Kirdjomulyo


Penulis
Kirdjomulyo
 
 
 
 
Lahir di Yogyakarta, tahun 1930, tanggal dan bulannya tidak diketahui secara pasti. “Pokoknya, sama dengan tahun Gunung Merapi meletus”, ujar Kirdjomulyo menirukan ucapan bapaknya. Terlahir dari keluarga empu gamelan Jawa.” Berlatar belakang pendidikan SR (SD), SMP, SMPA terakhir sampai Fak. Sastra jurusan Sejarah UGM namun tidak tamat ia tamatkan.
 
Kirdjomulyo dikenal sebagai seniman serba bisa. Perjalanan hidupnya selama 70 tahun banyak menghasilkan berbagai karya sastra dan senirupa. Di mulai Tahun 50-60-an, pada era ini ia dikenal sangat produktif dalam menulis puisi dan lakon. Buku puisi ciptaannya antara lain: Romansa Perjalanan I dan Lembah Batu Pualam. Karyanya yang berupa manuskrip yaitu Romansa Perjalanan II, Romansa Perjalanan III, Prelude, Daun Permulaan Musim, Angin di Antara Musim serta Kawan dan Karibmu. Sejumlah puisinya juga ada di dalam Antologi Sastra Indonesia Angkatan 66 susunan H.B. Jassin.
 
Sedangkan lakon karyanya antara lain: Nona Maryam, Penggali Kapur, Penggali Intan, Bui, Beliau Amat Kesunyian, Tujuh Orang Tahanan, Laki-laki Jaga Malam, Senja Dengan Sepasang Kelelawar, Jauh di Rantau, Bulan Pagi, Maria, Derai Cemara, Keluarga Wiyasti, Tanah Gersang, Anak Haram, Yessi, Sebab Yang di Bawa Mati, Inah dan Manusia di Sekitarnya, Lahirnya Kejahatan, Matahari Juni, Dusta Yang Manis, Pengawal Bertangan Besi, Sisa-sisa Revolusi, Matahari April, Setetes Darah, Pasukan Caraka, Bulan di Langit Merah, dan Sepasang Mata Indah. Selain lakon-lakon diatas, masih ada sekitar 13 judul lainnya. Karya-karyanya dapat ditemukan pula dalam Tugu (1986) dan Tonggak 2 (1987), yang keduanya dieditori oleh Linus Suryadi (alm).
Sekitar dua puluhan naskah kumpulan sajak dan naskah dramanya tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta. Studi mengenai sajak-sajak Kirdjomulyo di lakukan oleh H.B. Jassin, dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei IV (1996: 15-49).
 
Dikenal juga sebagai seorang pelukis, Sebenarnya tanpa melukis pun ia sudah menunjukan bahwa bakatnya karena hampir semua karya sastranya mempunyai aspek kesenirupaan baik pada puisi, lakon, novel dan sebaliknya karya lukisnya sangat puitis, seperti karya lukisnya yang bertajuk Puisi Lukis.
 
Pernah terjun didunia teater. Bergabung dengan Sanggar Bambu dan menciptakan hymne untuk sanggar tersebut. Ketrampilan Kirdjomulyo dalam berolah kata, kecintaannya pada kesenian, ketekunan dan kesungguhan dalam menciptakan karya, telah mendudukan dirinya sebagai seniman paling produktif pada masanya.
 
Pernah menjadi redaktur majalah Budaya dan Fantasi di Yogyakarta. Belakangan dia pernah menulis serial panjang di koran Berita Nasional, mengungkapkan riset pribadinya”dengan metode huruf sadanya, yang merupakan sebuah upaya yang berhubungan dengan penggalian warisan sejarah nenek moyangnya. Sering diundang menjadi juri lomba menulis puisi dan baca puisi. Selain itu ia juga turut menjadi juri di sejumlah festival teater di Yogyakarta.
 
Kirdjomulyo Wafat di RS. St Bethesda, Yogyakarta, 19 Januari 2000.
 
(Dari BerbagaiSsumber)
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Nama :
Kirdjomulyo
 
Lahir :
Yogyakarta, tahun 1930
 
Wafat :
Yogyakarta, 19 Januari 2000
 
Pendidikan :
SR (SD),
SMP,
SMPA,
Fak. Sastra jurusan Sejarah
 UGM (tidak tamat)
 
Karya Buku Puisi :
Romansa Perjalanan I,
Lembah Batu Pualam,
 
Karya Manuskrip :
Romansa Perjalanan II,
Romansa Perjalanan III,
Prelude,
Daun Permulaan Musim,
Angin di Antara Musim,
Kawan dan Karibmu
 
Lakon Karya :
Nona Maryam,
Penggali Kapur,
Penggali Intan,
Bui,
Beliau Amat Kesunyian,
Tujuh Orang Tahanan,
Laki-laki Jaga Malam,
Senja Dengan Sepasang
 Kelelawar,
Jauh di Rantau,
Bulan Pagi,
Maria,
Derai Cemara,
Keluarga Wiyasti,
Tanah Gersang,
Anak Haram,
Yessi,
Sebab Yang di Bawa Mati,
Inah dan Manusia di
 Sekitarnya,
Lahirnya Kejahatan,
Matahari Juni,
Dusta Yang Manis,
Pengawal Bertangan Besi,
Sisa-sisa Revolusi,
Matahari April,
Setetes Darah,
Pasukan Caraka,
Bulan di Langit Merah,
Sepasang Mata Indah

You may also like...