Kuntowijoyo

Nama :
Kuntowijoyo
 
Lahir :
Sanden, Bantul, Yogyakarta,
18 September 1943

Wafat :
Yogyakarta,
22 Februari 2005

Pendidikan :
Madrasah Ibtidaiyah Ngawonggo, Klaten,
Jawa Tengah (1950-1956),
SMP Negeri Klaten,
Jawa Tengah (1959),
SMA Negeri Solo,
Jawa Tengah (1962).
S-1 Fakultas Sastra UGM Yogyakarta (1969),
S-2 University of Connecticut,
 Amerika Serikat, (1974),
S-3 Ilmu Sejarah Universitas Columbia, Amerika Serikat (1980)
 
Kegiatan Lain :
Anggota PP Muhammadiyah,
Sekretaris Lembaga Seni & Kebudayaan Islam
 (1963-1969),
Asisten Dosen Fakultas Sastra UGM (1965-1970),
Ketua Studi Grup Mantika (1969-1971),
PendiriPondok Pesantren Budi Mulia (1980),
Pendiri Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Yogyakarta (1980),
Karyawan Pusat Studi dan Penelitian Kependudukan UGM Yogyakarta,,
Guru besar emeritus Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta
 
Karya :
Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (novel, 1966),
Rumput-rumput Danau Bento (drama, 1969),
Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cartas (drama, 1972),
Topeng Kayu (drama, 1973)
Khotbah di Atas Bukit
(novel, 1976)
Isyarat
(kumpulan sajak, 1976)
Suluk Awung-Awung (kumpulan sajak, 1976).
Dinamika Umat
Islam Indonesia
 (kumpulan esai, 1985),
Intelektualisme Muhammadiyah: Menyongsong Era Baru, Budaya dan Masyarakat (kumpulan esai, 1987), Paradigma Islam:
Interpretasi untuk Aksi (studi/kajian 1991),
Ratifikasi Petani
 (studi/kajian 1993),
Dilarang Mencintai
 Bunga-Bunga
(kumpulan cerpen, 1994),
Demokrasi dan Budaya (1994),
Metodologi Sejarah (1994),
Pasar (Novel, terbit sebagai buku tahun 1994),
Pengantar Ilmu Sejarah (1995),
Makrifat Daun-Daun (Kumpulan Sajak, 1995),
Laki-Laki yang Kawin Dengan Peri (1995),
Pistol Perdamaian (1996),
Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997),
Identitas Politik Umat Islam
(Mizan, Bandung 1997),
ASEAN (1997),
Impian Amerika
(novel, 1998),
Hampir sebuah Subversi (kumpulan cerpen, 1999), Mantra Pejinak Ular
(novel, 2000),
Waspirin & Satinah (2003)
 
Penghargaan :
Drama Rumput-Rumput Danau Bento, memperoleh Hadiah Harapan Sayembara Penulisan Lakon Badan Pembina Teater nasional Indonesia (1967),
Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga memenangkan penghargaan pertama dari sebuah majalah sastra (1969),
Drama Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cartas memperoleh Hadiah Harapan sayembara penulisan lakon DKJ (1972),
Drama Topeng Kayu, memperoleh Hadiah Kedua dalam sayembara penulisan lakon DKJ (1973).
Hadiah Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1986),
Penghargaan Kebudayaan dari ICMI (1995),
Kumpulan cerpen Laki-laki yang Kawin Dengan Peri terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas (1995),
Kumpulan cerpen Pistol Perdamaian terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas (1996),
Kumpulan cerpen Anjing-anjing Menyerbu Kuburan terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas (1997),
Satyalencana Kebudayaan RI (1997),
ASEAN Award on Culture and Information (1997), Mizan Award (1998),
Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek (1999),
FEA Right Award Thailand (1999),
Hadiah Sastra ASEAN (1999),
Kumpulan cerpennya Dilarang Mencintai Bunga-Bunga mendapat Penghargaan Hadiah Penulisan Sastra dari Pemerintah RI melalui Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa 1999),
Cerita bersambung Mantra Pejinak Ular mendapat Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara
(Mastera 2001)
Cerpen RT 3/ RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana terpilih sebagai cerpen Terbaik Kompas (2005)


Penulis
Kuntowijoyo
 
 
Dikenal sebagai sejarawan dan sastrawan. Lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Anak kedua dari sembilan bersaudara ini dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah. Ayahnya di kenal suka mendalang. Mendapatkan pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah di Ngawonggo, Klaten, Jawa Tengah (1950-1956), SMP Negeri Klaten, Jawa Tengah (1959) dan SMA Negeri Solo, Jawa Tengah (1962). Melanjutkan studi S-1nya di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta (1969), selanjutnya menempuh program S-2 di University of Connecticut, Amerika Setikat dan meraih gelar MA American History di tahun 1974. Kembali melanjutkan S-3 dan mendapatkan gelar doktor Ilmu Sejarah dari University of Columbia, Amerika Serikat (1980) dengan disertasi Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850-1940.

Bakat menulisnya tumbuh sejak masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Gurunya, Sariamsi Arifin, seorang penyair dan Yusmanam, seorang pengarang. Kedua guru inilah yang membangkitkan gairah menulis Kunto. Sementara minat belajar sejarah berawal dari kekagumannya kepada guru mengajinya, Ustad Mustajab, yang piawai menerangkan peristiwa tarikh (sejarah Islam) secara dramatik. Sejak saat itu, ia tertarik dengan sejarah.
 
Semasa kuliah, ia sudah akrab dengan dunia teater dan sastra. Kunto mengasah kemampuan menulisnya dengan terus menulis. Baginya, cara belajar menulis adalah dengan banyak membaca dan menulis. Ia menulis cerpen, sajak, drama dan esei budaya. Karya-karyanya muncul pertama kali di majalah Horison dan Sastra. Selanjutnya karya-karyanya pun terus mengalir antara lain: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (novel, 1966), yang dimuat di Harian Jihad sebagai cerita bersambung, Rumput-rumput Danau Bento (drama, 1969), Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cartas (drama, 1972), Novel Pasar (terbit sebagai buku tahun 1994), Topeng Kayu (drama, 1973), Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), Isyarat (kumpulan sajak, 1976), Suluk Awung-Awung (kumpulan sajak, 1976), dll.
Sementara itu, banyak juga karya-karyanya yang mendapat acungan jempol dari berbagai kalangan intelektual, seperti; Dinamika Umat Islam Indonesia (kumpulan esai, 1985), Intelektualisme Muhammadiyah: Menyongsong Era Baru, Budaya dan Masyarakat (kumpulan esai, 1987), Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (studi/kajian 1991), Demokrasi dan Budaya (1994), serta Identitas Politik Umat Islam, terbitan Mizan, Bandung (1997).
Dari kurang Lebih 50 buku yang telah dirilisnya, begitu juga cerpen dan kolom-kolomnya di berbagai media. Dramanya berjudul Rumput-Rumput Danau Bento, memperoleh Hadiah Harapan Sayembara Penulisan Lakon Badan Pembina Teater nasional Indonesia (1967). Cerita pendek, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga memenangkan penghargaan pertama dari sebuah majalah sastra tahun 1969. Kumpulan cerpennya yang diberi judul sama Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, kembali mendapat Penghargaan Hadiah Penulisan Sastra tahun 1999 dari Pemerintah RI melalui Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa). dramanya Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cartas memperoleh Hadiah Harapan sayembara penulisan lakon DKJ tahun 1972 dan Topeng Kayu, memperoleh Hadiah Kedua dalam sayembara penulisan lakon DKJ tahun 1973. Novelnya Pasar, mendapat hadiah dalam Sayembara Mengarang Roman Panitia Tahun Buku Internasional DKI 1972. Karya novelnya, yang pernah menjadi cerita bersambung di harian Kompas, berjudul Mantra Pejinak Ular (2000), ditetapkan sebagai satu di antara tiga pemenang Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) pada 2001.
 
Kuntowijoyo juga mendapat Hadiah Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1986). Mendapat Penghargaan Kebudayaan dari ICMI (1995), Satyalencana Kebudayaan RI (1997), ASEAN Award on Culture and Information (1997), Mizan Award (1998), Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek (1999), FEA Right Award Thailand (1999)  dan menerima Hadiah Sastra ASEAN (1999).

Beberapa cerpen juga terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dan menjadi judul dari kumpulan cerpen itu sendiri, diantaranya Laki-laki yang Kawin Dengan Peri (1995), Pistol Perdamaian (1996), dan Anjing-anjing Menyerbu Kuburan (1997).

Selain di kenal sebagai sastrawan dan sejarawan, Kuntowijoyo juga aktif dalam berbagai kegiatan, antara lain; pernah menjadi anggota PP Muhammadiyah. Sekretaris Lembaga Seni dan Kebudayaan Islam (1963-1969), Asisten Dosen Fakultas Sastra UGM (1965-1970), Ketua Studi Grup Mantika (1969-1971),
 
Kuntowijoyo juga mendirikan Pondok Pesantren Budi Mulia (1980), Pendiri Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Yogyakarta (1980). Terakhir ia bekerja di Pusat Studi dan Penelitian Kependudukan UGM, sekaligus sebagai Guru besar emeritus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
 
Pada 6 Januari 1992, Kuntowijoyo mengalami serangan virus meningo enchepalitis. Kendati menjalani hidup dalam keadaan sakit, ia terus berkarya sampai detik-detik akhir hayatnya. Pada hari Selasa 22 Februari 2005 pukul 16.00 WIB, Prof. DR Kuntowijoyo meninggal dunia di Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta, akibat komplikasi penyakit sesak napas, diare dan ginjal, meninggalkan seorang istri, Drs Susilaningsih MA yang dinikahi pada 8 November 1969, beserta dua putra, yakni Ir Punang Amaripuja SE MSc dan Alun Paradipta.

(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...