Lilis Suryani

Nama :
Lilis Suryani
 
Lahir :
Jakarta, 22 Agustus 1948
 
Wafat :
Jakarta, 7 Oktober 2007
 
Pendidikan :
SD,
SKP di Jakarta
 
Profesi :
Penyanyi
 
Karya :
Tiga Malam,
Hadiah Ulang Tahun,
Hesty,
Paduka Yang Mulia,
Muhibah


Penyanyi
Lilis Suryani
 
 
 
 
Sudah lama Lilis pindah dari Gang Kelinci. Tetapi bila ia bernyanyi, penggemarnya dari belasan tahun lampau tetap saja teringat pada penampilannya tahun-tahun pertama di depan umum, sekitar tahun 1960-an. Dari rumah gedung sampai lorong-lorong kampung, anak-anak ketika itu bagaikan serentak latah mendendangkan lagu Gang Kelinci yang kocak. “Sejak umur enam tahun saya senang menyanyi dan bercita-cita menjadi penyanyi tenar,” kata Lilis. Kalau pernyataan itu benar, setidak-tidaknya Lilis telah berhasil mewujudkan cita-citanya.
 
Tahun 1963, ia diminta rekaman di studio Irama. “Pada angket siaran ABRI dari tahun 1963 sampai 1966, saya menjadi penyanyi kesayangan masyarakat di seluruh Indonesia,” ujarnya. Ketenarannya waktu itu acap merepotkan banyak produser, terutama untuk pementasan. Lilis paham betul posisinya. Sering ia datang terlambat, atau berpura-pura merajuk. Maka yang punya acara pun kelabakan, khawatir show bisa gagal tanpa Lilis. Kini, Lilis tertawa mengenangkan semua itu. Termasuk penyanyi yang hidup mujur, ia telah mengunjungi hampir seluruh kota di Indonesia untuk mengadakan pertunjukkan. Juga melawat ke luar negeri; Malaysia, Singapura, Sabah, Serawak, Hongkong dan Jepang.
 
Lilis telah menciptakan kurang lebih 50 buah lagu, diantaranya Tiga Malam, Hadiah Ulang Tahun, Hesty dan lain-lain, kehadiran Lilis memang memberikan pengaruh yang tidak kecil di dunia musik pop 1960-an. Seperti layaknya penyanyi-penyanyi bintang zaman itu, Lilis pun sering tampak di Istana bila ada acara malam hari. “Bapak sangat sayang pada saya,” katanya mengenai hari-hari lampau itu, dimaksud oleh Lilis dengan Bapak adalah Bung Karno, yang memang terkenal akrab dengan kalangan artis. “Untuk Bapak pula ia menciptakan dua buah lagu; Paduka Yang Mulia, Muhibah. Tetapi oleh Bapak, sebagai penyanyi saya Cuma disuruh nyanyi ciptaan orang, ujar biduwanita bertubuh kecil mungil itu,” tambahnya.
 

Selalu menolak untuk mengatakan berapa pendapatannya sebagai penyanyi, Lilis tak pernah mau menjadi penyanyi klub malam. Telah lama ia berniat naik haji. Tinggal menunggu rezeki dan langkah yang tepat. Ketika ditanya apakah ia pernah ikut arisan, Lilis terkejut. “Wah, dari mana saya punya uang sebanyak itu?” Jawabnya. “Kalau punya, lebih baik saya sumbangkan pada rumah piatu,” ujarnya.


Konser Lagu Kenangan (2006)

 
Anak tunggal ini selalu memegang teguh pesan ayahnya. Yaitu harus tidur setelah jam 12 malam. “Dan saya selalu tidur jam 12 lebih 5 menit,” katanya. Meski begitu tahun 1974 rumahnya kemasukan maling. Jumlah barang yang digondol lumayan juga. Kalau dinilai uang kurang lebih Rp. 1 juta. Termasuk dua buah bola bowling, yang masing-masing berharga Rp. 85 ribu. “Nah, kalau di tukang loak ada bola bowling warna cokelat dan lubang jari persis ukuran jarinya, sudah pasti itu punya saya,” ujarnya.
 
Kini jarang ia mengarang lagu. Namun masih aktif menyanyi dan membuat rekaman. Mungkin karena di rumah banyak anak-anak, banyak kerepotan rumah tangga, katanya berdalih. Dengan suaminya Yunus Ja’far yang punya usaha biro perjalanan ia dikaruniai 3 orang anak. “Mungkin tak ditambah lagi, sebab Bang Ali Sadikin sudah pesan, bahwa anak saya cukup tiga,” jawabnya. Bergeser dari dunia pop ke lagu-lagu Melayu Deli, kasetnya belakangan ini memang tak seberapa mampu bersaing di pasaran. Dan Lilis bukannya tak cukup rendah hati menerima kenyataan ini. Sekarang banyak saingan, dan banyak penyanyi yang bagus-bagus, katanya di rumahnya di Pulo Mas, Jakarta Timur. Namun Lilis tak putus asa. Ia banting stir, menyanyi dalam kaset lawak. Salah satu diantaranya berjudul Panti Pijat.
 
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

You may also like...

Leave a Reply