Joni Ariadinata

Nama :
Joni Ariadinata
 
Lahir :
Dusun Majapahit, Majalengka, Jawa Barat,
23 Juni 1966
 
Pendidikan :
SMA di Leuwimunding, Majalengka
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Muhammadiyah, Yogyakarta
 
Pencapaian :
Cerpenis Terbaik Pilihan Kompas lewat karya ‘Lampor’ (1994),
Cerpenis Terbaik Nasional versi BSMI atas karyanya ‘Keluarga Mudrika’ (1997),
Penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, atas karyanya berjudul ‘Keluarga Maling’ pada Pemilihan Cerita Pendek Indonesia Terbaik 1999,
Anugrah Pena 2005 atas kumpulan cerpennya Malaikat tak Datang Malam Hari,
Meraih Hadiah Sastra Pusat Bahasa lewat kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari kembali (2007),
Penghargaan Sastrawan Muda dari Majelis Sastra Asia Tenggara/Mastera (2010)
 
Karya Kumpulan Cerpen :
Kali Mati (1999),
Kastil Angin Menderu (2000),
Air Kaldera (2000),
Malaikat Tak Datang Malam Hari (2004)
 
Antologi :
Guru Tarno (Bigraf, 1995),
Negeri Bayang Bayang
(DKS, 1996),
Candramawa
(Pustaka Nusatama, 1996),
Pistol Perdamaian
(Kompas, 1996),
Gerbong
 (Pustaka Pelajar, 1998),
Aceh Mendesah Dalam Nafasku
 (KaSUHA, Banda Aceh, 1999),
Embun Tajjali (AksaraIndonesia, 2000),
Begini Begini Begitu
(Esai, Pustaka Pelajar, 1997)

Penulis
Joni Ariadinata
 
 
Lahir di Dusun Majapahit, Majalengka, Jawa Barat, 23 Juni 1966, dari keluarga Achwan Hasan dan Susanah. Menamatkan SMA di Leuwimunding, Majalengka. Kemudian hijrah ke Yogyakarta dan menamatkan pendidikan di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Muhammadiyah, Yogyakarta.
 
Sebelum menjadi penulis, ia pernah menjadi pekerja serabutan mulai dari kuli bangunan, penarik becak sampai menjadi pengamen ke tempat-tempat kos mahasiswa di Yogyakarta. Perkenalannya dengan dunia kepenulisan awalnya karena pertemanannya dengan seorang penulis yang kemudian mendorongnya untuk menjadi penulis. Belajar secara otodidak, akhirnya tahun 1993 cerpen pertamanya dimuat di Surabaya Post, setelah empat ratusan lebih karyanya dikirimkan ke beberapa media.
 
Pada pertengahan 1994 secara mengejutkan ia meraih penghargaan sebagai Cerpenis Terbaik Pilihan Kompas atas karyanya ‘Lampor’. Setelah itu karya-karya yang ia tulis mulai mendapat pengakuan dan banyak di muat di berbagai media massa di antaranya majalah Horison, Matra, Basis, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Sastra Bahana (Brunei Darussalam), serta harian Kompas, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Pikiran Rakyat, dan Jawa Pos.
 
Dalam proses kepengarangannya ia dikenal sebagai penulis yang kerap bereksperimental mencari bentuk kepenulisannya sendiri. Ia juga dikenal sebagai salah satu penulis yang memiliki corak kepengarangan khas. Di dunia cerpen, ia juga melakukan pembaharuan dengan cara melakukan reduksi bahasa, hingga menampakkan citra puisi dalam narasi-narasinya. Terkesan pada cerpen-cerpen karyanya terpilih diksinya, pekat, padat, dan bernas. Ia bisa menghadirkan borok, nanah kehidupan, realitas yang sangat runyam ke dalam teks sastra yang penuh simbol, tanda, dan pemaknaan. Dengan mereduksi bahasa, ia memang berhasil menghilangkan beban sosiologis pada cerpen-cerpennya, menghindar untuk menjadi nyinyir dan bertendens.
 
Sejak memulai karier sebagai penulis hingga sampai saat ini, ia tercatat telah menerbitkan kumpulan cerpen diantaranya ‘Kali Mati’ (1999), ‘Kastil Angin Menderu’ (2000), ‘Air Kaldera’ (2000), dan ‘Malaikat Tak Datang Malam Hari’ (2004). Sedang karyanya dalam bentuk antologi antara lain ‘Guru Tarno’ (Bigraf, 1995), ‘Negeri Bayang-Bayang’ (DKS, 1996), ‘Candramawa’ (Pustaka Nusatama, 1996), ‘Pistol Perdamaian’ (Kompas, 1996), ‘Gerbong’ (Pustaka Pelajar, 1998), ‘Aceh Mendesah Dalam Nafasku’ (KaSUHA, Banda Aceh, 1999), dan ‘Embun Tajjali’ (Aksara Indonesia, 2000); sedangkan esainya dalam antologi yakni ‘Begini Begini Begitu’ (Pustaka Pelajar, 1997).
 
Bersama Taufiq Ismail dkk, ia juga mengeditori sejumlah buku, antara lain: ‘Horison Sastra Indonesia 1’ (Kitab Puisi), ‘Horison Sastra Indonesia 2’ (Kitab Cerpen), ‘Horison Sastra Indonesia 3’ (Kitab Novel), ‘Horison Sastra Indonesia 4’ (Kitab Drama), serta ‘Horison Esei Indonesia 1 dan 2’ (Kitab Esei). Buku-buku tersebut, disebarkan untuk menjadi bacaan di perpustakaan-perpustakaan SMA di seluruh Indonesia. Di samping itu, ia bersama dengan Agus R. Sarjono, dan Jamal D. Rahman, juga secara aktif membantu Taufiq Ismail dalam menggerakkan “Sastrawan Bicara Siswa Bertanya” di Sekolah Lanjutan Atas maupun pesantren di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.
 
Kiprahnya sebagai penulis tidak perlu di ragukan lagi setelah pada tahun 1997 ia kembali mendapat penghargaan sebagai Cerpenis Terbaik Nasional versi BSMI atas karyanya ‘Keluarga Mudrika’, lalu meraih penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, atas nominasi karyanya berjudul ‘Keluarga Maling’ pada Pemilihan Cerita Pendek Indonesia Terbaik 1999. Serta Menerima Anugrah Pena 2005 atas kumpulan cerpennya ‘Malaikat tak Datang Malam Hari’. Berselang dua tahun, ditahun 2007 kumpulan cerpen ‘Malaikat Tak Datang Malam Hari kembali’ kembali meraih Hadiah Sastra Pusat Bahasa. Ia juga mendapat menerima Penghargaan Sastrawan Muda dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Dodi Nandika, dalam Seminar Antarbangsa Kesusastraan Asia Tenggara di Hotel Santika, Jakarta, 27 September 2010.
 
Sebagai penggiat sastra, bapak dua orang anak dari pernikahannya dengan Indah Laksanawati ini, tercatat beberapa kali di undang untuk turut serta dalam sejumlah kegiatan sastra, diantaranya pada tahun 1998 mengikuti Writing Program pada Majelis Sastra Asia Tenggara, mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara X, dan Pertemuan Sastrawan Malaysia I di Johor Bahru  Malaysia pada tahun 1999.  Kemudian Januari hingga April 2001,  mengunjungi  Eropa atas  undangan  Festival  Winternachten di  Deen  Haag Belanda, tinggal  di  Amsterdam, serta berkeliling membacakan cerpen  dan  ceramah-ceramah  sastra  di Paris-Perancis, dan lain-lain.
 
Kini selain menjadi Redaktur majalah sastra Horison dan Pemimpin Redaksi Jurnal Cerpen, Penggagas Kongres Cerpen Indonesia ini juga mengelola Akar Indonesia (sebuah lembaga budaya yang menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia). Bersama keluarga, pria yang kerap berpenampilan sederhana ini, tinggal menetap di kediamannya di tepi sungai Bedog, Gamping, Sleman, DIY Yogyakarta.
 
(Dari berbagai Sumber)
 

You may also like...