Lisa Syahtiani

Nama :
Yulisza Syahtiani

Lahir :
Jakarta, 7 Juli 1978

Pendidikan :
Sarjana Psikologi UPI YAI

Karier :
Tim Kreatif Harian Jurnal Nasional

Penghargaan :
Aktris Terbaik III dalam Festival Monolog
se-Jabotabek (2003),
Aktris Terbaik Festival Teater Jakarta tingkat wilayah Jakarta Barat
(2001, 2004, 2006),
Pemeran Wanita Terbaik Festival Teater Jakarta (2009)


Aktris Teater
Lisa Syahtiani

Bernama asli Yulisza Syahtiani. Lahir di Jakarta, 7 Juli 1978. Mengaku sudah mencintai teater sejak duduk di bangku SMP. Dunia keaktoran sudah ia tekuni sejak usia 16 tahun. Ia menyebut aktivitasnya dalam dunia teater sudah menjadi kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Berlatar belakang pendidikan sarjana Psikologi dari UPI YAI, ia sering mencoba mengeksplorasi kasus kepribadian ganda ke atas panggung.

Ia merupakan salah satu pendiri kelompok Teater Cermin bersama Anto Ristargi yang juga menjadi sutradara kelompok teater ini. Dengan Teater Cermin, tercatat sudah 27 kali naik pentas, mementaskan berbagai naskah dan karakter yang berbeda pula. Sampai sekarang sudah lebih dari 30 naskah ia mainkan.

Naskah yang pernah di mainkanya bersama kelompok Teater Cermin antara lain, Track ABG karya Anto Ristargi (1995), Pulang karya Anto Ristargi (1996), Kabut Impian karya Anto Ristargi (1997), Lakekomae adaptasi puisi karya Taufik Ismail (1998), Lonceng karya Frans Rahardjo (1999 dan 2008), Pelajaran-Pelajaran karya Bakdi Sumanto (2000), Tuan Kondektur karya Anton Chekov (2001), Jalan ke Sorga karya Akhudiat tahun (2002), Perhiasan Gelas karya Tennesse William (2009), dll.


Monolog Sybil (2011)

Selain dengan Teater Cermin, ia juga pernah bermain dengan beberapa kelompok teater lain, diantaranya dengan Kelompok Ikatan Drama Jakarta Barat (INDRAJA), dalam judul Macbeth karya Eugene Ionesco, sutradara Rizal Nasti (2004). Dengan Teater EMA, pimpinan Apri Rosyadi, dalam judul Wabah Berdarah-darah, sutradara Apri Rosyadi (2004). Bersama Teater Getapri, dalam judul Mentang-Mentang dari New York, saduran Noorca M. Massardi (2005). Kelompok Teater Kuadrat, pimpinan Cheme Ardhi, dalam judul Kereta Kencana karya Eugene lonesco saduran Rendra (2005).

Ia juga ikut bermain di Kelompok Teater Stasiun pimpinan Ediyan Munaedi, dalam judul Teroris karya Albert Camus, dengan sutradara Ediyan Munaedi (2006). Bersama Teater Mandiri, pimpinan Putu Wijaya dalam Monolog Putu Wijaya, Poligami, karya Putu Wijaya (2006). Teater Sanggar Pelakon pimpinan Mutiara Sani, dalam judul Mahkamah karya Asrul Sani, sutradara Jose Rizal Manua (2007).

Bermain bersama Teater KAMI pimpinan Harris Priadi Bah, dalam judul Mengurus Orang-orang Sinting (MENOS), karya Syuji Terayama, Sutradara Harris Priadi Bah (2008). Teater Mode pimpinan Erent Mode, dalam judul Orang-orang malam Karya Putu Wijaya, sutradara Erent Mode (2008). Serta Teater Tanah Air Pimpinan Jose Rizal Manua, dalam judul Bunga Semerah Darah karya Rendra, sutradara Jose Rizal Manua (2009).

Pernah bermain untuk TV Play, pimpinan Dorman Borisman, dengan judul Nenek Tercinta karya Arifin C. Noer, sutradara Dorman Borisman (2009), serta untuk TV Play, pimpinan Priyono, dengan judul Tokek karya Kasta Marta, sutradara Joel (2009). Lisa Ristargi tercatat beberapa kali menerima penghargaan antara lain : Dalam Festival Monolog se-Jabotabek 2003 ia meraih penghargaan sebagai Aktris Terbaik III, mendapat penghargaan Aktris terbaik Festival Teater Jakarta tingkat wilayah Jakarta Barat tahun 2001, 2004, dan 2006. Meraih penghargaan pemeran wanita terbaik pada final Festival Jakarta 2009.

Menjadi salah satu penampil dalam Pentas monolog peringatan Hari Ibu bersama Niniek L Karim dan Happy Salma di Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki, pada 22 Desember 2009 lalu. Dalam monolog ’Ipoh’, karya Arthur S. Nalan, dengan sutradara Anto Ristargi, ia memerankan seorang perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual dan istri kedua yang tragis. Lewat karakternya ia berpesan kepada perempuan agar tidak mudah terjebak rayuan laki-laki. Karena menurutnya, perempuan seperti jambangan. Kalau sudah pecah, tidak akan ada artinya lagi.

Salah satu kebiasaannya sebelum pentas adalah mendiskusikan persoalan artistik dan setting panggung bersama suaminya. Aktif di kepengurusan Federasi Teater Indonesia. Menjadi pelatih teater untuk SMU 84 secara rutin tiap minggu, dua tahun setelah lulus dari SMU.  Ia juga tengah mempersiapkan diri main film televisi.
(Dari berbagai sumber)

You may also like...