Kabul E Samsudin

Nama :
Kabul E. Samsudin
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
18 Agustus 1952
 
Pendidikan :
SD-SMA (Bandung)
 
Profesi :
Pimpinan Padepokan Seni Ringkang Gumiwang
Penulis naskah sinetron dan cerita wayang
 
Karya :
Sandiwara Sunda Raja Lieur (2010),
Sandiwara Sunda Masitoh (2011)
 
 


Kabul E. Samsudin
 
                              
Wa’ Kabul sapaan akrabnya, dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 18 Agustus 1952. Pendidikannya sejak SD sampai SMA di tempuh di Bandung, Jawa Barat. Di tahun 1970-an ia sudah berkiprah di bidang seni, meski bukan kesenian tradisi. Ketika itu, ia menjadi pemain bas sekaligus vokalis band, yang menjadi band tetap sebuah klab malam di Bandung, Jawa Barat. Namun, lama kelamaan klab malam pun sepi pengunjung, karena para tamu beralih ke diskotek. Ketika itulah, ia mendapatkan ‘babalik pikir’ (kembali ke jalan yang benar), di mana ia tertarik untuk menekuni kesenian tradisi Sunda. Menurutnya, bagaimana pun kondisinya, kesenian rakyat itu harus tetap ada
 
Ia kemudian menekuni longser, semacam lenong Betawi, tapi penuturnya menggunakan bahasa sunda. Dua minggu sekali seni longser di gelar di TVRI Jawa Barat. Sambil menekuni longser, ia juga mendalami teater rakyat atau sandiwara Sunda. Dalam aktivitasnya ini, ia kemudian dipercaya untuk menjadi pimpinan Padepokan Seni Ringkang Gumiwang yang awalnya bernama Jati Nugraha, yang berdiri sejak 1978. Padepokan ini sendiri merupakan salah satu dari empat padepokan drama Sunda yang dulunya aktif, seperti padepokan Seni Sri Murni, Dewi Murni dan Vikta.
 
Hasil karyanya yang berupa drama atau sandiwara Sunda ditampilkan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, yang terletak di tengah Pasar Kosambi, kawasan pusat kota Bandung, Jawa Barat. Gedung ini juga menjadi tempat berkumpul seniman tradisi Sunda. Selama lima hari dalam sebulan, ia juga menggelar sandiwara di Taman Budaya Jawa Barat, Dago, Bandung Utara, atau di Gedung Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, Jawa Barat.
 
Dalam setiap pergelarannya, ia menjadi sutradara sekaligus penulis skenario. Cerita-cerita yang ia tampilkan umumnya melukiskan kehidupan sehari-hari rakyat kebanyakan. Namun, ia berupaya memodifikasi pertunjukan itu agar layak tayang atau layak tampil di tempat pergelaran. Dengan cara itu, ia berharap penonton tidak bosan. Modifikasi yang dilakukanya mulai dari tata cahaya, dekorasi panggung, hingga alur cerita.
 
Ia juga memilih pemain yang umumnya berparas relatif cantik dan ganteng agar penonton senang. Tak hanya penampilan, pemain juga diharuskan berlatih sungguh-sungguh sebelum pertunjukan digelar. Serta mereka juga harus membaca naskah cerita dan menghapal dialog masing-masing. Ia juga berusaha konsisten dalam mengadakan pertunjukan, seberapa pun banyaknya penonton yang datang.
 
Bulan Oktober 2010, ia kembali membangkitkan seni sandiwara Sunda yang selama hampir tujuh tahun tak pernah ada pementasan, dengan mementaskan sandiwara berjudul Raja Lieur. Bulan Februari 2011, selama empat hari, ia kembali menggelar sandiwara Sunda bernuansa religi berjudul Masitoh, yang berkisah tentang perjuangan seorang perempuan pada masa Fir’aun di di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Baranang Siang, Bandung, Jawa Barat. Kisah Masitoh sendiri merupakan karya Ajip Rosidi, yang skenarionya dibuat dan disutradarainya untuk drama Sunda. Pementasan itu berhasil menyedot banyak penonton.   
 
Di kalangan seniman Bandung, ia juga di kenal sebagai sosok yang patuh menjaga nilai-nilai tradisi. Pembawaan seperti itu menjadikannya bisa ’menembus’ perguruan tinggi untuk mempresentasikan berbagai makalah seni. Ia juga kerap menulis artikel, terutama di media berbahasa Sunda, seperti Mangle, Giwangkara, atau Galura. Dalam perjalanan kariernya, ia juga menulis naskah sinetron dan cerita wayang. Salah satunya di simpan di sebuah perpustakaan di Amerika Serikat.
 
Setelah sempat menjual rumahnya di kawasan Cibiru, Bandung Timur, Jawa Barat, demi mendapatkan dana untuk membiayai pergelaran sandiwara Sunda, mulai dari pembelian kostum sampai honor pemain, serta sempat sekitar tujuh tahun tinggal di rumah kontrakan bersama keluarga, akhirnya tahun 2011, Wa’ Kabul mampu membeli rumah yang tak jauh letaknya dari rumahnya semula. Malah rumah barunya itu lebih luas di bandingkan rumah lama. Di tempat ini jugalah padepokannya yang seluas sekitar 8 m x 6 m berdiri.
 
Di dukung sekitar 100 anggota yang tergabung dalam Padepokan Seni Ringkang Gumiwang, ia terus menelurkan karya. Ia tetap tekun dan memiliki daya juang untuk berubah mengikuti perkembangan jaman. “Seniman jangan ‘menunggu bola’, tapi harus aktif ‘menjemput bola’,” ujarnya. Menikah dengan Ida Laila, dikaruniai dua orang anak, Bayu Endang Suharta dan Angin Endang Suharti.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply