (1984),
Janger Kreasi Baru (1985),
Kembang Ceraki untuk gamelan gong kebyar (1989),
Catur Yuga (1997),
Kala Edan (2000),
dan Merajut Tali Keragaman
 


I Nyoman Windha
 
 
 
Sebagai anak desa yang hidup di tengah-tengah lingkungan kehidupan kesenian yang subur berkembang, sejak anak-anak ia telah akrab dengan gamelan Bali. Sejak 1980-an, Sarjana seni karawitan yang kini mengajar di almamaternya STSI Denpasar, telah aktif dalam berbagai pertunjukan di dalam dan luar negeri. Diantaranya Pekan Komponis Muda yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta 1983 dan 1988. Bersama dengan STSI ia keliling Amerika, Hongkong, Eropa, Jepang. Seniman yang mengantongi penghargaan dari pemerintah ini, telah menghasilkan sederet karya, sejak 1983 s/d sekarang, baik berupa komposisi gamelan, gamelan dan nyanyian, maupun gamelan tari.
 
I Nyoman Windha, 20-an tahun yang lalu mengaku, karyanya belum mampu melepaskan diri dari karawitan tradisional Bali. Bahkan sampai sekarang ia masih juga belum mampu melepas, alias setia dengan sumber lamanya, yang tak kering-kering meski sudah ribuan kali ditimbanya. Kelahiran “Simfoni Bambu”, diawali dengan mencermati musik tradisional Bali, hingga sekarang terkesan lebih didominasi oleh alat-alat pukul (percussion) sehingga karakter musikal yang ditimbulkannya cenderung keras, semangat dan lincah. Hal ini tentu terpulang kepada barungan gamelan Bali yang jumlahnya sekitar 30 jenis, yang lebih menitik beratkan pada penggunaan instrumen-instrumen pukul hal ini dijadikan contoh oleh para penggarap (komponis) sehingga menimbulkan kesan seolah-olah demikian inilah ciri khas musik tradisional Bali. Lupa, bahwa sesungguhnya tidak begitu, Ada beberapa barungan gamelan Bali yang di dominasi alat-alat bukan perkusi, misalnya gamelan petik (mandolin). Dua yang disebut terakhir, entah mengapa ditenggelamkan oleh dominasi perkusi. Celakanya, dua yang ditindas perkusi—suling dan alat petik—belum banyak mendapat perhatian komponis setempat padahal inilah media yang memberikan rangsangan-rangsangan musikal komposisi baru. Dari sanalah lahir “Simponi Baru” sebagai gugatan terrhadap stigma karawitan Bali. Komposisi ini mencoba mengangkat instrumen suling sebagai instrumen dominan. Dipadukan dengan musik vokal yang ditata dengan penekanan unsur-unsur melodis.
 
Harian Merdeka, 25 Maret 1983 pernah menjuluki Windha sebagai seorang “Pencari” dari dalam kebudayaanya sendiri, dalam hal ini Bali. Karyanya “Sangkep”, misalnya, yang dijadikan penutup Pekan Penata Tari dan Komponis Muda DKJ 1983 memukau banyak orang. Saat itu pun ia telah mengedepankan peralatan musik dari bambu. Misalnya dingklik, bumbung, krapyak, slepit, tempurung kelapa adalah beberapa alat yang dikembangkan ditambahi resonator, dirubah sistem laras pelognya dan lain-lain’’ lengkap dengan upacara sesaji dan tingkah pola kekanakan, Windha dan kawan-kawannya tampil di Teater Arena TIM yang kini sudah rata dengan tanah  dengan kebersahajaan yang tidak dibuat-buat, lugu dan menggugah. Siapa bilang Bali aman-aman saja. Paling tidak dari segi musik, keadaannya tidak seaman yang di bayangkan banyak orang. Untuk itulah I Nyoman Windha, lewat karyanya terbaru “Simfoni Bambu”, ia melakukan gugatan secara artistik terhadap apa yang dirasakan telah membatu dan meresahkan dunia musik tradisional Bali dewasa ini.
 
(Art Summit 2003)
 

You may also like...

Leave a Reply