Keni Arja

Nama :
Keni Arja
 
Lahir :
Slangit, Klangenan, Cirebon, Jawa Barat tahun 1942
 
Aktifitas Lain :
Pimpinan grup Adi  Ningrum

Seniman Tari Topeng
Keni Arja
 
 
 
Lahir di Slangit, Klangenan, Cirebon, Jawa Barat, tahun 1942. Ayahnya, Arja adalah dalang topeng yang terkenal. Saudara-saudaranya hampir semuanya (7 dari 9 orang) menjadi dalang topeng, paling tidak menjadi Panjak. Karena ayahnya wafat pada tahun 1950, ia belajar menari kepada kakaknya yang kedua, Suparta. Kemudian di lanjutkan dengan kepada kakaknya yang lain, Sujana. Umumnya Keterampilan menari topeng yang dimiliki oleh para pedalang topeng, didapat dari proses pewarisan dengan sistem pertalian keluarga, seperti dari orang tua kandung atau kakak kandung yang dianggap masih memiliki garis darah dengan Sunan Panggung atau Sunan Gunung Jati.
 
Pada awal tahun 1950-an, Keterampilannya semakin terasah saat melakukan bebarang atau naik pentas di pelosok-pelosok daerah. Ia termasuk salah satu pedalang yang lebih disukai oleh masyarakat. Dalam acara hajatan, ia juga terampil menyanyi, sering memenuhi permintaan dari pihak penanggap dan penonton di sela-sela pertunjukan topengnya untuk menyanyi. Lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu tua seperti dermayon atau dandang gula.
Selain dikenal sebagai penari topeng dan pedalang topeng, ia juga dianggap memiliki kelebihan, Ia sering diminta untuk mengobati anak yang sakit atau diminta berdoa sehubungan dengan timbulnya musibah dan sebab lain. Tidak jarang jika dalam suatu pementasan ada anak tetangga di sekitar rumah penanggap yang melahirkan, anak itu dijadikan anak panggungnya. Doa dipanjatkan di atas panggung, dan anak itu dijadikan anak angkat.
Tahun 1985, menikah dengan Suganda. Pertemuan mereka pun diawali dari kegiatan bebarang yang dilakukan olehnya. Setelah menikah ia membentuk rombongan sendiri yang di berinama Adi Ningrum. Rombongannya termasuk yang sering mendapat kesempatan untuk mengadakan pertunjukan, tidak hanya di Kabupaten Cirebon, melainkan juga sering diKkabupaten Majalengka, Indramayu bahkan di Bandung. Sering juga mengadakan pertunjukan di luar negeri, antara lain di beberapa kota Amerika Serikat (1971 dan 1991), Hongkong (1979), Jepang (Tokyo dan Osaka ditahun 1989 dan Okayama ditahun 1993).
Ia tetap setia menjalankan perannya sebagai pedalang topeng, baik dalam pertunjukan hiburan maupun dalam pertunjukan sakral. Selain itu ia juga menyelenggarakan pelatihan tari topeng kepada masyarakat di sekitarnya. Kegiatan ini adalah salah satu upaya Keni untuk melestarikan kesenian ini.  Salah seorang anaknya kini menjadi pengajar tari topeng di Jurusan Tari STSI Bandung.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply