M. Balfas


Penulis
M. Balfas                      
 
 
 
Penulis asal Betawi kelahiran Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat, 25 Desember 1922 ini, menamatkan pendidikan di MULO pada tahun 1940 dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai drama di Belanda (1954). Selepas sekolah, ia bekerja sebagai pegawai pada Ekonomishe Zaken. Pekerjaan itu dijalaninya selama tiga tahun (1940-1943). Antara tahun 1946 -1947, ia menjadi redaktur majalah Masyarakat, Gema Suasana (1948-1950), dan Siasat (1954). Ditahun yang sama, bersama dengan Sudjati S.A., M. Balfas mendirikan majalah Kisah, sebuah majalah yang khusus menerbitkan cerita pendek. Pada majalah tersebut, M. Balfas (bersama dengan H.B. Jassin dan Idrus), ia menjadi redaktur selama empat tahun, hingga majalah tersebut berhenti terbit pada tahun 1956.
 
Selanjutnya, di tahun 1961, bersama dengan H.B. Jassin, M. Balfas kembali menerbitkan majalah baru, yang diberi nama Sastra. Majalah ini memiliki garis kebijakan yang persis sama dengan majalah Kisah. Namun, pekerjaan sebagai redaktur itu pun akhirnya ia tinggalkan karena M. Balfas pergi merantau ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk bekerja. Setelah tinggal beberapa lama di Kuala Lumpur, ia akhirnya memutuskan hijrah ke Australia. Di Australia ia mendapat pekerjaan, menjadi dosen di University of Sydney. Statusnya sebagai dosen tersebut dijalaninya sejak tahun 1967 hingga akhir hayatnya.
 
Dalam sejarah sastra Indonesia, M. Balfas digolongkan sebagai salah seorang pengarang prosa tahap kedua dalam Angkatan ‘45, selain Barus Siregar, Rusman Sutiasumanga, dan Aoh Karta Hadimadja (Teeuw, 1980). Cerpen-cerpennya, sebelum dikumpulkan dalam ‘Lingkaran-Lingkaran Retak’, dan pernah dimuat dalam berbagai majalah. Dua dia antaranya, bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan dimuat dalam majalah Orientatie (Jassin, 1954).
 
Karya-karya Balfas banyak bercerita tentang keadaan disekitarnya, sebuah dunia yang benar-benar diakrabinya. Dalam cerpen ‘Anak Revolusi’, misalnya, ia secara berterus terang mengakui bahwa tokoh Ama adalah teman bermainnya waktu kecil dulu, salah seorang anak yang sudah harus membantu orang tuanya mencari nafkah sehingga menjadi anak yang ‘matang’ sebelum waktunya. Begitu pula dalam ‘Rumah di Sebelah’. Balfas pun secara terang-terangan melukiskan sifat-sifat dan keadaan kampung halamannya sewaktu ia masih kecil dulu, yaitu kampung Krukut.
 
Selain menulis prosa, khususnya cerita pendek, Balfas juga menulis cerita anak-anak, novel, naskah drama, satu dua sajak, biografi dan esai. Karyanya tersebut antara lain; ‘Anak-anak Kampung Jambu’ (Cerita Anak, 1960), ‘Retak’ (Novel, Kuala Lumpur, 1965), ‘Tamu Malam’ (drama, 1957), ‘Dr. Tjipto Mangunkusumo’ (biografi, 1952) dan ‘Lingkaran-Lingkaran Retak’ (kumpulan esai, 1952).
 
Muhammad Balfas wafat di Jakarta, 5 Juli 1975 dalam usia 52 tahun, karena sakit.
 
(Dari Berbagai Sumber)
 

Nama :
Muhammad Balfas
 
Lahir :
Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat, 25 Desember 1922
Wafat :
Jakarta, 5 Juli 1975
 
Pendidikan :
MULO (1940),
Memperdalam pengetahuan Drama di Belanda (1954)
 
Karier :
Pegawai Ekonomishe Zaken
 (1940-1943),
Readaktur Majalah Masyarakat (1946 -1947),
Redaktur Majalah Gema Suasana (1948-1950),
Pendiri dan Redaktur Majalah Kisah  (1952-1956),
Redaktur Majalah Siasat (1954),
Pendiri dan Reaktur Majalah Sastra (1961),
Dosen University of Sydney, Australia (1967-1975)  
 
Karya :
Dosa Tak Berampun
(majalah Lenita, No. 11, Th. 1, November 1951),
Kampung Tjawang
 (majalah Orientatie, No. 44, Januari-Juni 1952),
Lingkaran-Lingkaran Retak (kumpulan esai, 1952),
Dr. Tjipto Mangunkusumo
 (biografi, 1952),
Suling Emas (Cerita AnaK, 1956),
Tamu Malam (drama, 1957),
Orang-orang Penting
 (mingguan Star Weekly, No. 610, Th. XII, 7 September 1957),
Anak-anak Kampung Jambu
(Cerita Anak, 1960),
Retak (Novel, 1964)

You may also like...