Lena Simanjuntak

Nama :
Lena Simanjuntak
 
Lahir :
Bandung, Jawa Barat 1957
 
Aktifitas Lain :
Editor majalah Kartini (1980),
Wartawan dan penyiar bebas siaran bahasa Indonesia di Radio Deutsche Welle,
Pendiri organisasi the Cologne Forum for Indonesia,
Kurator ASEAN Institute di Essen, Jerman
(2000 s/d sekarang),
Chief Executive Lembaga Keadilan dan Perdamaian bagi Perempuan Nur,
Jaringan Kerja Buruh Migran di Koeln (Jerman),
Kurator Yayasan Rumah Asia di Koeln (Jerman),
Anggota aktif Lembaga Persahabatan Indonesia-Jerman,
Angota Pusat Latihan Opera Batak/PloT di Pematang Siantar (Sumatera Utara)
 
Pendidikan :
SMA, Medan (1972),
Institut Kesenian Jakarta  jurusan Penyutradaraan
(1975-1979)
 
Pencapaian :
Beasiswa dari Goethe Institut untuk belajar pantomim dengan Mila Sladek di Jerman (1993)
 
 

Seniman Teater
Lena Simanjuntak
 
Sejak tahun 1975 sampai 1979, Lena Simanjuntak menjadi mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta fakultas teater jurusan penyutradaraan. Sambil kuliah dia juga aktif sebagai aktor, penata artistik dan asisten sutradara. Ia juga menulis banyak kritik tentang teater yang dimuat di koran Sinar Harapan.
 
Setelah memimpin pementasan teater anak-anak, ia mulai menggunakan media teater sebagai sarana untuk belajar menjadi pekerja industri. Tahun 1980, ia menjadi editor di majalah Kartini dan mulai aktif juga sebagai sutradara teater di TVRI pada program acara keagamaan. Menerima beasiswa dari Goethe Institut untuk belajar pantomin dengan Milan Sladek di Jerman pada tahun 1993.
 
Ikut berpartisipasi dalam sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Ludwig Flasen dari Teater Grotowsky dan Peter Brooks. Disamping ikut dalam pertunjukan teater ia juga aktif di berbagai macam kegiatan sosial, salah satunya pada organisasi Jaringan Pekerja Migran Perempuan di kota Koeln Jerman. ia juga menjadi reporter freelance pada Radio Deutsche Welle of Germany untuk menyiarkan program acara bahasa Indonesia. Ia tercatat sebagai pendiri organisasi The Cologne Forum for Indonesia.
 
Sejak tahun 2000 ia menjadi kurator atau penilai benda-benda seni pada Asean Institute di Essen Jerman. Dari tahun 1999 sampai sekarang pekerjaan teater yang membawa dia kembali dari Jerman ke Indonesia. Membangun metode teater sebagai media belajar dan sumber kekuatan seseorang, terutama perempuan mambuatnya bekerjasama dengan wanita-wanita yang bekerja di tempat prostituísi di Surabaya, pembantu rumah tangga di Yogyakarta, di Jakarta, pekerja pabrik, nelayan, pengusaha kecil di Sumatra Utara, korban tsunami Aceh di Sei Lepan.
 
Ia lebih mengutamakan bekerja dengan organisasi non-profit (LSM) dan organisasi wanita. Selain aktif mengkampanyekan anti Perdagangan Wanita dan Anak-anak bekerjasama dengan beberapa sekolah di Banyuwangi. Sejak tahun 1984 sampai dengan sekarang ia menetap di Jerman, ia juga bekerjasama bersama beberapa orang yang mengidap HIV/AIDS.
 
Menikah dengan Karl Metes, saat sang suami menjadi konsultan di TVRI dan sat ia masih aktif dalam penyutrdaraan acara TVRI (1984). Baginya teater adalah ruang dialog, baik antar pemain maupun penonton. Teater tak sekedar pentas, tetapi media untuk mengubah paradigma, mengajak orang bermenung sadar dan bersolidaritas akan persoalan di hadapannya.
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...