Iriantine Karnaya

Nama :
Iriantine Karnaya
 
Lahir :
Rangkasbitung, Banten
9 Januari 1950
 
Pendidikan :
Jurusan Seni Rupa ITB
(1969-1975)
 
Profesi :
Pengajar Seni Rupa Dasar di Fakultas Teknik UI Jurusan Arsitektur,
Pengajar Studio Patung IKJ
 
Penghargaan :
Penghargaan dari WHO (1997),
Karya Terbaik dalam Pameran Seni Patung Trienial II di Galeri Nasional Jakarta (19980
Pemenang Ke II Terbaik Festival Patung Dimensi Jakarta (2006),
 
 
   


Pematung
Iriantine Karnaya
 
 
 
 
Di dalam garasi yang cukup panas karena adanya kompor yang melelehkan fiberglass, Iriantine bergelut dengan bahan yang sudah meleleh itu. Bahan yang liat itu ia tarik, ia tahan, ia belokkan, ia luruskan, ia lilitkan dan ia jatuhkan dari tangga, sampai tercapailah bentuk yang diinginkan. Bentuk ini kemudian ia cor dan ia lapisi dengan emas, lalu ia gabungkan dengan bentuk dari logam sehingga menjadi suatu bentuk karya yang utuh. Suatu bentuk yang mewakili denyut perasaan pada saat ia mengadakan perjalanan kreatif bersama bahannya itu.
 
Perjalanan kreatif Iriantine tentu tidaklah terjadi hanya sesaat ia mengerjakan suatu karya saja. Kondisi kreatif telah ia bentuk selama bertahun-tahun, pada saat ia memasuki fakultas Seni Rupa ITB di tahun 1969. Disanalah ia diajarkan untuk dapat mengenali unsur-unsur terpisah yang secara bersamaan dapat membentuk gerakan dahsyat yang melahirkan karya seni. Ia diajarkan untuk melihat, merasakan, menyerap dan kemudian mengekspresikannya kembali secara pribadi dalam suatu bentuk. Pematung-pematung seperti But Muchtar (alm), G. Sidharta (alm), Rita Widagdo, Sunaryo, Surya Pernawa dan Yetti Subianto masing-masing meninggalkan kesan dalam dirinya dan menambah luas wawasan berkarya.          
 


Soulmate, kayu 50cm, 2008

Saat-saat ia masih berada dibangku kuliah pun ditandai dengan percobaan yang cukup berat karena kesehatan ibunda Iriantine yang kurang baik sehingga ia terpaksa membagi waktu antara sekolah dan rumah. Namun keadaan ini pulalah yang membentuknya menjadi orang yang tabah tapi lembut hati sebagaimana tampak dalam karya-karyanya.Dalam berkarya, Iriantine mengambil inspirasi dari kehidupan lingkungan sekitarnya, yang suka maupun yang duka. Manusia menjadi ilham yang kaya, keindahan tubuh manusia serta gejolak emosi yang demikian banyak nuansanya merupakan sumber kreatif yang tak habisnya. Demikian pula kekayaan flora dan fauna yang ia lihat disekelilingnya.

 
Dari segi teknik, sebagai seniman, Iriantine sangat sadar akan pentingnya penguasaan teknis dalam menterjemahkan suatu ide, hal ini membuatnya menjadi sangat terbuka pada perkembangan teknologi bahan. Ini tampak dalam perkembangan bentuk karya-karyanya yang berkisar pada pengecoran logam, baja, alumunium dan pewarnaannya (patina).
 
Karya-karya Iriantine merupakan kontras antara yang lembut dengan yang keras, yang gemulai dengan yang kaku, yang hangat dengan yang dingin, yang maskulin dengan yang feminim. Penyatuan kedua unsur ini menciptakan suatu kehidupan baru yang penuh kekayaan dan pesona.
 
Pematung yang salah satu karyanya tersimpan di Museum Sharjah, Uni Emirat Arab ini, menetap di bilangan Kalibata Timur, Jakarta Selatan, sejak tahun 1979 
 
(Dari Bebagai Sumber)  

You may also like...

Leave a Reply