Komroden Haro

Nama :
Komroden Haro
 
Lahir :
Mandala/Batu Raja,
 Ogan Komering Ulu,
Sumatera Selatan,
26 Mei 1966
 
Pendidikan :
FSRD ISI Yogyakarta
 (1985-1991)
 
 

Pematung
Komroden Haro
 
 
 
 
Pria yang biasa di panggil Pak Kom ini, lahir di Mandala/Batu Raja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, 26 Mei 1966. Ayahnya adalah seorang petani yang setiap harinya bergelut di bidang tanaman. Belajar mematung secara formal di FSRD ISI Yogyakarta tahun 1985. Ketika itu para mahasiswa seni patung ISI Yogyakarta sebagian besar diarahkan oleh pengajarnya untuk mengerjakan proyek pesanan patung untuk pemerintah maupun swasta. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengasah keterampilan mematung dan sekaligus memperoleh tambahan penghasilan ekonomi. Keterampilan yang dituntut adalah keterampilan modeling dan mencetak dalam mematung, terutama patung-patung manusia dengan proporsi dan anatomi yang realistik.
 
Selama proses menjadi pematung, ia mengalami beberapa masa perubahan dalam mematung. Pada masa awal studinya, ia lebih banyak mengerjakan karya-karya patung yang figuratif dengan kecenderungan yang realistik. Bentuk-bentuk figuratif itu juga terpengaruh dari pengalaman kerjanya bersama pematung-pematung senior dalam mengerjakan proyek-proyek monumen. Setelah masa studinya selesai, ia banyak mengerjakan patung dengan material kayu, dan lebih menonjolkan aspek kebentukan. Pada masa itu, ia juga membuat produksi benda-benda kerajinan.


Without the Soul, alumunium, 135 x 50 x 35cm (2008)

 
Karyanya mempunyai ciri yang khas spontan terinspirasi dari bentuk-bentuk benda alam misalnya batu. Kesederhanaan bentuknya menggugah instingtif atau instuitif yang dimilikinya, menangkap citraan, menelaah bentuk batu misalnya, kemudian mentransformasikan dengan imajinasi serta layaknya seorang penggubah, menambahkan muatan pemikiran dari pengalaman yang didapat, yang akhirnya tercipta berbagai citraan atau bentuk eksploratif yang lugas dan memiliki makna, yang bisa dikaji atau dipahami bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain pula, dari karya-karyanya seakan mewakili pengalaman-pengalaman individu-individu yang lain.
 
Setelah beberapa kali berpindah studio, pada tahun 2003, akhirnya ia memiliki studio sendiri di daerah gunung Sempu, selatan Yogyakarta. Studio ini dibangun di lahan kosong di tengah hutan jati. Ia membangunnya secara bertahap, sebelum akhirnya sekaligus digunakannya sebagai tempat tinggal bersama keluarganya. Salah satu momentum yang penting dalam perjalanan karir seni patungnya adalah pada saat mengkuti pameran berdua dengan Herly Gaya, di Dirix Gallery (2001). Pameran ini mengukuhkan pilihannya dalam mengambil peran sebagai seniman pematung, karena mendapat tanggapan yang positif dari kalangan pecinta seni dan kolektor.
 

Momentum lain yang juga mempengaruhi karir dan cara kerja mematungnya adalah pada sebuah pameran bersama di Jogja Gallery  tahun 2008. Karya patungnya yang berbentuk sapi besar mendapat perlakuan khusus dalam ruang galeri. Kurator pameran memintanya untuk merubah display karena pertimbangan ruang dan gagasan. Pada saat itulah, ia menyadari beberapa hal, yaitu bahwa dengan keseriusan dia dalam mengerjakan patung, maka respon publik juga akan sebanding dengan usahanya. Yang tak kalah penting adalah, ia menyadari bagaimana patung pada masa ini tidak hanya selesai setelah keluar dari studio, tetapi masih mempunyai kemungkinan-kemungkinan tak terduga ketika berhadapan dengan ruang galeri maupun dengan kurator dan publik seni.
 
Berbagai pameran yang telah ia lakoni antara lain pameran bersama di Purna Budaya Yogyakarta, pameran Dies Natalis di ISI, pameran di Citra Raya Jakarta, pameran di kelompok Dimensi (Chandra dimuka), pameran di Sheraton Mustika Yogyakarta, pameran di Dirix Art Gallery, pameran sculpture in freedom di Natour Garuda Yogyakarta. Tahun 2001 pameran berdua di gallery 678 Kemang Raya Jakarta, pameran di Purna Budaya Yogyakarta (Kriya dan Patung), pameran di Gallery Fabolaus Jakarta tahun 2005, pameran Art of Aceh dan pameran API bekerja sama dengan Taman Budaya Solo. Tahun 2011, pameran tunggalnya ‘Mencatat Batu’, di gelar di Taman Budaya, Yogyakarta.
 
Baginya berkarya bukan untuk dirinya sendiri tapi harus mampu memberi kepuasan bagi orang lain. Bahkan melalui bidang seninya itu, ia mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan sampai saat ini ia mempunyai 15 karyawan yang membantunya menerima pesanan-pesanan patung. Berdomisili di Kampung Bayan, RT.08/18, gang Abiyoso (Selatan, Sendang, Kasihan), Taman Tirto, Kasihan, BAntul, Yogyakarta.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...