John De Rantau

Nama :
John De Rantau
 
Lahir :
Padang, Sumatera Barat,
 2 Januari 1970
 
Pendidikan :
SMA 2 Padang (lulus, 1988),
Sekolah Tinggi Publistik/IISIP (Tidak lulus)
Institut Kesenian Jakarta (lulus, 1998)
 
Filmografi :
Looking For Madonna (2003),
Denias, Senandung di Atas Awan (2006),
Obama Anak Menteng (2010),
Semesta Mendukung (2011)
 
Sinetron :
Cemplon,
Donna Sang Penyamar,
Ali Topan Anak Jalanan,
Dara Manisku
 
 
 
 


Sutradara Film
John De Rantau
 
 
 
Lahir di Padang, Sumatera Barat, 2 Januari 1970. Ayahnya seorang pedagang kecil, sedangkan ibunya hanya perjual makanan. Sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarga, John kecil sudah menjadi tumpuan harap keluarga. Di besarkan di lingkungan pasar yang keras. Tapi, sang ayah tidak mau John mencari hidup di pasar. John terus didorong untuk sekolah. Biar pintar, dan bisa mencari makan dengan menggunakan otak, bukan otot.
 
SD sampai SMA dilewatkan John di kota Padang, Sumatera Barat. Di masa sekolah menengah inilah John gandrung dengan komik Godam, Gundala, Jan Mintaraga, Djair, Ganes Th, Jaka Sembung, Si Buta dari Gua Hantu. Semua komik Indonesia ia lahap. Suatu ketika, John mendapat sebuah Betamax VHS Player dari ayahnya, sebagai hadiah telah menjadi juara kelas. Bermodal itu, John membuka bioskop rumahan. Dia mengutip bayaran dari teman-teman atau tetangga yang ingin nonton di rumahnya.
 
Selepas lulus SMA, sempat mendaftar masuk Universitas Andalas Padang, jurusan ekonomi. Namun, ia memutuskan pindah ketika seluruh keluarganya merantau ke Jakarta pada tahun 1988. Di Jakarta, karena ingin jadi wartawan, ia kemudian masuk Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang IISIP). Sekali waktu, ia pergi ke Taman Ismail Marzuki. Cita-cita pengin jadi wartawan kontan berubah begitu melihat suasana belajar di Institut Kesenian Jakarta. John kemudian mendaftar sebagai mahasiswa di jurusan penulisan naskah, tapi ketika ia melihat ada jurusan sinematografi, ia pindah ke jurusan itu, padahal, arti sinematografi saja ia belum paham. John De Rantau masuk dalam daftar 9 orang lulus, dari 63 mahasiswa seangkatannya, termasuk Riri Riza.
 
Baru beberapa semester kuliah di IKJ, John terpaksa hidup sendiri. Keluarganya memutuskan kembali ke Padang. John akhirnya memutuskan tinggal di kampus. Tapi justru dengan begitu, dia bisa bergaul intens dengan para seniman senior. Sambil kuliah, John beberapa kali membantu kakak kelas, bahkan sebagai asisten sutradara. Sempat bersama Garin Nugroho selama satu tahun sebelum memutuskan bergabung dengan production house (PH) yang memproduksi sinetron.
 
Namanya mencuat setelah sinetron Cemplon dan Donna Sang Penyamar menduduki rating tertinggi di TV nasional. Di sinetron ini pula John mengenal Leo Sutanto, yang saat itu masih mengendalikan Prima Entertainment. Bersama Leo Sutanto, John menggarap hingga 16 film lepas TV (FTV). Setelah itu, tercatat ia kerap pindah dari satu PH ke PH lain. 10 tahun menggarap sinetron dan FTV di berbagai PH, John bergabung dengan Multivision Plus, namun tak bertahan lama. Lalu, ia memutuskan kembali bergabung dengan Leo Sutanto dibawah bendera Sinemart.
 
Tahun 2003, John kembali kerja bareng dengan Garin menggarap film tentang HIV/AIDS di Papua. Dengan berbekal setumpuk bahan riset tentang trafficking perempuan di Papua dan HIV/AIDS yang di berikan Garin, ia mampu membuat script dan merampungkan produksi film yang diberi judul Looking For Madonna yang dibuat dengan format Digital Video. Film ini diputar di San Francisco Film Festival, Amerika Serikat (2006) dan di Singapore Film Festival.
 
Denias, Senandung di Atas Awan (2006) adalah film layar lebar John De Rantau yang kedua sekaligus film pertama John menggunakan format 35 mm. Awal keterlibatan John dalam penggarapan film ini sudah dimulai sejak tahun 2003, saat ia baru kembali dari menggarap Looking For Madonna. Ketika itu Ari Sihasale, produser film Denias, Senandung di Atas Awan menghubunginya, karena ia mau menggarap film layar lebar tentang adik dari salah satu temannya yang berada di Australia.
 
Ada 3 hal yang kemudian menjadi alasan John mau menggarap film Denias, Senandung di Atas Awan . Pertama, karena formatnya 35 mm. Kedua, karena dirinya cinta Papua, dan yang terakhir karena cerita dan spiritnya bagus. Dari tangan dinginnya, film yang dibintangi Albert Fakdawer, Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen dan Marcella Zalianty berhasil masuk nominasi FFI 2007. Meski akhirnya tak satu penghargaan pun berhasil disabet, capaian John tak urung menjadi bahan obrolan para sineas. Bahkan karena film layar lebarnya ini, John sempat digelari Wakil Papua. Pada ajang Indonesia Movie Awards 2007, salah satu pemerannya Albert Fakdawer terpilih sebagai aktor pendatang baru terbaik.
 
John mengatakan bahwa dirinya akan menyeriusi dunia film, layar kaca ataupun layar lebar. Dua-duanya ia lakukan dengan kesungguhan hati hanya medianya saja yang berbeda.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply