Lukman Hakim Nain

Nama :
Lukman Hakim Nain
 
Lahir :
Jambi, 2 Februari 1931
 
Wafat :
15 April 2001
 
Pendidikan :
SD di Bukittinggi,
SLP di Bukittinggi dan Bandung,
Sekolah Mengetik di Bandung
 
Karier :
Fotografer pada staf A Inspektorat Infantri di Bandung,
Asisten Juru Kamera di Garuda Film (1954),
Juru Kamera pada Sanggabuana Film (1959),
Juru Kamera pada Anom Pictures (1962),
Juru Kamera pada Gema Masa Film (1963),
Sutradara dan Juru Kamera (19740,
 
Penghargaan :
Piala Citra dalam film Perkawinan 1973,
Dikejar Dosa (FFI) 1975,
Cinta (FFI) 1976,
Badai Pasti Berlalu (FFI) 1978
 
Filmografi :
Rahasia Sukudomas (1954),
Taman Harapan (1957),
Holopis Kuntul Baris (1959),
Melati Dibalik Terali (1960),
Sehelai Merah Putih (1960),
Daerah Tak Bertuan (1963),
Ekspedisi Terachir (1964),
Madju Tak Gentar (1965),
Belaian Kasih (1966),
Sembilan (1967),
Laki-Laki Tak Bernama (1969),
Dan Bunga-Bunga Berguguran (1970),
Biarkan Aku Pergi (1971),
Pengantin Remadja (1971),
Si Gondrong (1971),
Mama (1972),
Perkawinan (1972),
Tokoh (1973),
Dikejar Dosa (1974),
Kemasukan Setan/Dukun (1974),
Malam Pengantin (1975),
Cinta Rahasia (1976),
Sesuatu Yang Indah (1976),
Badai Pasti Berlalu (1977),
Kembang-Kembang Plastik (1977),
Pengemis dan Tukang Becak (1978),
Gadis Kampis (1979),
Akh, Yang Bener (1979),
Bukan Sandiwara (1980),
Intan Mendulang Cinta (1981),
Mendung Tak Selamanya Kelabu (1982),
Pandawa Lima (1983),
Gairah Pertama (1984),
Bercinta (1985),
Bila Saatnya Tiba (1985),
Pengakuan (1988),
Si Kabayan Saba Kota (1989),
Tamu Tengah Malam (1989),
Komar, Si Glen Kemon Mudik (1990),
Suamili Sayang (1990),
Pengantin Remaja II (1991)  


Juru Kamera
Lukman Hakim Nain
 
 
Dibesarkan di Bukittinggi hingga kelas I SMA, anak bungsu 5 bersaudara ini tak kuat lagi menahan godaan untuk merantau. Ayahnya pensiunan guru Nain Datuk Majolelo melepas luk berangkat ke Bandung. Rupanya tak berniat meneruskan ke perguruan tinggi, selagi duduk di kelas terakhir SMA ia sudah bercita-cita menjadi fotografer. Demikianlah Luk mulai bekerja sebagai pegawai sipil pada staf A Inspektorat Infantri di Bandung, dengan jabatan fotografer. Hanya 2 tahun, 1954 ia melangkahkan kaki ke Jakarta dan diterima sebagai pembantu juru-kamera pada perusahaan Garuda Film.
 
Lima tahun menjadi pembantu juru kamera, tahun 1959, Luk dipercaya pertama kali sebagai juru kamera penuh dalam pembuatan film Holupis Kuntul Baris, sebuah film anak-anak. Mulai saat itu, tak kurang dari 46 film cerita ditanganinya sebagai juru kamera, disamping film dokumenter dan iklan.
 
Menjadi juru kamera film Di Bawah Lindungan Kabah, tahun 1978, dia harus ke Mekah. Sampai pada urusan paspor dan visa, cerita dimulai. Pihak imigrasi menolak memberi visa. Dia dikira Lukman Hakim aktivis dan Ketua Dewan Mahasiswa UI. Padahal bedanya banyak. Yang satu mahasiswa, yang pakai Nain hanya pernah duduk dikelas III SMA Bandung, lalu belajar memotret. Namun urusan baru rampung setelah istrinya turun tangan. Ibu 4 orang anak ini menulis surat pernyataan bahwa suaminya betul pekerja film, bukan mahasiswa.
 
Tak betah menetap di suatu tempat, setelah 5 tahun bekerja sebagai pembantu juru kamera di Sanggabuana Film, ia pindah ke Anom Pictures. Hanya setahun, Luk, nama panggilannya pindah lagi ke Gema Masa Film. Setelah itu, ia memutuskan untuk berdiri sendiri sebagai juru kamera lepas. Perkenalannya dengan Wim Umboh membuat Luk betah bekerjasama dengan sutradara itu. Ia banyak membantu pembuatan film-film Wim, yang pada gilirannya memberi banyak peluang baginya untuk memenangkan Piala Citra.
 
Tahun 1974 ia melangkah sejenjang, dipercayai sebagai sutradara untuk film Dikejar Dosa. Kemudian disusul film-film berikutnya, antara lain Malam Pengantin, dan Cinta Rahasia ditahun 1976. Ia adalah juru kamera film nasional yang paling banyak menerima Piala Citra.
 
Film Perkawinan yang paling banyak meninggalkan kesan buat Luk. Untuk opname film tersebut, ia mendapat kesempatan keliling Eropa, Zurich, Amsterdam, Paris, Jenewa, juga ke Tokyo. Tapi selama keliling Eropa itu ia terus deg-degan kalau shooting ketemu polisi. Soalnya disana mereka tak pernah melapor, apalagi minta izin mau opname film, seperti kebiasaan di Indonesia. Padahal oleh petugas disana ditanya saja pun tak pernah, apa lagi ditegur.
 
 
(Dari Berbagai Sumber)

You may also like...

Leave a Reply