Ki Tjakrawarsita

Nama :
Wasi Jolodoro /
Tjakrawasita (1925) /
Kanjeng Raden Tumenggung Wasitadipura (1965) /
Kanjeng Raden Tumenggung Wasita diningrat (1976) /
Kanjeng Pangeran Harya Natapreja (2000)
 
Lahir :
Yogyakarta, 17 Maret 1904
 
Wafat :
Yogyakarta, 30 Agustus 2007
 
Pendidikan :
Sekolah Islamiah,
Taman Siswa,
Kleine Ambtenar
 
Profesi :
Abdi Dalem Langen Praja Pura Pakualaman (1952),
Staff  Kantor Keuangan Kepatihan Yogyakarta (1931),
Pegawai Perpustakaan Pura Pakualaman (1932),
Pimpinan Langenpraja
(1962 sampai akhir hayanya),
Pengisi Acara Radio Broadcast MAVRO / Mataram Veregining Radio Omroepper Maatschappij (1934),
Karyawan Radio Republik Indonesia Stasiun Yogyakarta (1945-1971),
Dosen beberapa universitas di Amerika 1971
 
Penghargaan :
Badan Penyelenggara Sendra Tari Ramayana (1962),
Yayasan Roro Jonggrang (1963),
Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia (1963),
Panitia Dana Sukarelawan Dwikora Perwakilan DIY (1965),
Piagam Anugerah Seni Republik Indonesia (1969),
Nama KRT. Wasitadiningrat diabadikan sebagai nama gugusan bintang oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA),
Sekar Padepokan Bagong Kussudiardjo (1993),
Pemerintah Daerah DIY (1993),
RRI Yogyakarta (1996),
Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (2003),
Telapak kaki Tjakrawasita diabadikan dalam tapak prasasti oleh Walikota Yogyakarta (2004),
Gelar Empu Ageng setingkat Guru Besar dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta (2004),
Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta (2005),
Hamengku Buwono IX Award dari Universitas Gadjah Mada (2006),
Penghargaan dari keluarga Presiden Soekarno (2007)
 


Maestro Musik Karawitan
Ki Tjakrawasita
 
 
 
KPH. Natapraja atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Tjakrawasita adalah seniman besar karawitan Jawa di abad 20. Ia tidak hanya mahir dalam memainkan berbagai instrumen penting dalam karawitan Jawa, akan tetapi juga sebagai guru yang baik, nara sumber kebudayaan Jawa yang komplit, dan komponis kreatif yang sangat visioner. Ia adalah salah satu tokoh karawitan Jawa yang sangat peka terhadap fenomena sosial dan musikal.
 
Terlahir dari lingkungan denyut nadi aneka ragam seni tradisi istana, kemudian tumbuh, berkembang, dan menjadi harum dan besar namanya lewat keteguhan, konsistensi, pandangan, perjuangan, dan kreativitasnya dalam dunia karawitan Jawa. Ki Tjakrawasita dilahirkan dari keluarga abdi dalem Pura Pakualaman dengan nama Wasi Jolodoro. Ayahnya bernama Raden Wedana Padmowinangun, seorang pengrawit di istana Pakualaman, sedangkan ibunya seorang abdi dalem penari dan pesinden pada masa pemerintahan Paku Alam V (1878-1900). Kakeknya bernama Atmo Winangun, adalah seorang pengrawit yang mahir dalam bermain gamelan Jawa di istana Pakualaman.
 
Sejak usia 16 tahun (1925-1927), ia telah magang sebagai abdi dalem Langen Praja di istana Pakualaman, dan pada usia 23 tahun (1932) secara resmi diangkat sebagai calon abdi dalem dalam lembaga yang sama dengan diberi nama Raden Bekel Tjokrowasito. Pada tahun 1923, ia sempat mengenyam sekolah di Perguruan Taman Siswa sampai dengan kelas empat yang sekaligus mengantarkannya secara pribadi berkenalan dengan Ki Hajar Dewantara. Pada tahun 1928-1931, ia bekerja di Pabrik Gula Muja-Muju. Pada tahun 1931 memutuskan ke luar dari pabrik gula Muja-Muju dan bekerja pada kantor keuangan Kasultanan Yogyakarta. Akhirnya pada tahun 1932 ia secara khusus dipanggil untuk bekerja di Istana Pakualaman oleh K.G.A.A. Paku Alam VII.
 
Pada tahun 1962, Ki Tjokrowasito mendapat promosi kedudukan menggantikan posisi ayahnya sebagai pimpinan karawitan Pura Pakualaman dengan berganti nama, R.Ng. Wasitopura dan berubah nama lagi menjadi K.R.T. Wasitodiningrat. Akhirnya atas jasa-jasanya yang sangat besar terhadap Istana Pakualaman, beliau dianugerahi gelar dan nama K.P. Natapraja.
 
Karya-karya kreatifnya terus terlahir dalam wujud yang beragam dan mampu menembus batas-batas tradisi karawitan Jawa yang penuh dengan kaidah dan aturan ketat. Gagasan kreatifnya terus terlahir dalam wujud yang beragam dan mampu menembus batas-batas tradisi karawitan Jawa yang penuh dengan kaidah dan aturan ketat. Gagasan kreatifnya terus mengalir merefleksikan realitas fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, serta peradaban dunia yang sedang aktual pada zamannya. Gamelan Jawa tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk menyajikan gending-gending klasik Jawa saja, melainkan diperlakukan sebagai media ungkap yang memiliki potensi musikal besar untuk keperluan mewadahi konsepsi musikal dalam perspektif yang lebih luas. Hal ini dibuktikan dan dicerminkan dalam sebagian karya-karyanya yang memiliki nuansa intertekstual yang lintas budaya dan yang lintas gaya karawitan.
 
Transmisi kemampuan kepengrawitannya ini tidak hanya dilakukan terhadap pribumi, melainkan juga dilakukan terhadap murid-muridnya di Amerika dan warga asing lainnya. Atas realitas seperti itu, maka bukanlah hal yang aneh apabila Pak Tjokro sangat dihormati dari berbagai komunitas seni dan budayawan serta mendapat sebutan yang beragam seperti Sang Maestro, Sang Empu, Sang Pembaharu, dan Sang Pujangga Baru.
 
Ia secara serius menularkan seluruh kemampuan kepengrawitannya kepada khalayak karawitan yang membutuhkan. Ratusan vokalis dan sinden telah berhasil dibina dan ditingkatkan kemampuan kepengrawitannya lewat saluran pendidikan formal karawitan, yakni di konservatori Karawitan Indonesia Surakarta, ASKI Surakarta, Konservatori Tari dan Asti Yogyakarta. Atas jasa-jasanya itu, maka sangatlah masuk akal bilamana kemudian pada awal tahun 1980-an, beliau dikukuhkan sebagai Professor dari California Institute of The Arts.
 
Ia wafat pada usia 104 tahun, tanggal 30 Agustus 2007 dirumahnya di Tempel, Wirogunan, Yogyakarta. Maestro Karawitan yang telah menghasilkan lebih dari 250 karya gending Jawa dikebumikan di makam keluarga Pakualaman Girigondo, Kulon Progo, Yogyakarta. Beliau meninggal dikarenakan usia yang sudah sangat tua selain itu beliau juga mengidap penyakit jantung sejak 20 tahun yang lalu.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply