Khrisna Pabichara


Penulis
Khrisna Pabichara

Di kenal sebagai seorang Penulis, editor, sekaligus motivator yang tulisan-tulisannya telah menyebar di berbagai media lokal maupun nasional. Putra kelima dari pasangan Yadli Malik Dg. Ngadele dan Shafiya Djumpa ini lahir di Borongtammatea, Kabupaten Jeneponto, Makassar, Sulawesi Selatan pada 10 November 1975.

Semasa SMA telah mengakrabi tradisi Makassar, termasuk teater rakyat dan kesenian daerah lainnya. Ia juga turut memprakarsai terbentuknya Teater Tutur Jeneponto bersama Agus Sijaya Dasrum, Ahmarullah Sahran, dan Syarifuddin Lagu. Sempat pula menjadi penyiar di sebuah radio swasta, pengalaman yang membuatnya kerap gemetar ketika mendapat tugas mewawancarai tokoh yang diundang untuk mengudara.

Pernah beberapa kali tampil sebagai juru bicara untuk cerdas cermat antar sekolah atau kelompencapir. Ketika itu, ia mendapat gelar Singa Podium setelah 3 tahun berturut-turut memenangkan Lomba Pidato Tingkat Pelajar SLTA se-Sulawsesi Selatan dari 1989-1991. Gelar Pelajar Cerdas karena kerap memenangi Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja tahun 1990, dan Wartawan Muda Berbakat setelah menggondol juara pada Lomba Majalah Dinding se-Sulwesi Selatan Tahun 1990.

Tahun 1996, ia sempat menjadi guru Matematika, Fisika, dan Akuntansi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Tanetea setelah berhenti sebagai tenaga audit di sebuah lembaga perbankan swasta. Setelah itu hijrah ke Jakarta dengan niat untuk menjadi penulis. Namun, semuanya tak semudah seperti membalikan telapak tangan, manuskrip buku yang diajukannya ke sebuah penerbit ditolak mentah-mentah karena dianggap belum punya nama. Alhasil, malah terjun sebagai pamong desa di Desa Pangkal Jaya dan Desa Bantar Karet di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Lepas dari masa pengabdian di tengah masyarakat, ia mulai mempelajari dunia neurologi secara serius dan menggeluti profesi sebagai trainer dan motivator sejak 2000. Mulai menggeluti dunia tulis-menulis sejak tahun 2003. Ketika itu ia lebih menyukai tulisan-tulisan bernuansa ilmiah, utamanya tentang otak. Sekitar tahun 2005, bersama teman-temannya di Resesi Community menggelar program Akademi Pelajar Cerdas (APC) Turatea. Ada 24 siswa yang lolos seleksi kemudian diasramakan untuk mendapatkan bimbingan. Ternyata hasilnya cukup memuaskan. Materi dari akademi tersebut dihimpun dan dijadikan sebuah buku. Tahun 2006, MQS Publishing merespons buku mentah yang dibuatnya.

Hajat menjadi penulis baru terwujud pada tahun 2007 ketika Kolbu berkenan menerbitkan buku pertamanya, ‘12 Rahasia Pembelajar Cemerlang’. Sejak itu, dunia perbukuan menjadi sesuatu yang tak bisa, atau tak akan, ditinggalkannya. Maka bersentuhanlah ia dengan para praktisi perbukuan semisal Bambang Trim, Hernowo, dan yang lainnya. Selain itu, ia juga menjalin hubungan baik dengan banyak penggiat sastra, terutama Gemi Mohawk, Damhuri Muhammad, Maman S. Mahayana, Putu Wijaya, Hanna Fransisca, Hudan Hidayat, Hasan Aspahani, Kurnia Effendi, Saut Poltak Tambunan, Endah Sulwesi, dan Salahuddien Gz.

Perkenalannya dengan Bamby Cahyadi, Aulya Elyasa, dan Atisatya Arifin pada 2008 juga membuatnya akhirnya terjun ke dunia prosa, dan mulai mengarang cerpen pada 2009. Sejumlah buku kemudian lahir dari tangannya, diantaranya ‘Revolusi Berkomunikasi’ (Rumah kata, Maret 2008), ‘Baby Learning: Cahaya Cinta Cahaya Mata’ (Cakrawala, Juni 2009), kumpulan cerita pendek ‘Mengawini Ibu: Senarai Kisah yang Menggetarkan’ (Kayla Pustaka 2010), ‘Kamus Nama Indah Islami’ (Zaman, Juni 2010), dan ‘Sepatu Dahlan’ (PT Mizan Publika, 2012). Tiga cerpennya termuat dalam Antologi Cerpen ‘Kolecer dan Hari Raya Hantu’ (Selasar Pena Talenta, Juli 2010).

Tulisannya-tulisannya juga banyak dimuat di berbagai media, seperti di Republika, Jawa Pos, Suara Karya, Media Indonesia, Jurnal Bogor, Padang Ekspres, Berita Pagi, Analisa, Global, Fajar, Sumatera Ekspres, tabloid Assalamu’alaikum, Batam Pos, Riau Pos, Pedoman Rakyat, dan media lainnya. Ia juga mengasuh rubrik okeLearning di www.inioke.com, sebuah situs remaja yang berbasis edukasi.

Ia mengaku, hampir semua bidang perbukuan telah digelutinya. Seperti menulis, mengedit, mengarang, dan proofreader. Pria yang bekerja sebagai manager editor di Kayla Pustaka ini, telah mengedit beragam buku. Bahkan, ia pernah menyunting beberapa buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh terkemuka Indonesia. Di antaranya Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Anas Urbaningrum, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dan masih banyak lagi.

Selain aktif sebagai penulis, ia juga sering menerima ‘panggilan’ untuk mengisi acara seminar, workshop, atau training interactive untuk pengembangan kecakapan diri, terutama brain management. Ia pernah mengisi training dibeberapa perguruan tinggi dan sekolah menengah, serta perusahaan-perusahaan lain. Menikah dengan Mamas Aurora Masyitoh, dan di karuniai anak Shahreena Adenia Pabichara, menetap di Makassar, Sulawesi Selatan.

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :
Khrisna Pabichara

Lahir :
Borongtammatea,
Kabupaten Jeneponto, Makassar, Sulawesi Selatan,
10 November 1975

Karier :
Pendiri Teater Tutur,
Penyiar Radio Swasta,
Auditor Bank
Pengajar Madrasah Aliyah (1996),
Muhammadiyah Tanetea,
Pamong Desa Pangkal Jaya dan Desa Bantar Karet di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,
Trainner dan motivator,
Pengasuh rubrik okeLearning di www.inioke.com
Manager editor di Kayla Pustaka

Pencapaian :
Pemenang Lomba Pidato Tingkat Pelajar SLTA se-Sulawsei Selatan dari 1989-1991,
Pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja tahun 1990
Juara Lomba Majalah Dinding Se-Sulawesi Selatan (1990)

Karya :
12 Rahasia Pembelajar Cemerlang (Kolbu, 2007),
Revolusi berkomunikasi
(Rumah kata, Maret 2008),
Baby Learning:
Cahaya Cinta Cahaya Mata (Cakrawala, Juni 2009),
Kumpulan cerita pendek Mengawini Ibu: Senarai
Kisah yang Menggetarkan
(Kayla Pustaka 2010),
Kamus Nama Indah Islami (Zaman, Juni 2010),
Sepatu Dahlan
(PT Mizan Publika, 2012),
Tiga cerpennya termuat dalam Antologi Cerpen Kolecer dan Hari Raya Hantu (Selasar Pena Talenta, Juli 2010)

You may also like...