Jenny Rachman

Nama :
Jenny Rosyeni Rachman
 
Lahir :
Jakarta, 18 Januari 1959
 
Pendidikan :
SD,
 SMP,
  Akademi Sinematografi  IKJ
 
Kegiatan Lain :
Ketua Umum PARFI
 
Filmografi :
Susana (1974)
 Rama Superman Indonesia (1974),
Jangan Biarkan Mereka Lapar (1974)
Rahasia Gadis (1975),
Secercah Senyum (1977),
Kekasih (1977),
Pengalaman  Pertama (1977),
Ku Gapai Cintamu (1977),
Akibat Pergaulan Bebas (1977),
 Pahitnya Cinta manisnya Dosa (1978),
Binalnya Anak Muda (1978),
Hidung Belang (1978),
Akibat Godaan (1978),
Kabut Sutra Ungu (1979),
 Kabut Sutra Ungu (1980), Gadis Marathon (1981),
Budak Nafsu / Fatima (1983),
Doe Tanda Mata (1984),
Dibawah Lindungan Ka’Bah (2011)
 
Karya Tulis :
Kutemukan Ridho-Nya (2010)
 
Penghargaan :
Aktris Terbaik Asia (1980),
Piala Citra pada FFI 1980 sebaga aktris terbaik dalam film Kabut Sutra Ungu


Jenny Rachman
 
 
 
Pada masa remaja, Jenny Rachman ‘suka lari’ dari rumah, dan sekolahnya mandek di kelas 2 SMP. Suatu kali, untuk menghibur diri, Jenny bermain ski es di Senayan, Jakarta, dan pembawaannya yang bebas dan ceplas-ceplos menarik perhatian Produser Tuty Soeprapto. Yeyen begitu wanita berdarah Aceh dan Cina-Madura itu biasa dipanggil, lalu diajak ikut main film iklan. Ia juga mulai terjun sebagai model foto dan peragawati. Waktu itu, usiannya baru 14 tahun.
 
Walaupun orangtuanya melarang, Yeyen terus merintis kariernya sebagai aktris. Ia mulai mendapat peran figuran dalam film-film cerita, memainkan gadis lincah, manja, dan bandel, peran–-peran yang melekat dengan sosok dirinya. Tetapi nama anak ketiga dari empat putri bersaudara ini melesat sejak memainkan peran utama dalam Rahasia Gadis, tahun 1975.
 
Piala Citra pertama diraihnya pada 1980, lewat Kabut Sutra Ungu, film laris arahan Sjumandjaja. Piala Citra kedua direbutnya melalui film karya Sutradara Chaerul Umam, Gadis Marathon, dua tahun kemudian. Film-film bagus lainnya yang diperankannya adalah November 1828, karya sutradara Teguh Karya, Bukan Sandiwara dan Kartini karya sutradara Sjumandjaja, serta Doea Tanda Mata, karya sutradara Slamet Rahardjo. Sedikitnya, sudah 30 film di bintanginya.
 
Meskipun tidak sampai selesai SMP, Jenny mampu menyerap pengetahuan dari pergaulannya. Baik dari sesama artis, dan terutama dari para sutradara, khususnya dari almarhum Sjumandjaja, yang belakang banyak menangani film-film Yeyen. Dengan arahan Sjumandjaja pula, ia terdorong menjadi mahasiswa pendengar Akademi Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). “Saya tidak hanya ingin jadi pemain, saya ingin juga memperdalam seluk-beluk pembuatan film”,“ujar Jenny, yang tampaknya berniat menjadi sutradara. Ia juga banyak membaca buku tentang sinematografi.
 
Pada tahun 1982, ia menunaikan ibadah haji. Aktris yang kerap mengadakan pengajian di villanya yang bergaya kelenteng di Cipanas, Bogor, ini sering juga mengaji di Majelis Taklim Al Qohar di Bandung, yang mempunyai cabang di Sawangan, Depok. Jenny gemar memasak. Di kediamannya di Pulo Mas, Jakarta Timur, ia rajin memasak masakan Jepang walaupun, sejak 1982, ia sendiri sudah tidak makan nasi. “Nasi membikin badan cepat gemuk”,“katanya.
 
Pada pemilihan ketua Parfi kemarin Jenny Rachman mendapat suara terbanyak yang akhirnya ia dinobatkan sebagai ketua umum PARFI.***
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply