Kurnia Effendi

Nama :
Kurnia Effendi
 
Lahir :
Tegal, Jawa Tengah,
20 Oktober 1960
 
Pendidikan :
SMP 1 di Slawi, Jawa Tengah,
STM,
Fakultas Desain dan Seni Rupa ITB (lulus tahun 1991)
 
Karier :
Corporate Identity Standard  Indomobil,
Redaktur di Tabloid PARLE (sejak 2005)
 
Karya :
Aquarel Buat Mama
 (cerpen, 1982),
Musim Gugur Telah Selesai (cerpen, 1983),
Selembut Lumut Gunung (novel, 1983),
Andai (puisi, 1984),
 Belenggu Gading
 (cerpen, 1985),
Déjà vu (cerpen, 1986),
 Langit Magrib (puisi, 1988), Sepanjang Braga
 (cerpen, 1988),
Laut Lepas Kita Pergi
 (Cerpen, 2005)
Segenggam Melati Kering,
Tetes Hujan Menjadi Abu, Berjalan di Sekitar Ginza,
Anak Arloji,
Kincir Api,
Menemani Ayah Merokok,
Laras Panjang Senapan Cinta, Abu Jenazah Ayah,
Tilas Cemeti di Punggung,
Buah dari Dongeng Sang Nenek
 
Antologi Puisi Bersama :
Pesta Sastra Indonesia (Kelompok Sepuluh Bandung, 1985),
 Malam 1000 Bulan (Forum Sastra Bandung, 1990),
 Dari Negeri Poci III
(Yayasan Tiara, 1996),
 Mimbar Penyair Abad 2 (Dewan Kesenian Jakarta, 1996),
Antologi Puisi Indonesia (Komunitas Sastra Indonesia, 1997),
Jakarta dalam Puisi Indonesia Mutakhir  (Masyarakat Satra Jakarta, 2000),
 Gelak Esai Ombak Sajak (Bentara Kompas, 2001),
Puisi Tak Pernah Pergi (Bentara Kompas, 2002), Mahaduka Aceh
 (Pusat Dokumentasi HB. Jassin, 2005)


Penulis
Kurnia Effendi
 
 
Lahir di Tegal, Jawa Tengah, 20 Oktober 1960. Kegemarannya akan membaca dan menulis diawali dari kebiasaan sang nenek yang kerap mendongengkannya ketika kecil. Baginya, cerita-cerita sang nenek banyak melahirkan inspirasi dan imajinasi dalam dirinya. Mulai aktif menulis saat duduk di bangku kelas dua SMP 1 di Slawi, Jawa Tengah. Sewaktu mejadi pelajar di kelas dua tersebut, ia pernah mendapat tugas dari guru Bahasa Indonesia mengubah puisi Asrul Sani ke dalam bentuk cerita. Tak diduga, karyanya dinyatakan sebagai karya terbaik. Selanjutnya, ketika ketika duduk kelas tiga, ia berhasil melahirkan sebuah cerpen fantastis berjudul Pulau Timbul Tenggelam. Cerpen yang bercerita tentang pulau yang setengah tahun di atas permukaan laut dan setengah tahun di bawah permukaan laut ini menarik perhatian guru Bahasa Indonesia dan menjadi salah satu bahan ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia.
 
Baru mempublikasikan hasil karyanya ke media saat duduk di bangku STM. Setelah kiriman pertamanya berhasil dipublikasikan, ia semakin termotivasi untuk mengirim kembali, sehingga akhirnya hampir tiap minggu dia mengirim karyanya berupa puisi dan cerpen ke berbagai media seperti majalah Gadis, koran Sinar Harapan, dan Aktuil. Ia juga kerap mengikuti sayembara menulis cerita fiksi pada era 80-an dan selalu meraih juara dalam setiap lomba yang di ikutinya. Tercatat ia pernah meraih sekitar 30 penghargaan, 8 di antaranya juara pertama yakni Aquarel Buat Mama (cerpen, 1982), Musim Gugur Telah Selesai (cerpen, 1983), Selembut Lumut Gunung (novel, 1983), Andai (puisi, 1984), Belenggu Gading (cerpen, 1985), Deja vu (cerpen, 1986), Langit Magrib (puisi, 1988), dan Sepanjang Braga (cerpen, 1988). Sehingga membuatnya pernah mendapat julukan macannya lomba penulisan.
 
Bagi lulusan Fakultas Desain dan Seni Rupa ITB tahun 1991 ini, menulis adalah kewajiban. Dalam hidupnya, terasa ada yang kurang bila sehari saja jemari ini tak menari di atas tuts komputernya guna menyalurkan berbagai imajinasi-imajinasi yang menari-nari di benaknya. Dan, itu dilakukannya hingga detik ini, di tengah kesibukannya sebagai Corporate Identity Standard di Indomobil dan redaktur di Tabloid PARLE sejak tahun 2005.
 
Setting cerita, umumnya diambil dari tempat dimana ia tinggal. Saat ia menekuni Desain Interior ITB, di Bandung, setting Bandung sering ia gunakan sebagai bahan tulisan. Ia mengaku juga sering memakai setting Slawi. Namun, bahasa Tegal jarang ia gunakan. Pertama kali ia menggunakan dialog Tegal saat menulis cerpen tentang valentine di majalah Story.
 
Karyanya berupa cerpen, cerber, novel yang ia tulis hingga saat ini banyak menghiasi berbagai media cetak di tanah air, sebut saja Majalah Femina, Majalah Kartini, Majalah Sekar, Majalah Gadis, Harian Republika, Tabloid Nova, dan lainnya. Karya-karyanya juga pernah menghiasi lembaran kumpulan cerpen Anita Cemerlang di sekitar tahun 80-an hingga 90-an. Meski majalah kumpulan cerpen itu tidak terbit lagi, bersama beberapa penulis lainnya, ia berusaha mengumpulkan kembali para penulis fiksi itu dalam wadah yang diberi nama ANITA (Asosiasi Penulis Cerita). Selain sebagai ajang silaturahmi, Kurnia juga ingin membangkitkan kembali semangat menulis para penulis cerita tersebut sekaligus sebagai ajang kelahiran penulis baru. Dari komunitas ini, ANITA telah berhasil  melahirkan 88 judul buku saat perayaan ulangtahun pertamanya, termasuk karyanya Buah dari Dongeng Sang Nenek.
 
Sejumlah puisinya juga tersebar dalam banyak antologi bersama, antara lain: Pesta Sastra Indonesia (Kelompok Sepuluh Bandung, 1985), Malam 1000 Bulan (Forum Sastra Bandung, 1990), Dari Negeri Poci III (Yayasan Tiara, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Komunitas Sastra Indonesia, 1997), Jakarta dalam Puisi Indonesia Mutakhir (Masyarakat Satra Jakarta, 2000), Gelak Esai Ombak Sajak (Bentara Kompas, 2001), Puisi Tak Pernah Pergi (Bentara Kompas, 2002), Mahaduka Aceh (Pusat Dokumentasi HB. Jassin, 2005), dll.
 
Editor untuk antologi puisi Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang Pustaka dan Exelcomindo, 2006) ini juga kerap di undang dalam berbagai acara bertema sastra, seperti pada acara Mimbar Penyair Abad 21, diundang oleh Teater Utan Kayu dalam Panggung Prosa Indonesia Mutakhir 2003 dan Festival Sastra Internasional 2005, serta diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta dalam Temu Sastra Kota 2003.
 
Kurnia juga aktif sebagai pembicara di beberapa media kampus maupun sekolah. Dia juga membangun Komunitas Kedai Ilalang, sebuah wadah bagi pengemar sastra di Jakarta Timur.  Ia sengaja membuat komunitas tersebut, agar anak-anak Jakarta Timur tidak jauh untuk belajar sastra. Kurnia memberi les privat tentang penulisan setiap Sabtu dan Minggu.
 
Satu keinginan pria yang telah menikah dan telah memiliki dua orang anak ini yang segera ingin diwujudkan yakni membuat perpustakaan keliling. Inspirasi ini muncul dari seorang wanita bernama Kiswanti. Untuk sarana dan prasarananya, Kurnia telah mendekati beberapa perusahaan untuk mewujudkan impiannya lewat program CSR-nya. Sementara untuk pengadaan buku, ia telah menghubungi berbagai penerbitan. Nantinya, perpustakaan keliling ini akan beredar di daerah-daerah pinggiran seperti Tangerang, Tambun, Parung, Cilincing dan daerah-daerah lainnya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...