Lesik Keti Ara

Nama :
Lesik Keti Ara
 
Lahir :
Takengon, NAD (1937)
 
Pendidikan :
SD (Takengon, NAD),
SMP (Takengon, NAD),
Sekolah Menengah Taman Madya-Taman Siswa
(Medan, Sumatera Utara),
Perguruan Tinggi Jurnalistik (Medan, Sumatera Utara)
 
Pencapaian :
Hadiah Seni dari Pemda NAD (2009)
 
Karya Tulis :
Angin Laut Tawar
(Balai Pustaka, 1969),
Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gaya (1971),
 Kumandang
(kumpulan sajak, 1971),
Manuk Sali Gobal (ed. 1971), Junjani (Jakarta, 197l),
Loyang Sekam (Jakarta, 1971),
Buntul Kubu (Jakarta, 1971), Serangkum Saer Gayo (1980),
Namaku Bunga
 (Balai Pustaka, 1980),
Anggrek Berbunga (1982),
Buah-Buah di Kebun (1982),
Kur Lak Lak
(Balai Pustaka, 1982),
Senandung Burung Burung (Remaja Karya, Bandung, 1982),
Senjata Pusaka Kita (1983), Umbi-Umbi Kami (1983),
Catatan Pada Daun (BP, 1986),
Kening Bulan
(Kumpulan Sajak, 1986),
Dalam Mawar (BP, 1988), Perjalanan Arafah
 (kumpulan sajak, 1994),
Si Karmin jadi Ulama, Cerita Rakyat dari Aceh I,
 (Grasindo, 1995),
Cerita Rakyat Aceh II
(Grasindo, 1995),
Belajar Berpuisi
(Syaamil Bandung),
Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997),
Langit Senja Negeri Timah
(YN 2004),
Pangkal Pinang Berpantun
(ed. DKKP, YN, 2004),
 Pantun Melayu Bangka Selatan (ed. YN, 2004),
 Pucuk Pauh (ed YN 2004),
 Puisi Didong Gayo
(Balai Pustaka 2006),
Tanoh Gayo Dalam Puisi
 (ed. YMA, 2006),
Kemilau Bener Meriah
(ed.YMA, 2006),
Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah
 (BRR 2006),
Sastra Aceh (Pena, 2008), Antologi Syair Gayo
(Pena, 2008)
Ensiklopedi Aceh I
 (ed. YMAJ, 2008),
Malim Dewa dan Cerita Lainnya (ed. YMAJ, 2009),
Ensiklopedi Aceh II
(YMAJ, 2009),
Ensiklopedi Aceh II
cetakan ke 2 (Pena, 2012),
Angin Perjalanan (Pena, 2012)

Seniman Sastra
L.K. Ara
 
 
 
Bernama lengkap Lesik Keti Ara. Lahir di Takengon, NAD, tahun 1937. Pendidikan SD dan SMP di jalaninya di kota Takengon. Lalu karena ia pindah ke Medan, Sumatera Utara, maka sekolah menegahnya di tempuh di Taman Madya-Taman Siswa, Medan. Setelah lulus ia melanjutkan ke perguruan tinggi jurnalistik di Medan. Setelah tamat kuliah ia bekerja di beberapa media cetak di Medan, diantaranya pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar Umum (Medan). Ia juga pernah menjadi guru SMP Sinar Kemajuan (Jakarta) dan menjadi Pegawai Sekretariat Negara. Terakhir bekerja di Balai Pustaka hingga pensiun (1963-1985).
 
Dikenal sebagai penulis yang produktif, ia tercatat telah menerbitkan banyak karya, di antaranya ‘Angin Laut Tawar’ (Balai Pustaka, 1969), ‘Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gaya’ (1971), ‘Kumandang’ (kumpulan sajak, 1971), ‘Manuk Sali Gobal’ (ed. 1971), ‘Junjani’ (Jakarta, 1971), ‘Loyang Sekam’ (Jakarta, 1971), ‘Buntul Kubu’ (Jakarta, 1971), ‘Serangkum Saer Gayo’ (1980), ‘Namaku Bunga’ (Balai Pustaka, 1980), ‘Anggrek Berbunga’ (1982), ‘Buah-Buah di Kebun’ (1982), ‘Kur Lak Lak’ (Balai Pustaka, 1982), ‘Senandung Burung Burung’ (Remaja Karya, Bandung, 1982), ‘Senjata Pusaka Kita’ (1983), ‘Umbi-Umbi Kami’ (1983), ‘Catatan Pada Daun’ (BP, 1986), ‘Kening Bulan’ (Kumpulan Sajak, 1986), ‘Dalam Mawar’ (BP, 1988), ‘Perjalanan Arafah’ (kumpulan sajak, 1994), ‘Si Karmin jadi Ulama, Cerita Rakyat dari Aceh I’ (Grasindo, 1995) dan ‘Cerita Rakyat Aceh II’ (Grasindo, 1995).
 
Karyanya yang lain yakni, ‘Belajar Berpuisi’ (Syaamil Bandung), ‘Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh’ (1997), ‘Langit Senja Negeri Timah’ (YN 2004), ‘Pangkal Pinang Berpantun’ (ed. DKKP, YN, 2004), ‘Pantun Melayu Bangka Selatan’ (ed. YN, 2004), ‘Pucuk Pauh’ (ed YN 2004), ‘Puisi Didong Gayo’ (Balai Pustaka 2006), ‘Tanoh Gayo Dalam Puisi’ (ed. YMA, 2006), ‘Kemilau Bener Meriah’ (ed.YMA, 2006), ‘Ekspresi Puitis Aceh Menghadapi Musibah’ (BRR 2006), ‘Sastra Aceh’ (Pena, 2008), ‘Antologi Syair Gayo’ (Pena, 2008), ‘Ensiklopedi Aceh I’ (ed. YMAJ, 2008), ‘Malim Dewa dan Cerita Lainnya’ (ed. YMAJ, 2009), ‘Ensiklopedi Aceh II’ (YMAJ, 2009), ‘Ensiklopedi Aceh II’ (cetakan ke 2, Pena, 2012), dan ‘Angin Perjalanan’ (Pena, 2012).
 
Beberapa karya puisinya juga dapat ditemukan dalam ‘Tonggak’ (1995), ‘Seulawah’ (YN, 1995), ‘Horison Sastra Indonesia 1’ (2002), ‘Sajadah Kata’ (Syaamil, 2003), ‘Syair Tsunami’ (Balai Pustaka, 2006), ‘Akulah Musi’ (Dewan Kesenian Sumsel, 2011), ‘Kemala Meditasi Dampak 70’ (Kuala Lumpur, 2011), ‘Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia’ (KKK, Jakarta, 2012), ‘Menyirat Cinta Haqiqi’ (Kuala Lumpur, 2012), ‘Jejak Sajak’ (Jambi, 2012), ‘Sauk Seloko’ (bunga rampai puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI, 2012).
 
Selain itu, lewat Yayasan Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Daerah NAD ia mengeditori (dengan Taufiq Ismail dan Hasyim. KS) terbitnya ‘Antologi Sastra Budayawan Aceh Seulawah’ (1995). Ia juga menjadi penyunting buku ‘Antologi Puisi Penyair Aceh Jabal Ghafur 86’ dan ‘Aceh Dalam Puisi’ (2003). Pembaca puisi berkarakter ini, juga banyak terlibat dalam pembuatan buku-buku budaya di berbagai daerah. terakhir ia menggarap puisi-puisi penyair pulau Bangka-Belitung.
 
Penulis yang pernah mendapat Hadiah Seni dari Pemda Aceh (2009) ini juga kerap mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia sastra antara lain Mengikuti Pesta Puisi di Taman Ismail Marzuki (Jakarta, 1975), Mengikuti Temu Budaya, Dewan Kesenian Jakarta (Jakarta, 1986), Mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara VI, (Kuching, Sarawak, Malaysia, 1988), Mengikuti Simposium Serantau Sastra Islam di Brunei Darussalam (1992), Mengikuti Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995), Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatera Barat (1997), Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram, NTB (2007), Mengikuti Seminar Pantun Antarbangsa II di Malaysia (Penang, 2010), Mengikuti Pertemuan Sastrawan NUMERA di Padang (2012), Mengikuti Pertemuan Sastrawan NUMERA di Kuala Lumpur,Malaysia (2012), Mengikuti Pertemuan Pengarang Indonesia, di Makassar (2012), dll.
 
Salah satu pendiri Teater Balai Pustaka (1967) bersama K. Usman, Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali ini juga pernah memperkenalkan penyair tradisional Gayo, To’et, mentas di kota-kota besar Indonesia. Serta menjadi penggagas Perpustakaan di kampungnya di Takengon, Aceh Tengah. Ia ingin menjadikan kampungnya sebagai kampung buku.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 
 
 

You may also like...

Leave a Reply